Nasional

Ulama Banten: Tak Baca Shalawat, Khotbah Jumat Menag di Istiqlal Tak Sah

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Ulama Banten, KH Imaduddin Utsman menyoal khotbah yang disampaikan Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi saat menjadi khatib shalat Jumat di Masjid Istiqlal, Jakarta pada Jumat (1/11/2019) lalu. Menag tak membaca shalawat pada khotbahnya itu.

Imaduddin, pengasuh pondok pesantren Nadhlatul Ulama (NU), Kresek, Kabupaten Tangerang itu menilai, shalat Jumat tersebut tidak sah karena kurang rukun khotbah.

Immaduddin pun menyarankan agar jamaah yang salat Jumat saat itu untuk melaksanakan qada shalat Zuhur.

“Khotbah yang dibaca Menteri Agama itu, setelah saya dengarkan rekamannya, tidak ada baca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Sedangkan baca shalawat itu salah satu rukun dari lima rukun khotbah. Rukun khotbah itu pertama harus ada hamdalah, kedua harus ada shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, ketiga harus ada wasiat ketakwaan,” papar Immanuddin, Senin (4/11/2019).

Ketiga rukun itu, tambahnya, harus ada di kedua khotbah, baik khotbah pertama maupun kedua. Sementara, rukun keempat harus ada doa untuk orang mukmin pada khotbah kedua, dan kelima harus ada ayat Alquran yang dibaca di salah satu khotbah.

Karena tidak terpenuhinya rukun khotbah itu, Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nadhlatul Ulama (PWNU) Banten ini mengharapkan, Pengurus Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Istiqlal mengumumkan kepada jamaah yang melaksanakan shalat Jumat tersebut untuk melaksanakan shalat Zuhur di rumah masing-masing sebagai pengganti dari salat Jumat yang tidak sah tersebut.

“Karena shalat Jumatnya tidak sah, harus dilaksanakan qada, dan qadanya adalah shalat Zuhur di rumah masing-masing. Bukan dua rakaat tapi empat rakaat. Dan niatnya bukan qada salat Jumat, tapi qada salat Zuhur,” jelasnya.

Selain itu, ia juga mengimbau kepada pengurus DKM dimana pun, agar tidak sembarangan mempersilahkan pejabat negara untuk naik mimbar khotbah Jum’at.

“Karena akan berkonsekuensi sah dan tidak sahnya shalat Jumat. Apalagi bacaan arabnya tidak standar dan tidak memenuhi hukum tajwid,” ujarnya.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close