Tolak Bantuan Banjir dan Virus, Kim Jong-un Cabut Lockdown

Tolak Bantuan Banjir dan Virus, Kim Jong-un Cabut Lockdown

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Penguncian (lockdown) terhadap kota di dekat perbatasan dengan Korea Selatan (Korsel) di mana ribuan orang telah dikarantina selama berminggu-minggu karena kekhawatiran akan virus Corona dicabut Pemimpin Korea Utara (Korut) Kim Jong-un. Begitu laporan kantor berita resmi Korut, KCNA.

Meski begitu, dalam pertemuan partai yang berkuasa pada hari Kamis, diktator muda Korut itu bersikeras akan menutup perbatasannya dan menolak bantuan dari luar negeri karena telah melakukan kampanye anti virus yang agresif. Korut juga telah membangun kembali ribuan rumah, jalan dan jembatan yang rusak akibat hujan lebat serta banjir dalam beberapa minggu terakhir.

KCNA juga melaporkan Kim Jong-un telah menggantikan Kim Jae-ryong sebagai perdana menteri setelah evaluasi kinerja Kabinet dalam urusan ekonomi dan menunjuk Kim Tok-hun sebagai penggantinya.

“Selama pertemuan pada Kamis kemarin, Kim Jong-un mengatakan bahwa setelah tiga minggu situasi serangan virus di Kaesong telah stabil dan menyatakan terima kasih kepada penduduk karena bekerja sama selama penguncian,” tulis KCNA seperti dikutip dari AP, Jumat (14/8/2020).

Pada akhir Juli, Kim Jong-un memerintahkan penguncian total di Kaesong dan meminta negara itu beralih ke “sistem darurat maksimum” setelah Korut mengklaim menemukan seseorang dengan gejala Covid-19.

Media Pyongyang mengatakan bahwa pasien yang dicurigai adalah seorang warga Korut yang sebelumnya melarikan diri ke Korsel sebelum kembali ke Kaesong. Tetapi otoritas kesehatan Korsel mengatakan pria berusia 24 tahun itu belum dites positif di Korsel dan tidak pernah melakukan kontak dengan pembawa virus.

Korut kemudian mengatakan hasil tes orang tersebut tidak meyakinkan dan masih menyatakan bebas virus, status yang secara luas diragukan oleh pihak luar.

Memasuki tahun terakhir dari rencana pembangunan nasional lima tahun yang ambisius, Kim Jong-un pada bulan Desember menyatakan “terobosan frontal” terhadap sanksi internasional sambil mendesak bangsanya untuk tetap tangguh dalam perjuangan untuk kemandirian ekonomi.

Tetapi para ahli mengatakan krisis Covid-19 kemungkinan menggagalkan beberapa tujuan ekonomi utama Kim Jong-un dengan memaksa negara itu melakukan lockdown yang menutup perbatasan dengan China – sekutu utama serta garis hidup ekonomi Korut – dan berpotensi menghambat kemampuannya untuk memobilisasi orang untuk tenaga kerja.