Tsunami Covid-19 di India: Akankah Menerjang Indonesia?

Tsunami Covid-19 di India: Akankah Menerjang Indonesia?

Oleh Dr. H.M. Amir Uskara, MKes

Satgas Covid-19 meradang. Penyebabnya, Indonesia kebanjiran "turis India". Kedatangan turis India ini jelas anomali. Karena timingnya tidak tepat --  bukan di musim liburan. Warga Yogya, juga melalui sosmed heran -- kenapa orang India banyak berseliweran di Maliobora dalam beberapa pekan terakhir.

Ternyata, Indonesia jadi lokasi "pelarian" warga India dari serbuan Covid-19. Mereka takut  terkena serbuan virus Corona yang makin menggila di India dalam dua bulan  terakhir. Maklum negeri Gandhi ini, kini tengah menghadapi gelombang kedua pandemi yang amat dahsyat -- lebih dahsyat dari gelombang pertama awal tahun 2020.

Worldometers mencatat, total kasus aktif di India  615.798 orang, awal April lalu. Sampai 19 April, kasus positif tersebut bertambah jadi  2.030.944 orang. Pertambahannya dalam tiga pekan 330 persen. Luar biasa. Pada Kamis (22/4/2021) India mencatat jumlah kasus positif fantastik: 314.835 orang terinfeksi corona dalam sehari. 

Saking banyaknya, jumlah pasien Covid-19 di rumah sakit, tabung oksigen kehabisan. Jenazah menumpuk di depan rumah sakit, tak tertangani. Pemerintah India sampai memutuskan memakai gerbong kereta api untuk perawatan pasien positif covid. Mahasiswa fakultas kedokteran di seluruh India juga dikerahkan untuk mengatasi kekurangan  tenaga medis, baik di rumah sakit maupun di lapangan.

Perdana Menteri India Narendra Modi menyebut situasi itu akibat gelombang kedua COVID-19 yang datang seperti badai. Ketua Satgas COVID-19 Indis Dr. Shashank Joshi menyatakan kondisi itu sebagai "tsunami COVID-19."

Berdasarkan data Johns Hopkins University, Jumat (23/4/2021), total kasus COVID-19 di India sudah melewati level 15 juta. Tepatnya mencapai 16,2 juta. Sedangkan kasus positif hariannya sudah mencapai 332.730 orang  dengan jumlah kematian 2.263 jiwa di hari yang samaml. Sehari kemudian, Sabtu, India kembali mencetak rekor kasus positif 346.786 orang. Sehingga jumlah total kasus positif  di India mencapai 16.610.481 kasus. Ini merupakan rekor tertinggi penambahan harian kasus positif tertinggi di dunia.

Kenapa terjadi. Jawabnya sederhana: sejak Pemerintahan Modi mengumumkan telah berhasil "mengatasi penyebaran Covid-19" Februari 2021, protokol kesehatan mulai dilonggarkan, terutama pemakaian masker dan social distancing. Pemerintah juga  membiarkan berlangsungnya kerumunan publik dalam jumlah besar. Kondisi tersebut diperburuk dengan munculnya varian baru B1617 di India yang penyebarannya lebih cepat.

Prof. Dr. Tjandra Yoga Aditama, Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan mantan Direktur WHO (Badan Kesehatan Dunia) Asia Tenggara, mengatakan, gelombang kedua Covid-19 yang terjadi India disebabkan oleh lima faktor.

Pertama, penurunan tingkat penerapan 3M (memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan). Ini terjadi karena pemerintah India merasa yakin sudah bisa mengatasi pandemi.  Sehingga pemerintah mengurangi pengetatan protokol 3M.

Kedua, dalam beberapa bulan terakhir ada acara-acara besar, antara lain Pilkada dan perayaan keagamaan. Pada acara-acara tersebut, ada kerumunan dalam jumlah besar. Dan mayoritas mereka tak mengikuti protokol 3M. Bayangkan, pada acara ritual Kumb Mela, sekitar 25 juta umat Hindu berkumpul di kota Haridwar, Uttarakhand, di tepian Sungai Gangga.

Ketiga, jumlah tes di India menurun. Menurut Tjandra itu dilihat berdasarkan pada data tes yang dilakukan di India sejak Oktober 2020.

“Kalau tes menurun, untuk menemukan jumlah orang yang sakit juga menurun. Tidak bisa ditemukan dan itu bisa menular ke mana-mana,” jelas Tjandra.

Keempat, adanya mutasi varian dari Covid-19. Tjandra menyebut semua varian Covid-19 sudah masuk ke India. Mulai dari B.1.1.7 asal Inggris, B.1.351 asal Afrika Selatan, Varian P1 asal Brazil, ditambah mutasi varian Covid-19 dari India sendiri, yaitu B.1.617.

Kelima, menurut Tjandra, adanya asumsi masyarakat India bahwa vaksinasi memberi kekebalan dari virus Covid-19. Akibatnya protokol kesehatan masyarakat di India terabaikan. Mereka mengira setelah divaksin, tubuhnya kebal serangan virus Corona. 

Bagaimana situasi Indonesia?

Tragedi covid India harus menjadi pelajaran di Indonesia. Lima faktor penyebab tsunami covid negeri Bollywood -- seperti disebutkan Prof. Tjandra Yoga di atas -- tampaknya "menggejala" di Indonesia. Di Jakarta, misalnya, kasus positif naik kembali. Wisma Atlit juga mulai penuh lagi.

Rabu (21/4), kasus positif Covid-19 di Indonesia menembus 1.626.812 orang. Dari total 1.626.812 kasus positif,  44.172 di antaranya meninggal dunia. Ini artinya, angka kematian di Indonesia  2,72 persen, di atas rata-rata angka kematian global 2,39 persen.

Mencermati tsunami covid di India, yang niscaya akan berimbas ke Indonesia -- apalagi setelah diketahui banyak turis India dadakan muncul di tanah air -- kita harus waspada. Sebab peningkatan penularan covid ini berjalan seperti deret ukur. Pertambahannya berlipat ganda dari hari ke hari jika masyarakat tidak patuh pada protokol kesehatan.

Tentu, kita bangsa Indonesia berharap, jangan sampai tsunami covid yang terjadi di India menimpa Indonesia. Untuk itu, kita harus disiplin ketat menaati protokol kesehatan 3M -- kapan pun dan di mana pun. Termasuk yang telah divaksin Sinovac dua kali. Ingat vaksinasi tidak menjadikan tubuh kita 100 persen imun atau kebal dari serangan Covid-19.

Untuk mengantisipasi tsunami covid, apa yang dikatakan epidemiolog Dicky Budiman dari Griffith University, Australia harus kita perhatikan:  Ingat bahwa virus corona adalah makhluk hidup yang taat pada hukum biologi yang tercipta untuknya. Virus corona akan berkembang dengan cepat secara eksponensial, bila manusia tidak memblock pertumbuhannya dengan menerapkan protokol kesehatan dan mengurangi mobilitas, interaksi, serta kerumunan. Jangan sekali-kali menantang hukum biologi virus. Manusia akan kalah. Ini karena virus mampu bermutasi dengan cepat, sesuai hukum biologinya, untuk meneruskan survivalitasnya di alam. Proses terbentuknya mutasi itu, lebih cepat ketimbang usaha manusia untuk menemukan  obat dan vaksin yang bisa menangkal perkembang biakannya.

*Dr. H.M. Amir Uskara, MKes, Anggota DPR RI Fraksi PPP, Senayan