Opini

Tradisi Mudik

MUDIK Lebaran 2018 segera akan tiba. Perjuangan panjang dan melelahkan telah jadi tradisi, dimulai dari puasa sebulan penuh, mengurus ijin atau cuti, mencari bahkan berebut tiket atau mobil rental dan diakhiri dengan terjebak macet di jalan yang banyak lobang. Mudik jadi ritual tahunan, tidak lagi murni islami, tetapi juga terpengaruh budaya, logika dan ekonomi. Apa yang harus disadari?

Perjalanan pulang ke kampung halaman yang istilahnya disederhanakan menjadi ‘mudik’, awalnya untuk merayakan ‘Hari Kemenangan dan Pemutihan’ (Idul Fitri), juga bersilaturahmi dengan orangtua, yang dituakan dan segenap saudara. Mudik adalah momentum, kesempatan dan acara tahunan yang menyenangkan dan ditunggu-tunggu.

Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyatakan, secara umum kesiapan jalur mudik tahun 2018 lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Dari 760 km yang dibangun, sudah 525 km jalan tol dari Jakarta hingga Surabaya sudah dapat digunakan secara penuh pada arus mudik Lebaran 2018.

Meskipun demikian, kesenangan itu tetap memiliki aspek perjuangan, penderitaan, kepenatan, kecelakaan, dan bahkan mungkin kematian. Kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas) Irjen Royke Lumowa menyebut, jumlah korban meninggal akibat kecelakaan lalu lintas pada mudik Lebaran tahun 2017 lalu turun 519 orang atau sebesar 41,2 persen, dibandingkan tahun 2016. Dari 1.261 korban meninggal menjadi 742 orang. Ada tiga langkah, pertama sosialisasi keselamatan yang terus didengungkan, kedua menjaga daerah rawan, dan ketiga polisi juga langsung menindak tegas para pelanggar lalu lintas, yang membahayakan keselamatan jiwa. Selain itu, pemudik tahun 2017 lalu lebih kooperatif dan tertib berlalu lintas.

Sesampai di kampung halaman, sungkem atau sujud kepada orangtua atau yang dituakan, adalah murni tradisi, apalagi saat Lebaran nanti. Selain untuk memohon maaf, tentu juga berharap restu. Maaf dan restu sebenarnya tidak lagi sesuai dengan kebutuhan aktual, karena khilaf dan salah lebih banyak tertuju pada isteri, suami, anak, teman sekantor, sekelas, bawahan atau atasan, bukan kepada orangtua. Selain itu, restu tidak diingat saat melangkah melenceng, memutuskan pilihan korupsi, bahkan menelikung aturan. Ego, motivasi dan nyali justru lebih berperan menonjol dan menyebabkan khilaf, dibanding restu yang sebenarnya dapat berfungsi mengeremnya. Tradisi sungkem kepada orang yang dituakan hakekatnya sudah semakin pudar, sebab maaf dan restu justru redup, sementara ego dan nyali justru memotivasi korupsi berbagai rupa, dalam hidup baru selanjutnya setelah Lebaran usai.

Gotrah atau pertemuan keluarga besar berdasar garis keturunan darah seseorang, seringkali dilakukan dalam rangkaian mudik Lebaran. Gotrah untuk menjalin kekeluargaan, mempertemukan saudara jauh yang sudah tidak kenal lagi, dan menghidupkan api kebersamaan.

Gotrah juga tradisi yang mudah menyimpang, sehingga semakin terbelit konsumsi, rekreasi dan gengsi. Keluarga semakin besar, peserta semakin banyak, rumah besar semakin terasa sempit, maka gotrah tidak lagi harus di teras dan dalam rumah secara bergantian, tetapi berpindah di gedung atau taman rekreasi dengan aneka menu makanan, baju dan mobil baru yang bergengsi. Anggota keluarga yang relatif kurang berhasil, tentu akan terpacu maju atau justru sebaliknya, akan mundur bertahap, baik sebagai tamu ataupun tuan rumah untuk tahun selanjutnya. Topik teknik donasi dan pemberian dukungan sosial untuk anggota keluarga yang kurang beruntung yang hakiki, justru semakin kalah populer dibandingkan topik lain yang berorientasi sebaliknya.

Rekreasi selama libur Lebaran adalah tradisi berikutnya. Pantai, kolam renang, ‘waterpark’, candi, kebun binatang dan arena piknik bentuk lainnya sangat penuh pengunjung. Tarif tiket masuk, parkir, toilet, makan, cinderamata dan penginapan di arena tersebut pasti membubung naik. Begitu juga sampah, makanan sisa, dan kuman penyakit juga menggunung dan menyatu, sehingga mengurangi hakekat dan kenikmatan rekreasi. Padahal, kegiatan serupa di tempat yang sama, melibatkan keluarga inti yang sama, dan di waktu yang berbeda, justru akan lebih mudah, murah, dan menyenangkan, karena tidak bersamaan dengan pengunjung lain yang bukan keluarga inti.

Mudik sering menurunkan stamina, meningkatkan kontak infeksi dan menyebabkan sakit, terutama pada anak. Obat darurat yang disiapkan sering tertinggal di rumah, tercecer di jalan atau dianggap tidak mempan. Dokter atau perawat jaga di fasilitas kesehatan daerah yang dikunjungi, sering dianggap terlalu ‘lugu, udik dan culun’, sehingga ‘diteror, dipaksa dan didikte’ untuk meresepkan obat yang sudah sering diresepkan dokter langganannya di kota besar, terutama antibiotika. Resep khusus untuk pasien mudik memang belum pernah dianalisis, tetapi tradisi ini dapat mengekang kebebasan profesi medik, mendorong terapi yang tidak rasional, meningkatkan resistensi bakteri, dan bahaya interaksi obat yang merugikan.

Mudik adalah tradisi, tetapi kepenatan, kecelakaan atau kematian pemudik adalah ironi. Tradisi sering tidak masuk akal, tetapi logika dapat menuntun kita berpikir jernih, terutama untuk merencanakan sebaik mungkin, aktivitas mudik Lebaran dan rekreasi pada tahun 2018 ini.

Sekian

Yogyakarta, 7 Juni 2015

*) pemudik jarak dekat, Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya

Cek juga

Close
Close