Internasional

Trump Siap Bertemu dengan Presiden Iran

BIARRITZ, SENAYANPOST.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengaku siap bertemu Presiden Iran Hassan Rouhani. Trump bilang, pertemuan bisa terjadi asal “situasinya memungkinkan”.

Dalam konferensi pers pertemuan G7 di Biarritz, Perancis, Trump menuturkan Teheran harus menjadi “pemain baik” sebelum dia setuju untuk melangsungkan pertemuan.

“Saya pikir Iran jelas merupakan negara potensial,” kata Trump dilansir Sky News Senin (26/8/2019).

Dia berkata tak ingin ganti rezim di negara Timur Tengah itu. “Kami tidak mencari perubahan seperti itu. Negara ini sudah mengalaminya sebelumnya. Jadi saya kira (ganti rezim) tidak akan berpengaruh,” bebernya.

Presiden 73 tahun itu melanjutkan, dia melihat potensi dalam diri Iran dan ingin melihat negara itu berkembang. Namun, dia menekankan Iran tak bisa punya senjata nuklir.

Trump tidak banyak mengomentari pertanyaan apakah bakal ada pertemuan potensial. “Asal situasinya memungkinkan, tidak masalah,” ujarnya dikutip AFP.

Namun Presiden Perancis Emmanuel Macron yang mendampinginya mengatakan, dia berharap melihat Trump dan Rouhani duduk dalam satu meja beberapa pekan mendatang.

Pernyataan itu dia sampaikan setelah munculnya Menteri Luar Negeri Iran, Mohammad Javad Zarif, di Biarritz di sela KTT G7 yang membuat dunia terkejut.

Macron menyatakan, undangan penuh kejutan yang dilayangkan kepada Zarif, dan kemudian diterima, merupakan “panduan” untuk mengakhiri ketegangan AS-Iran.

Trump membenarkan dia telah memberikan persetujuan kepada Macron guna menyampaikan undangan kepada Zarif. Meski sang menlu berada dalam sanksi AS.

Macron menuturkan, situasi untuk pertemuan Trump serta Rouhani bisa tercipta berkat diplomasi maupun konsultasi yang dilaksanakan secara intensif.

Dia menawarkan untuk memfasilitasi pertemuan antara Trump dan Rouhani. “Tentu saja,” jawab Trump saat ditanya apakah rentang waktu yang ditawarkan Macron realistis.

Sementara pada Senin pagi, Rouhani menjelaskan pada dasarnya dia juga siap berdialog dengan presiden ke-45 AS selama menguntungkan bagi Iran.

“Jika saya tahu bakal bertemu orang yang bakal membantu mengembangkan negara dan memberi solusi atas masalah yang terjadi, saya tentu tak akan menyia-nyiakannya,” tegasnya.

Relasi antara Washington dan Iran menjadi pahit setelah Trump mengumumkan keluar dari perjanjian nuklir 2015, dan kemudian menjatuhkan serangkaian sanksi.

Tensi kemudian meningkat dengan penangkapan kapal tanker di Gibraltar oleh Inggris, dan aksi balasan yang dilakukan oleh Teheran di Selat Hormuz.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close