Opini

Tulip: Bunga Indah Asli Turki!

Catatan Perjalanan dari Dunia Islam

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

TULIP asli dari Belanda?”

“Keliru!” Demikian jawaban  John Mandaville. Dalam sebuah tulisannya berjudul “Turbans and Tulips” (Saudi Aramco World, Mei/Juni 1977). Lebih lanjut Mandaville  mengemukakan, “Setidaknya, asal usul itu tak benar. Tulip berasal dari Turki: negeri satu-satunya di dunia yang menyebut salah satu periode sejarah nasionalnya-antara 1700-1730 M-sebagai “Periode Tulip”.

Kini, bagaimana kisah perjalanan hidup tulip yang sebenarnya?

“Ketika Muhammad Al-Fatih menundukkan Istanbul,” tulis İskender Pala dan Kaya-Münevver Uçer dalam tulisannya berjudul “Lover with Burning Breast” (Skylife, April 2010 M), “kala itu sedang musim bunga tulip. Namun, kala itu, di kota itu bunga tulip belum lagi menghiasi kota itu. Sebab, orang-orang Byzantium tak akrab dengan bunga itu. Orang-orang Turkilah yang membawa bunga tulip dari padang steppa di Asia Tengah. Juga, membawanya ke mana mereka mengayunkan langkah. Selepas penaklukan Istanbul, Al-Fatih kemudian merayakannya dengan menggelar deretan lentera dan bunga tulip warna-warni di tepi Golden Horn. Setiap tahun ketika musim bunga tulip tiba. Belakangan, bunga tulip nan menawan ikut memperelok hari ulang tahun penaklukan Istanbul. Di pentas-pentas yang didirikan di tepi Sadabad, Golden Horn, Istanbul.”

Kini, mungkin, dalam benak Anda “menggeliat” pertanyaan, “Mengapa orang-orang Turki menyenangi tulip?”

Ternyata, orang-orang Turki menyenangi tulip bukan hanya karena keindahannya semata. Tetapi, juga karena hal lain. “Setiap tahun, setiap tangkai tulip menghasilkan satu bunga,” papar İskender Pala dalam sebuah tulisannya berjudul “Lale Güzellemesi”. “Hal itu mengungkapkan keesaan Allah. Lagi pula, bentuk tulip mirip huruf alif dalam alfabet Arab: simbol monoteisme. Semua karakteristik itu membuat tulip dikaitkan dengan bentuk pengabdian dalam masyarakat di masa pemerintahan Dinasti Usmaniyah. Tulip juga dipandang sebagai bunga unik. Yang mengungkapkan eksistensi Allah. Rahasia keindahan tulip diatributkan pada karakteristik ini.”

Nah, kini bagaimana kisahnya sehingga bunga tulip kemudian menyebar ke Eropa, utamanya di Belanda?

“Duta besar Austrialah, Oghier Ghislain de Busbecq, yang berjasa membawa bunga tulip ke Eropa semenjak 1558 M,” jawab Gul Demir dan Niki Gamm. Dalam sebuah tulisannya berjudul “Noble Flower: Past, Present, Future of Tulips in Turkey”, (Hurriyet Daily News, 13 Maret 2010). “Bunga-bunga itu pertama kali disaksikan tumbuh di sebuah taman di Vienna pada tahun berikutnya. Dari ibu kota Austria itulah tulip kemudian menyebar. Ke berbagai penjuru Eropa. Lantas, pada 1562 M, seorang pedagang dari Amsterdam, Belanda mulai mengimpor pertama kali tulip. Dari Istanbul!”

Sebelum itu, tepatnya pada 1550 M, tiada seorang pun di Belanda pernah mendengar perihal tulip. Berbagai varietas tulip, memang, tumbuh liar di Afrika Utara. Dan dari Yunani dan Turki tulip kemudian berkembang ke Afghanistan dan Kashmir. Kadang, tulip pun didapatkan di Perancis Selatan dan Italia. Biasanya di kebun anggur atau ladang. Tak aneh bila beberapa ahli botani memperkirakan, tulip  dibawa oleh Pasukan Salib ke-2 negeri itu. Orang-orang Persia pun akrab dengan tulip. Namun, mereka tidak membudayakannya. Sebagaimana orang-orang Turki. Selama berabad-abad mereka lebih mengagumi bunga liar. Malah, bunga narsiscus, iris, dan mawar lebih populer sebagai motif-motif dekorasi di Persia.

