Internasional

Trump Kembali Serang Bank Sentral AS Dengan Sebutan “Idiot”

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump rupanya tak hanya memicu konflik eksternal dengan negara asing, khususnya China, tetapi juga konflik internal dengan Bank Sentral AS, yang kerap disebut The Fed. Bahkan, Trump diketahui kembali menyerang Bank Sentral AS The Federal Reserve (The Fed) pada hari Rabu (11/9/19).

Melalui postingan di Twitter, Trump meminta The Fed, yang ia tuduh telah menyebabkan perlambatan ekonomi, untuk memangkas suku bunga menjadi nol atau bahkan menetapkan suku bunga negatif. Trump juga menghina The Fed ‘idiot’ dalam postingan itu.

“Federal Reserve harus menurunkan suku bunga kami menjadi nol, atau negatif, dan kami harus mulai membiayai kembali hutang kami. SUKU BUNGA BISA DITURUNKAN, sementara pada saat yang sama memperpanjang jangka waktu,” katanya.

Mengutip CNBC International, AS memiliki utang US$ 22,5 triliun, di mana US$ 16,7 triliun di antaranya dipegang oleh publik.

Beban utang itu telah tumbuh menjadi US$ 2,6 triliun atau 13% di bawah pemerintahan Trump. Hal itu terjadi sebagian karena langkah pemotongan pajak 2017 yang dicetuskan Trump melalui Kongres. Wajib Pajak telah menghapuskan US$ 538,6 miliar biaya bunga pada tahun fiskal 2019, yang mana merupakan sebuah rekor.

Menanggapi hal itu, kepala ekonom di Moody’s Analytics Mark Zandi mengatakan bahwa hal itu bisa mengganggu pasar keuangan. “Itu tidak layak dan bisa menjadi masalah yang signifikan bagi investor, pasar keuangan dan akhirnya ekonomi,” katanya.

“Utang tidak bisa dibayar di muka. Ada hubungan kontraktual yang dimiliki Treasury dengan investor. Ini bukan hipotek, ini adalah utang Treasury AS. Saya pikir itu akan sangat mengganggu pasar keuangan, dan suku bunga akhirnya akan naik, bukan turun.”

Mengenai permintaan Trump untuk membuat suku bunga nol atau negatif, Zandi mengatakan dia tidak melihat banyak manfaat yang akan terjadi apabila itu terealisasi.

“Pertanyaan yang harus Anda tanyakan pada diri sendiri adalah, jika suku bunga kita turun ke nol dan kita benar-benar mengalami resesi, lalu apa?” katanya.

Sementara itu, analis perbankan Dick Bove di Odeon Capital Group, mengatakan memotong suku bunga ke nol atau di negatif memang akan mengurangi biaya utang tetapi juga membuat AS menjadi tempat yang kurang diinginkan untuk aliran modal karena kemampuan untuk memberikan imbal hasil (yields) akan menjadi lebih sulit.

“Jika kita menetapkan suku bunga negatif, uang itu akan berhenti masuk ke Amerika Serikat dan itu akan mulai mengalir ke mana pun investor dapat menemukan pengembalian wajar yang positif,” kata Bove.

The Fed diperkirakan akan menyetujui pemangkasan suku bunga seperempat poin lagi pada pertemuan minggu depan, menyusul penurunan di bulan Juli yang merupakan langkah penurunan pertama dalam 11 tahun. Lebih lanjut, pasar memperkirakan akan ada satu lagi pemangkasan suku bunga sebelum akhir tahun dan satu lagi pada awal 2020.

Namun begitu, Gubernur Fed Jerome Powell pada Jumat lalu menyangkal harapan pelaku pasar. Ia mengatakan tidak melihat ada rencana penurunan suku bunga. (WS)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close