Ekonomi

Timur Tengah Membara, Dolar AS Tembus Rp14.000 Lagi

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Dolar AS sudah tidak lagi di bawah Rp 14.000.

Pada Senin, USD 1 setara dengan Rp 13.975 kala pembukaan pasar spot. Rupiah melemah 0,11% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Seiring perjalanan, rupiah kian melemah. Pada pukul 08:13 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.005 di mana rupiah melemah 0,32%. Tidak cuma rupiah, hampir seluruh mata uang utama Asia melemah di hadapan dolar AS.

Sejauh ini hanya yen Jepang, yuan China, dan ringgit Malaysia yang bisa menguat.

Hari ini sentimen yang mendominasi arah pasar adalah perkembangan di Timur Tengah. Akhir pekan lalu, fasilitas pengolahan minyak mentah milik Saudi Aramco, raksasa migas asal Arab Saudi, diserang. Lagi-lagi Iran menjadi tersangka utama.

“Ada alasan kami yakin sudah tahu siapa pelakunya. Kami sudah bersiap. Namun kami ingin menunggu kabar dari Inggris mengenai siapa pelakunya dan bagaimana kami harus bertindak!” cuit Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump melalui cuitan di Twitter.

“Tidak ada bukti serangan datang dari Yaman. Di tengah upaya penurunan tensi, Iran sekarang meluncurkan serangan terhadap pasokan energi dunia,” cuit Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri AS, dalam cuitan di Twitter.

Menurut seorang pejabat Amerika Serikat (AS) yang enggan disebutkan namanya, ada indikasi serangan tersebut menggunakan misil jelajah (cruise missile). Ada 19 titik tumbukan yang membuktikan bahwa misil tersebut diluncurkan dari arah Iran, bukan dari Yaman.

“Tidak diragukan lagi, Iran yang bertanggung jawab atas semua ini. Bagaimanapun Anda berkilah, tidak bisa menghindar lagi. Tidak ada kandidat lain,” tegas sang pejabat, seperti diberitakan Reuters.

AS dan Iran sudah bersiap angkat senjata. Kalau situasi memburuk dan ada pemantik labih lanjut, bukan tidak mungkin Perang Teluk Jilid III bakal meletus.

Perang jelas sebuah risiko besar, baik itu terhadap kemanusian, sosial, sampai ekonomi. Dibayangi oleh ancaman konflik bersenjata yang meningkat, investor berbondong-bondong mengamankan diri ke safe haven assets, salah satunya emas. Aset-aset berisiko di negara berkembang tidak menjadi pilihan sehingga rupiah dkk di Asia melemah. (AR)

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close