Di Turki berbeda. Orang-orang Turki membudayakan tulip di tempat pembenihan atau di kotak-kotak. Di samping jendela. Selain itu, mereka pun menjadikan tulip sebagai pola tekstil dan karpet, keramik, bangunan, air mancur. Malah, nisan untuk kaum perempuan. Sebutan tulip dalam bahasa mereka adalah lale. Tetapi, ada kosakata Turki lain, yaitu dulband yang berarti turban (surban) yang menjadi akar sebutan dalam bahasa Inggris bagi bunga yang satu itu. Mungkin, sebutan yang demikian karena bentuk bunga itu mirip serban.

Dalam perkembangannya selanjutnya, pada periode antara 1130-1142 H/1718-1730 M, pada masa pemerintahan Sultan Ahmad III dan menantunya, Damad Ibrahim Pasya, tulip memainkan peran penting dalam sejarah Turki. Karena itu, periode itu disebut “Periode Tulip”. Pada periode itu, tulip mewarnai berbagai sisi kehidupan di negeri ini. Termasuk di di bidang seni, folklor, dan kehidupan sehari-hari. Malah, kala itu, tulip pun menghiasi berbagai hasil kerajinan tangan papan atas Turki. Selain itu, festival demi festival tulip digelar di berbagai penjuru negeri.

Kala itu, istana sang sultan memiliki sebuah dewan khusus untuk membudidayakan tulip. Dewan itu dipimpin seorang Turki yang juga kepala perangkai bunga istana. Tugasnya adalah memberikan penilaian terhadap kualitas berbagai jenis tulip dan memberikan nama yang indah dan puitis bagi bunga-bunga itu. Namun, hanya bunga-bunga yang memiliki kualitas sempurna yang dapat dimasukkan dalam daftar jenis-jenis tulip itu. Yaitu, tulip yang memenuhi standar ukuran tinggi dan kerampingan kelopak bunganya, bentuk helaian kelopaknya runcing dan jarak antar helaiannya sempit, dan helaian kelopaknya harus halus tapi kuat, satu warna, ukuran lebar dan panjangnya pas.

Namun, selepas terjadinya pemberontakan Pasukan Janissary di bawah pimpinan Patrona Halil, pada 1142 H/1730 M (yang membuat Sultan Ahmet III digantikan Sultan Mehmet I), Periode Tulip berakhir. Sejak itu, tulip tak lagi mendapatkan perhatian. Di sisi lain, budi daya tulip di Belanda mulai berkembang cepat. Akhirnya, tulip kemudian lebih dikenal sebagai “produk asli” Belanda. Baru pada tahun-tahun 1980-an, atas inisiatif walikota Istanbul kala itu, Bedrettin Dalan, di Turki mulai muncul kembali perhatian terhadap tulip. Pada tahun-tahun selanjutnya, tulip kembali berhasil mendapatkan sambutan hangat dari warga Istanbul. Hingga dewasa ini. Tak salah bila kini Istanbul dapat dikatakan sebagai kota yang berhiaskan bunga tulip. Pada setiap bulan April dan Mei.

Selain itu, menurut de Busbecq dalam memoarnya, sebutan “tulip” (yang dalam bahasa Latin disebut tulipa, dalam bahasa Inggris disebut tulip, dalam bahasa Jerman disebut tulp, dan dalam bahasa Perancis disebut tulpe) dalam bahasa Turki adalah tulipan. Nah, kosakata “tulipan” tersebut berasal dari kosakata tülbent yang berarti surban. Yaitu kain muslin yang dililitkan dan digunakan sebagai pelindung kepala orang-orang Turki kala itu. Tak aneh bila foto atau gambar para sultan Turki kita cermati, akan tampak serban mereka laksana bentuk bunga tulip. Dengan kata lain, Kota Istanbul yang menawan pernah menjadi kota berhiaskan tulip dan serban. Sangat indah!

 

KOMENTAR
Tag
Show More

Check Also

Close
Back to top button
Close
Close