“Canda Tawa” ala Seorang Mulla Terkemuka:

Timur Lenk pun Tekuk Lutut kepada Nasruddin Hoja

Timur Lenk pun Tekuk Lutut kepada Nasruddin Hoja

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“MULLA Nasruddin Hoja memang sangat cerdas. Timur Lenk pun keok olehnya!”

Tidak sadar, saya berseru demikian, beberapa hari yang lalu. Ya, berseru demikian, selepas menikmati sebuah buku berjudul Juhâ wa Al-Sulthân (Juha dan sang Sultan): sebuah buku ciamik karya seorang penulis kondang asal Mesir, Ahmed Bahgat, tentang Nasruddin Hoja, seorang mulla kondang van Turkiye. Buku tipis itu saya beli di Kairo, Mesir pada 1992, ketika saya sedang kluyuran di Talaat Harb Str. di Kota Seribu Menara itu. 

Ya, buku itu tentang Nasruddin Hoja, seorang mulla yang komedian kondang Timur Tengah pada Masa Pertengahan. Saya memang termasuk penggemar buku-buku “canda tawa” tiga komedian terkemuka Timur Tengah pada Masa Pertengahan: Abu Nuwas, Bahlul bin ‘Amr Al-Shairafi, dan Nasruddin Hoja alias Nasreddin Hoca. Malah, saya pernah menerjemahkan sebuah buku tebal yang ditulis seorang ilmuwan Mesir. Buku tebal itu berjudul Juha Al-‘Arabî, sebuah buku yang menyajikan secara tuntas kisah hidup Nasruddin Hoja. Lengkap dengan sederet canda tawanya dan disertai dengan paparan tentang filosofi di balik canda tawa tersebut.

Baca Juga

Nah, dalam buku Juhâ wa Al-Sulthân itu diceritakan, bagaimana Nasruddin Hoja berhasil membuat Timur Lenk bertekuk lutut. Ya, bertekuk lutut dan tidak berkutik di hadapan sang mulla. Padahal, penguasa brutal asal Asia Tengah itu pernah mengalahkan seorang sultan tangguh Turki Usmani, Sultan Beyazid I, dalam Pertempuran Ankara. Malah, sultan Turki Usmani yang tangguh itu kemudian dipermalukan Timur Lenk. Ya, dipermalukan dengan dimasukkan ke dalam kerangkeng besi dan dipertontonkan dalam sebuah pesta kemenangan di Samarkand, sementara permaisurinya yang asal Serbia, Maria Despina, diperintahkan melayani para tamu. Melayani para tamu, tapi tanpa boleh mengenakan busana. Brutal, kan!

Kini, bagaimanakah kisah Nasruddin Hoja yang mampu membuat Timur Lenk yang brutal itu bertekuk lutut? 

Mulla Terakhir yang Tersisa 

Saat itu musim semi sedang berseri. 

Hari itu, Nasruddin Hoja tiba di gerbang barak militer para serdadu Timur Lenk, dengan menggiring lima keledai. Salah seorang serdadu penjaga gerbang, begitu melihat orang yang tidak ia kenal tersebut, langsung menggertak Nasruddin Hoja, “Hei! Siapa kau ini? Mau ke mana kau?”

“Dasar serdadu bego! Tidak tahukah kau, aku ini Nasruddin Hoja. Aku adalah seorang penasihat orang-orang bego bin tolol dan mulla yang paling bego.”

“Mau apa kau?”

“Aku mau menemui sultan kalian: Timur Lenk! Aku adalah mulla terakhir kawasan-kawasan yang dikuasai sultan kalian yang otoriter itu.”

“Mengapa kau datang ke sini, dengan membawa serta keledai-keledai bodoh itu?”

“Serdadu tolol! Keledai-keledai itulah yang menjadi para pengawal sultan dan para pejabat penting yang dikalahkan sultanmu itu, tahu!”

