Catatan dari Senayan

Tsunami di Selat Sunda dan Warning dari London

Tsunami akhir pekan lalu menghantam pantai di Selat Sunda. Ratusan nyawa melayang dan seribu lebih warga terluka. Kita semua segenap anak bangsa berduka atas musibah itu. Ini kejadian ketiga menyusul musibah gempa di Lombok dan gempa-tsunami di Sulawesi Tengah beberapa waktu yang lalu. Rentang waktu antara ketiga musibah satu dengan lainnya tak terlalu jauh.

Kini perhatian, kepedulian, dan simpati kita terfokus ke ķawasan pantai utara Jawa dan pantai Selatan Pulau Sumatera itu. Keduanya juga dikenal dengan Selat Sunda. Anak Krakatau yang berada di antaranya pun tak luput dari perhatian. Karena dari amuk Anak Krakatau itulah semuanya bermula.

Lalu terlintas kisah perjalanan Anak Krakatau dan gunung induknya Krakatau. Beberapa bulan yang lalu, tepatnya pada bulan Juli, saya kebetulan berkunjung ke sebuah museum terkemuka di London, yakni Natural History Museum. Seperti ada yang nenggerakkan mata saya memelototi data yang tersaji di situ tentang Gunung Krakatau. Ratusan pengunjung museum lainnya yang datang dari berbagai negara berjejal melihat sejarah Krakatau dan dampaknya yang luar biasa. Apalagi di ruang khusus gempa dan tsunami di situ gambar tersaji dalam tiga dimensi disertai dengan video gempa, dan audio letusan dahsyat itu.

Entah karena terpukau, sepulang dari Museum yang berlokasi di kawasan South Kensington London itu saya terkesan dengan letusan Giunung Krakatau yang tercatat sebagai letusan besar pada 27 Agustus 1883. Letusan terdengar hingga 3.000 mil jauhnya, menimbulkan setidaknya 36.417 korban jiwa; 20 juta ton sulfur dilepaskan ke atmosfer; menyebabkan musim dingin vulkanik (mengurangi suhu di seluruh dunia dengan rata-rata 1.2 °C selama 5 tahun); dan letusan gunung api paling dahsyat dalam sejarah “Prestasi” angka tersebut terus saya ingat hingga kemudian datang amuk Anak Krakatau yang mengakibatkan hantaman tsunami pada akhir pekan lalu.

Isi Natural History Museum yang maha luas itu sebenarnya sangat beragam. Ada flora, fauna, planet luar angkasa, dan lainnya. Yang menarik pengunjung antara lain kerangka binatang purba dinosaurus, cerita hancurnya Nagasaki dan Hiroshima pada Perang Dunia II hingga dahsyatnya letusan Krakatau di masa silam. Lima bulan kemudian setelah kunjungan saya ke museum, Anak Krakatau mengentakkan amarahnya menghantar tsunami yang mengempaskan ratusan jiwa manusia dan meluluhlantakkan berbagai bangunan di pantai Carita, Anyer, Tanjung Lesung, dan Lampung Selatan, saya tercenung, sesungguhnya sudah ada pelajaran yang jelas betapa bahayanya Gunung Krakatau beserta anaknya.

Sejarah seakan dilupakan. Mengapa tiba-tiba kita semua tergagap menghadapi musibah akhir pekan lalu. Early warning dari BMKG konon hanya terdengar samar beberapa jam sebelum tsunami mengempas. Alat pendeteksi konon sudah sekitar setahun tidak berfungsi. Bahkan seorang pakar tsunami dari ITB yang mengingatkan akan datangnya tsunami pada April 2018 malah ditegur polisi. Sementara BMKG berdalih kurang efektifnya early warning karena sejumlah peralatan yang ada kurang berfungsi.

Entah benar atau tidak, seorang dosen UGM menulis surat terbuka. Dia menilai banyaknya korban jiwa saat amuk Anak Krakatau terjadi menurut dia karena buruknya kinerja BMKG. Sang dosen meminta aparat BMKG yang ada saat ini dirombak total agar kinerjanya lebih baik. Bisa saja penilaian itu salah. Tapi tak ada salahnya kritik itu diperhatikan dan dilihat kenyataaannya.

Mengapa kalau BMKG sudah memberi warning, aparat tidak melarang semua aktivitas di pinggir pantai-pantai Pandeglang, Carita dan lainnya. Atau mengevakuasi semua yang berada di radius sekian ratus atau ribu meter dari bibir pantai. Pertunjukan musik di bibir pantai masih juga diizinkan. Mengapa warga setempat dan pengunjjung pantai juga abai akan peringatan BMKG?

Konsentrasi dan perhatian kita seolah hanya tersedot oleh riuh rendah isu politik menghadapi Pemilu 2019. Perbincangan khakayak dan pemberitaan media massa hanya tertuju pada Pemilu. (*)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close