Opini

Ulama dan Istana

Oleh: Zainal Abidin Amir

USTADZ Abdul Somad (UAS) meminta agar Prabowo Subianto jika kelak terpilih sebagai Presiden tidak mengundangnya ke Istana. Ini adalah poin yang dikatakan UAS saat bertemu Prabowo kemarin. Ulama jangan datang ke Istana tapi sebaliknya Pemimpin/Presiden yang mendatangi Ulama.

UAS mengutip maqolah (nasihat) itu yang terkenal di banyak kitab saat menceritakan relasi antara ulama dan umara yang pada waktu itu dikendalikan sepenuhnya oleh Raja.

Dalam konteks Indonesia merdeka, yang berdaulat dan menganut prinsip demokrasi, kekuasaan Presiden tidak tak terbatas. Ada lembaga-lembaga lainnya yang mengontrol kekuasaan Presiden.

Sejarah mencatat bahwa relasi Presiden (umara) dan ulama di Indonesia terjalin dengan baik. Al Imam Habib Alwi bin Muhammad Al Haddad seorang ulama besar dari Kramat Empang Bogor pernah datang sekali ke Istana karena diminta nasihatnya oleh Bung Karno.

Kyai Wahab Hasbullah Rois Aam PBNU di masanya menjalin hubungan yang sangat akrab dengan Bung Karno dan Karena itu ia sering berkunjung ke Istana. Masjid Baiturrahman yang ada di kompleks Istana adalah hasil bisikan Kyai Wahab kepada Bung Karno. Kyai Idham Chalid pengamal dan guru tarekat Qodiriyah dan Naqsabandiyah juga dekat dengan Istana era Bung Karno.

Kyai As’ad Syamsul Arifin pendiri Pesantren Sukorejo Situbondo yang termasuk salah satu pendiri NU pernah datang ke Istana karena diundang oleh Presiden Suharto. Kyai As’ad yang tergolong Pahlawan Nasional ini dikenal keras dan taat syariat, selain masyhur kealimannya lahir dan batin. Imam kaum Ahlussunah wal Jama’ah Abad 20 Prof. Dr. Sayyid Muhammad bin Alwi Al Maliki yang mempunyai ribuan murid ulama di Indonesia pernah berkunjung ke Istana karena diundang Presiden Suharto juga.

Zaman Gus Dur menjadi Presiden lebih banyak lagi ulama NU bersilaturahmi ke Istana, mereka datang tanpa memikul kepentingan yang aneh-aneh sehingga martabat keulamaannya tetap terjaga.

Zaman Presiden Ibu Megawati juga begitu. Menteri agamanya adalah seorang ahli ilmu Al Qur’an dan Hadits dari kalangan habaib, yang tentunya sering keluar masuk istana.

Presiden SBY mengundang ulama datang ke istana dan membentuk Majlis Dzikir SBY yang dipimpin oleh orang yang tergolong ulama. Bahkan ia menjadikan Kyai Ma’ruf Amin sebagai salah seorang penasihatnya di bidang agama,

Di era Presiden Jokowi ulama diterima dengan sangat baik di istana. Bahkan Jokowi adalah Presiden yang terbilang paling sering mengundang ulama, dan komitmennya yang tinggi terhadap keagamaan di antaranya diwujudkan dengan membetuk Majlis Zikir Hubbul Waton yang digagas oleh Ulama dan Sang Presiden menjadi Ketua Komite Nasional Keuangan Syariah,

Nama-nama di atas adalah sebagian ulama yang datang memenuhi undangan Istana. Semua umat Islam memandang bahwa mereka mampu menjaga integritas dan moralitas ulama.

Karena itu ulama yang datang ke Istana yang tentunya atas undangan Presiden tidak bisa disederhanakan sebagai kekurangan ulama, atau cacat yang mendegradasi wira’i-nya atau otomatis menjadi penjilat kekuasaan.

Datang atau tidak ke Istana karena memenuhi undangan itu adalah akhlak, dengan bertemu pemimpin nasional sebenarnya banyak hal yang bisa disampaikan dalam kerangka amar makruf nahi mungkar yang menguntungkan agama dan umat. Hal inilah yang luput dari penglihatan ustadz UAS.

Ustadz UAS adalah dosen di sebuah IAIN, karenanya dia adalah ASN yang mestinya tunduk terhadap aturan (UU ASN) Mestinya kalau mau konsisten dan taat aturan dia tidak perlu bertemu capres dan cawapres siapa pun yang kedatangannya bertepatan dengan masa kampanye. Persepsi publik ustadz UAS sedang mengkampanyekan capres tertentu. Ustadz sedang berpolitik kendati tidak mengakuinya.

* Zainal Abidin Amir, Wadir Program TKN Jokowi-Ma’ruf

KOMENTAR
Tags
Show More
Close