Mendengar jawaban “nyleneh” Nasruddin Hoja yang demikian, salah seorang serdadu kemudian segera melaporkan kepada komandannya. Ya, melaporkan bahwa di gerbang barak ada seorang makhluk asing bernama Nasruddin Hoja. Yang lebih aneh lagi, makhluk asing itu datang dengan membawa serta lima keledai dan ingin bertemu dengan sultan mereka: Timur Lenk. Segera, komandan itu menyampaikan berita itu kepada atasannya. Hingga, akhirnya, berita itu sampai kepada panglima mereka. Malah, akhirnya, berita itu sampai pula kepada Menteri Sekretariat Kesultanan. 

Mendengar berita demikian, Menteri Sekretariat Kesultanan pun berucap, “Sultan sedang beristirahat. Kita tidak boleh membangunkan Sultan, karena berita tidak berharga seperti ini. Siapa orang yang mengaku sebagai Nasruddin Hoja itu? Lagi pula, untuk apa ia membawa segala lima keledai itu ke sini?”

“Ia mengaku sebagai mulla terakhir yang tersisa di kawasan ini, Yang Mulia,” jawab seorang perwira. Bingung. 

“Oh, ia mulla terakhir yang tersisa di kawasan ini? Jika demikian, Sultan tentu akan membunuhnya selepas menguji orang itu. Bagus sekali. Hormati ia! Sajikan makanan paling lezat kepadanya. Juga, suruh ia menunggu. Hingga Sultan terjaga. Semoga Sultan tidak cepat terjaga. Sebab, selama sang Sultan belum terjaga, leher mulla itu akan tetap sedia kala di tempatnya!”

Segera, berita bahwa Timur Lenk sedang tidur pulas dan tidak ada seorang pun yang berani membangunkan sang Sultan sampai ke telinga Nasruddin Hoja. Mendengar berita demikian, sang mulla pun berteriak dengan sangat jengkel, “Sultan tidur! Hakim tidur! Polisi tidur! Negeri model apa ini: semua tidur. Padahal, semestinya, mereka semua bangun. Sebaliknya, mereka semua yang saat ini sedang terjaga semestinya tidur! Aku sibuk! Tiada waktu bagiku untuk menunggu Sultan hingga terjaga!”

Segera pula, teriakan Nasruddin Hoja tersebut sampai ke telinga Menteri Sekretariat Kesultanan. Sang menteri pun menggerutu, “Orang itu benar-benar tidak waras! Katakan kepadanya, Sultan tentu akan memotong lututnya bila ia tidak mau menunggu Sultan hingga terjaga!”

Segera, perwira yang membawa berita dari Yang Mulia Menteri Sekretaris Kesultanan itu lari menemui Nasruddin Hoja. Di gerbang barak. Begitu bertemu dengan sang mulla, perwira itu pun berseru, “Mulla! Menurut Yang Mulia Menteri Sekretaris Kesultanan, mulla harus menunggu. Hingga Sultan terjaga. Bila mulla tidak mau menunggu, lutut mulla akan dipotong!”

Mendengar ucapan si perwira yang demikian, dua kaki Nasruddin Hoja pun menggeletar. Kini, ia sadar, ia masuk ke sarang singa buas. Ia pun memutuskan akan melarikan diri dari gerbang itu. Maka, ia pun berucap kepada si perwira, “Lebih baik aku pergi sekarang! Besok, aku akan kembali ke sini, ketika sang Sultan sudah terjaga dari tidur pulasnya!”

“Hei, hei, hei! Kau mau pergi ke mana? Jangan sekali-kali kau bergerak dari tempatmu itu!” teriak si perwira. Galak dan garang. “Tunggu hingga Sultan Penakluk Dua Benua dan Dua Lautan Timur Lenk terjaga!”

“Tidak! Aku akan pergi. Sebab, bila aku tetap di sini, waktuku hilang percuma hanya untuk menunggu Sultan Penakluk Dua Benua dan Dua Lautan itu!”

“Apa yang baru saja kau katakan?”

“Aku hanya mengucapkan lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh saja!”

