Opini

Tukang Demo ‘Naik’ Haji

Oleh Farid Mustofa

NAIK HAJI! Itulah cita-cita Arief Budiman yang belum tercapai hingga akhir hayatnya. Keinginan Arief terganjal karena ia -dalam lima tahun terakhir hidupnya– menderita penyakit Parkinson yang melumpuhkan saraf-sarafnya. Secara berseloroh, di tengah deraan sakit Parkinson, Arief bilang kepada wartawan yang menjenguknya di Salatiga: “Saya sudah naik haji” -sambil melirik istrinya Hajah Leila Chairani. Sang istri pun tersenyum.

Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul di hatiku, pentingkah naik haji bagi seorang sosialis seperti Arief Budiman? Aku teringat kisah seorang miskin yang ingin naik haji yang sering disampaikan kyai di kampungku.

Konon, ada seorang miskin, pedagang asongan, bercita-cita naik haji. Ia menabung sedikit-demi sedikit dari keuntungan dagangannya yang tidak seberapa.

Setelah puluhan tahun, tabunganya cukup untuk biaya naik haji.
Sang pedagang asongan pun dengan berbekal uang tersebut, berangkat ke Mekah. Tapi, tiba-tiba, di jalan ia melihat seorang perempuan tua miskin sedang sakit. Ia pun berhenti dan berusaha menolongnya. Ia membeli obat-obatan dan makanan untuk perempuan tua itu. Tak terasa, uangnya hampir habis. Tak cukup untuk melanjutkan perjalanannya ke Mekah. Pedagang asongan pun pulang. Urung pergi ke Baitullah.

Beberapa haari kemudian, usai musim haji, sang pedagang asongan kedatangan tamu, seorang ulama besar. Ia kaget luar biasa.

“Andakah yang bernama Fulan?” – kata ulama itu.

“Benar tuan. Aku Fulan,”

“Anda baru pulang ibadah haji?”

“Tidak tuan. Aku batal menunaikan ibadah haji. Uangku habis untuk membantu prempuan tua yang sakit dan lapar,”

Tiba-tiba ulama itu memeluk Fulan. Ia terkejut, kenapa ulama besar itu memeluknya.

“Ketahuilah Fulan, aku bermimpi bertemu Rasulullah. Rasul memberi tahu, bahwa di musim haji baru lalu, tak ada seorang pun umat Islam yang ibadah hajinya diterima Allah. Kecuali engkau,”

“Ha?” Pedagang asongan pun terkejut luar biasa.

“Benar saudaraku. Meski kau tidak sampai ke Mekah, tapi niatmu dan sedekahmu untuk naik haji, justru diterima Allah. Tuhan telah menganggapmu naik haji. Dan ibadah hajimu diterima Allah. Kau telah menjadi haji mabrur dengan sedekahmu untuk membantu perempuan tua miskin itu,”

Gedubrak! Pedagang asongan pun terjatuh. Saking kaget dan senangnya. Sampai ia wafat. Konon, ulama tersebut, di malam berikutnya bermimpi, si Fulan masuk sorga. Karena hajinya mabrur. Allah menyukai ibadah hajinya.

Arief Budiman, si tukang demo, pinjam Goenawan Mohamad, adalah tokoh pembela orang miskin. Ia, misalnya, mengorganisir sejumlah LSM untuk membela kaum dhuafa. Saat pembangunan waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah dimulai, 1985, misalnya, Arief membela rakyat kecil. Yang tanahnya dirampas oknum pemerintah. Tanpa ganti rugi layak untuk pembangunan waduk.

Tahun 1972, Arief sampai “diculik” aparat keamanan karena memimpin demonstrasi untuk membela rakyat yang tanahnya “dirampas” rejim Orde Baru guna membangun Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Arief memang tidak membantu orang sakit dan kelaparan langsung di tempat. Tapi ia membantunya secara struktural dan secara hukum, agar korban kekejaman rejim bisa mendapatkan hak-haknya.
Dan oknum koruptor yang mencuri uang rakyat tersebut mendapat hukuman setimpal. Semua itu dalam rangka menegakkan keadilan. Catat, Islam adalah agama yang sangat peduli dengan keadilan. Sayidina Ali menyatakan, tegakkan keadilan meski langit runtuh.

Arief niscaya suka mendengar cerita haji mabrur pedagang asongan tersebut. Kenapa? Tuhan lebih melihat hakikat dari simbol ibadah yang membebaskan manusia dari penderitaan. Bukan praktik ritual ibadahnya semata. Dalam kondisi kritis, seperti cerita tadi, Allah lebih menghargai hakikat haji secara kemanusiaan, ketimbang ritual kehadiran jamaah di Mekah dan Madinah.

Menurut Ali Syari’ati, ibadah haji adalah simbol kembalinya fitrah manusia menjadi makhluk sosial. Jemaah haji memakai baju putih, warna kesucian, yang tidak dijahit –simbol ketulusan, tanpa rekayasa, dan jahitan ambisi. Jamaah haji menyembelih hewan kurban, simbol penyembelihan hawa nafsu dan angkara murka. Jamaah haji melempar jumrah di aqabah, simbol pelemparan niat jahat syaithoniyah. Jamaah haji mengeliling Ka’bah simbol kepatuhan manusia kepada hukum alam, seperti elektron yang berputar mengelilingi inti atom.

Haji adalah ibadah yang menyimbolkan kehidupan masyarakat sosialis. Masyarakat yang guyub saling membantu. Bukan simbol masyarakat kapitalis yang individual. Jika saja “si tukang demo itu naik haji” –niscaya kepeduliannya kepada rakyat terpinggirkan dan tertindas, tidak hanya mengguncang rejim, tapi juga mengguncang langit.

Seluruh malaikat akan mendoakannya, agar tukang demo itu masuk sorga. Bahkan ketika tukang demo itu belum naik haji karena kendala Parkinson, niat hajinya –setelah berkali-kali gagal karena waktunya habis untuk membela rakyat terindas dan terakhir gagal karena kesehatannya –niscaya niat hajinya sudah dinilai sebagai ibadah haji sungguhan. Seperti kisah pedagang asongan tadi.

Barangkali, itulah sebabnya, seumur hidupnya Rasulullah menunakan ibadah haji hanya sekali. Catat: hanya satu kali. Ini karena hakikat haji adalah “latihan praktik spiritual” umat Islam untuk menjadi manusia sosial. Manusia yang peduli sesamanya.

Tapi, bagaimana umat Muhammad sekarang? Banyak yang naik haji berkali-kali. Mungkin karena kelebihan uang. Atau, mungkin agar kelihatan kaya dan bertakwa. Padahal, uang untuk naik haji yang kedua, ketiga, dan seterusnya akan jauh lebih bermanfaat dan disukai Allah, jika dipakai untuk membantu orang miskin memenuhi kebutuhan hidupnya.

Almarhum KH Ali Mustafa Yaqub, Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta dalam kolomnya di Majalah Gatra edisi 10, menyindir, orang yang naik haji berkali-kali sebagai pengabdi setan. Ia tak hanya melecehkan Sunah Rasul, yang hanya sekali naik haji, tapi juga tak peduli pada penderitaan sesama manusia. Biaya haji kedua, ketiga, dan seterusnya jauh lebih baik dipakai untuk membantu fakir miskin, ketimbang dipakai untuk “menyembah setan”. Wallahu a’lam.

Dosen Fakultas Filsafat UGM/Kandidat Doktor Filsafat Universitas Leipzig, Jerman

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close