Tuhan Maha Ironi

Tuhan Maha Ironi
Syaefudin Simon

Oleh Syaefudin Simon

AKU paling terkesan ketika Gus Dur menyatakan Tuhan Maha Humor. Tuhan Maha Humor ini tampaknya dirasakan Gus Dur yang hobi mencari hal-hal yang lucu dalam kehidupan.  Aku dalam beberapa tahun terakhir ini merasakan banyak sekali ironi dalam kehidupan. Terus aku mikir,  kok Tuhan begitu banyak menciptakan hal hal ironis dalam kehidupan. Sehingga aku sampai pada kesimpulan Tuhan itu Maha Ironi. Menciptakan buaanyyaak sekali hal hal yang ironis.

Ambil contoh gampang, kuda. Kuda ini binatang ironis. Ia hanya makan rumput. Makanan yang sering dianggap murahan dan tidak bergizi. Tapi faktanya, kuda adalah binatang yang fisiknya kuat, seksnya kuat, alat vitalnya besar, tenaganya besar. Bahkan jadi icon kekuatan tenaga dan seks.

Di dunia burung misalnya banyak sekali hal ironis. Banyak sekali  burung yang kelihatan lemah tapi ternyata mampu terbang sejauh 5000 km tanpa istirahat. Ia tidur dengan memakai satu mata bergantian di udara. Burung-burung macam ini malah sering diburu oleh orang Cirebon kalau sedang istirahat di Pantura dalam perjalanannya dari Siberia ke Australia. Ironis.

Agama-agama besar seperti Islam dan Kristen berkembang ke seluruh dunia justru ketika dijadikan alat politik oleh raja raja dzalim, haus kuasa, dan ekspansionis. Ironis.

Pengikut agama Yahudi paling sedikit. Tapi manusia manusia hebat dalam dunia sains, teknologi, filsafat, dan ekonomi mayoritas dari  bangsa Yahudi. Ironis.

Ironi yang kini sedang ramai di medsos adalah tentang Nikita Mirzani dan Habib Rizieq. Semua tahu Nikita Mirzani adalah artis paling kontroversial. Blak blakan ngaku pernah tidur dengan orang-orang yang bukan suaminya, kasar ucapannya, bahkan berani menentang FPI dan mengatakan Habib Rizieq adalah tukang jual obat. Ia tak takut dgn orang FPI.

Sampai-sampai ada yang menobatkan Mirzani adalah pahlawan yang membebaskan Indonesia dari penjajah kadrun. Tapi tak banyak orang tahu Nikita Mirzani adalah artis yang sangat peduli terhadap dai-dai di daerah terpencil dan marjinal sehingga ia tak segan mengeluarkan uang milyaran rupiah untuk mbantu kehidupan dai dai terpencil tersebut. 

Aku punya pengalaman berteman dengan wanita freesex. Li namanya. Li bangga sekali kalau menceritakan prestasi hidupnya. Yaitu pernah memperkosa pria ganteng waktu masih kuliah di Jember. Ia mengaku beberapa kali memperkosa lelaki.

Cewek ini badannya kecil mungil, tapi nafsu seksnya -- ini pengakuan dia -- luar biasa. Setiap main di ranjang, ia bisa orgasmus 16 kali. Gila. Yang mengejutkan waktu mampir ke gedung DPR, ia tak mau menggunakan telpon gratis di ruang DPR yang selama ini sering dipakai oleh staf DPR untuk nelpon teman temannya di seluruh dunia.

Li bilang, telpon ini gratis tapi untuk keperluan wakil rakyat dan dibiayai APBN. Aku tak mau pakai telpon ini meski tak ketahuan siapa pun. Jika aku pakai telpon ini, kata Li,  berati aku mencuri uang rakyat. Luar biasa logika antikorupsinya.

Sebaliknya aku punya teman yang fasikh bicara agama, kelihatan moralis, bicara dan dakwah tentang  ahlakul karimah, tapi sejatinya dia orang jahat. Suka menindas, suka makan uang haram, suka melacur, dan macam-macam kelakuan yang kontras dengan apa yang diucapkan.

Orang Jawa  menyebut orang seperti ini dengan istilah  kyai Jarkoni. Kyai yang  iso ujar ning ora nglakoni. Karena permainan sandiwaranya, tokoh Jarkoni ini sering dielu-elulan massa. Banyak pengikutnya. Ironinya kyai macam ini tak segan bicara revolusi moral dan susila...padahal dalam kehidupan sehari-harinya amoral dan asusila. Ironi.

Dari gambaran di atas, hikayat tentang pelacur masuk sorga dan ulama masuk neraka menemukan relevansinya. Tuhan memang Maha Ironi.

*Simon Syaefuddin, kolumnis, tinggal di Bekasi.