Usai menjawab demikian, Nasruddin Hoja lantas duduk. Ya, duduk tanpa berucap sepatah kata pun. Alias bungkam seribu kata. Rasa takut yang luar biasa pun memenuhi benaknya. Kali ini, ia benar-benar kehilangan daya dan kata. 

Terbangun karena Ringkik Lima Keledai 

Tidak lama kemudian, lima keledai yang dibawa sang mulla mulai berulah: meringkik kencang. Tampaknya, keledai milik hakim agung sebelum kawasan itu dikuasai Timur Lenk yang paling kencang ringkiknya. Karena lapar, keledai itu mulai meringkik. Sebagai panutan empat keledai lainnya, ringkik keledai satu itu pun diikuti empat keledai lainnya. Sehingga, ringkik lima keledai itu “menggema” sangat kencang. Di sekitar barak. 

Mendengar ringkik kencang lima keledai tersebut, Timur Lenk pun terbangun. Kaget, tentu saja. Sejenak, penguasa itu mencari sumber suara. Namun, ia tidak mendengar suara siapa pun. Maka, dengan menghunus pedang, ia pun keluar dari tendanya. Mencari sumber suara yang membuat ia terbangun dari tidur pulasnya. Tiba-tiba saja, Timur Lenk sudah berdiri di hadapan Mulla Nasruddin Hoja. Menghadapi penguasa brutal itu, sang mulla hanya hanya mampu menundukkan kepala. Tanpa kuasa mengucapkan kata-kata. Sepatah kata pun tidak.

“Hei pak tua! Suara apa yang membuat aku terbangun dari tidur!” tanya sang penguasa. Marah tiada tara Dengan suara menggelegar. Bagaikan suara petir yang membuat dunia tergoncang tiada tara. 

“Yang Mulia Sultan Penguasa Dua Benua! Sumber suara itu dari lima keledai ini. Lima keledai ini saya pilih sebagai keledai-keledai kesultanan,” jawab Nasruddin Hoja. Dengan nada suara tertata.”Sebab, keledai-keledai itu sangat mengagumi Yang Mulia. Juga, sangat setia kepada Paduka, lo. Sayang, karena mereka berupa keledai, mereka tidak tahu jika Paduka sedang tidur pulas. Karena itu, mereka seenaknya meringkik kencang. Akibatnya, Paduka terjaga.”

Mendengar jawaban Nasruddin Hoja yang demikian, amarahnya Timur Lenk pun mereda. Lalu, ia bertanya kepada Nasruddin Hoja, “Siapakah kau ini?”

“Oh, saya?” jawab Nasruddin Hoja. Terbata-bata. “Saya ini seorang mulla. Mulla Nasruddin Hoja, Pecundang Dua Benua dan Dua Lautan. Ya, saya adalah orang yang paling bego di Dua Benua dan Dua Lautan yang sedang menghadap Penguasa Dua Benua dan Dua Lautan, Yang Mulia.”

“Kau sedang apa di sini? Apa yang kau inginkan?”

“Saya seorang mulla, Yang Mulia. Saya satu-satunya mulla yang masih hidup di kawasan yang kini berada di bawah kaki Paduka. Namun, saya seorang mulla yang terkenal sangat bego dan tolol. Karena itu, saya pun tidak tahu apa yang saya inginkan. Saya sendiri, begitu melihat wajah Paduka, akal saya pun pergi. Entah ke mana. Seingat saya, Padukalah yang menginginkan saya. Bukan saya!”

“Hah! Aku yang menginginkan manusia bego seperti kau ini?”

“Betul, Paduka! Bukankah Yang Mulia yang menginginkan para mulla di seluruh kawasan ini?”

“Ah...! Jadi, kau ini seorang mulla dari kawasan ini?”

“Benar, mulla terakhir di kawasan ini, Yang Mulia.”

Mendengar jawaban Nasruddin Hoja yang demikian, Timur Lenk berpikir sejenak. Lalu, sang penguasa itu bertanya, “La keledai-keledai ini untuk apa?”

“Paduka! Ini adalah keledai-keledai yang tersisa dari jenis para mulla keledai. Karena itu, bila Paduka tetap bermaksud membunuh saya, sembelih pulalah keledai-keledai ini bersama saya. Biar tidak ada lagi yang menaiki keledai-keledai ini. Juga, biar keledai-keledai ini tidak dinikmati siapa pun selain saya!”

“Lo. Mengapa kau punya persangkaan bahwa saya akan membunuh kau?”

“Paduka! Perasaan saya mengatakan, Yang Mulia akan membunuhku!”

"Betul perasaanmu itu! Mulla, kau memiliki zodiak apa?”

“Zodiak saya Thess, Paduka!”

Ujian Pembuka Tidak Terduga

Mendengar pertanyaan demikian, hati Nasruddin Hoja pun mengkeret. Ia tersadarkan, ujian dari sang penguasa baru saja dimulai. Keringat dingin pun menetes pelan di dahinya. Maka, dengan suara pelan, ia menjawab, “Benar, Paduka. Zodiak saya Thess.”

“Zodiakmu Thess?” tanya Timur Lenk. Bingung. “Mulla, setahu aku, zodiak Thess itu tidak ada! Kalau zodiak Capricornus ada. Apa maksud kau zodiak Capricornus?”

“Benar, Yang Mulia. Saya lahir dengan zodiak Capricornus. Namun, itu terjadi empat puluh tahun yang silam. Selama empat puluh tahun itu, zodiak Capricornus telah berubah menjadi zodiak Thess. Empat puluh tahun bukan masa yang pendek, Paduka.”

Begitu Nasruddin usai berucap demikian, tiba-tiba lima keledai yang ia bawa meringkik kencang. Ringkik yang memekakkan telinga keledai-keledai itu pun memenuhi seluruh penjuru barak. Menyadari hal itu, Nasruddin Hoja pun membentak keledai-keledai itu, “Diamlah kalian! Kalian memang keledai. Sultan kan sudah tidak marah lagi. Kenapa kalian tetap melecehkan Sultan?”

“Mulla! Apa yang kau katakan pada keledai-keledai itu?” tanya Timur Lenk. Sangat penasaran. 

“Saya menyatakan terima kasih kepada mereka, Yang Mulia.”

“Mengapa kau mengucapkan terima kasih kepada keledai-keledai bego itu?”

“Karena ucapan selamat yang mereka sampaikan. Mereka tadi mengatakan, ‘Hidup Sultan Timur Lenk!’ Karena itu, saya mengucapkan terima kasih kepada mereka.”

“Apalagi yang dikatakan keledai-keledai itu? Mereka tidak hanya meringkik sekali, lo?”

“Oh. Mereka mengatakan, andaikan Sultan mau menyarungkan pedangnya, tentu suasana yang ada lebih tenang dan damai.”

Mendengar jawaban Nasruddin Hoja yang demikian, tawa sang penguasa pun berderai-derai. Tidak lama kemudian, sang penguasa bertanya lagi, “Mulla! Apakah kau menguasai bahasa binatang?”

“Saya hanya menguasai bahasa keledai, Yang Mulia.”

“Berapa bahasa yang kau kuasai, Mulla?”

“Tiga bahasa, Yang Mulia. Yaitu bahasa manusia, bahasa keledai, dan bahasa diam.”

“Menurut kau, kapan sebaiknya ujian terhadap dirimu aku mulai?”

“Lo, bukankah ujian itu baru saja rampung, Yang Mulia?”

Tawa Timur Lenk kembali berderai-derai begitu mendengar jawaban tersebut. Kemudian, penguasa itu berucap, “Mulla! Itu tadi bukan ujian. Ujian kok gampang banget begitu. Ujian atas dirimu belum lagi dimulai. Besok sore, selepas shalat Asar, ujian atas dirimu akan dimulai. Kini, sana kau beristirahat dulu ke tempat peristirahatan di barak ini!”

“Yang Mulia. Berapa banyak orang yang pernah menikmati tempat peristirahatan itu sebelum mereka di’lenyapkan’?”

“Banyak orang, Mulla!”

“Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’ûn.”

Tidak lama selepas itu, Nasruddin Hoja kemudian dibawa menuju tempat peristirahatan di barak militer tersebut. Setiba di situ, hidangan makanan yang sangat lezat pun dihidangkan kepadanya. Namun, teringat nasibnya yang di ujung kematian, selera makannya pun melorot tajam. Nafsu makannya hilang sama sekali. Seluruh benaknya tertuju pada ujian yang akan ia hadapi besok. Gumam bibirnya pelan, “Akhirnya, Hoja lenyap dalam sup yang disajikan ini.”

Untuk menyirnakan keresahan dan kegelisahan sangat hatinya, Nasruddin Hoja kemudian mencicip sedikit sup tersebut. Namun, keresahan dan kegelisahan hatinya malah menjadi-jadi. Kemudian, selepas lama menahan kantuk, ia pun tertidur. Eh, dalam tidur itu ia bermimpa: Timur Lenk membunuh dirinya. Ia pun terbangun dengan sangat ketakutan. Dan, hingga pagi tiba, pikirannya tidak henti-hentinya mencari cara untuk menyelamatkan nyawanya. Ya, menyelamatkan nyawanya dari tangan sang penguasa. 

Menghadapi Ujian Demi Ujian

Ketika matahari pagi menyemburatkan pendarnya, hidangan pagi yang sangat lezat dihidangkan kepada Nasruddin Hoja. Namun, selera makannya sama sekali tiada. Secuil makan itu pun tidak terjamah oleh tangannya. Tidak lama selepas itu, ia dibawa menghadap kepada Timur Lenk. Ia merasa bingung, mengapa ujian atas dirinya dipercepat. Gumamnya, “Tampaknya Sultan telah memutuskan akan membunuh aku pagi ini. Bukan sore nanti. Lebih baik aku dibunuh pagi ini. Biar aku tidak merasakan derita menunggu.”

Ketika Nasruddin Hoja telah berada di hadapan Timur Lenk, ia melihat wajah sang penguasa tampak gembira. Tidak seperti biasanya. Dan, begitu melihat sang mulla, Timur Lenk langsung menyapanya, “Mulla! Bagaimana keadaanmu pagi ini?”

“Dalam keadaan paling buruk yang pernah saya alami, Yang Mulia.”

“Mulla, dengarkan! Adil atau zalimkah aku ini?” 

Mendengar pertanyaan demikian, Mulla Nasruddin Hoja menyadari bahwa ujian atas dirinya kini dimulai. Ia pun menjawab, “Yang Mulia bukan penguasa yang adil. Namun, Yang Mulia juga bukan penguasa yang zalim?”

“Lo, mengapa kok demikian?”

“Bukankah Yang Mulia bertanya, mengapa?”

“Ya, mengapa?”

“Ini karena Yang Mulia membunuh orang-orang yang menyatakan bahwa Yang Mulia adil dan juga membunuh orang-orang yang menyatakan bahwa Yang Mulia zalim.”

“Benar kau, Mulla.”

“Kini, saya akan memaparkan, bagaimana Yang Mulia dapat dikatakan bukan sebagai penguasa yang adil dan pada saat yang sama juga bukan sebagai penguasa zalim.”

“Ya, bagaimana?”

“Kami semua adalah orang-orang yang zalim. Sedangkan Yang Mulia adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah Yang Maha Perkasa kepada kami karena kezaliman kami.” 

Betapa senang Timur Lenk mendengar jawaban Nasruddin Hoja yang demikian. Tidak lama selepas itu, penguasa itu kembali bertanya, “Mulla! Kini, pertanyaan berikut: tindakan apa yang dengan ringan dapat kau lakukan dan pada saat yang sama aku enggan melakukannya?”

“Itu pertanyaan yang mudah untuk dijawab, Yang Mulia. Tidur di kandang babi, itu jawabannya.”

“Hahaha, kau memang benar-benar cerdas, Mulla. Kini, pertanyaan berikut: siapakah kau dan siapakah aku ini?”

“Yang Mulia adalah orang besar. Sedangkan kami adalah wong cilik!”

“Benar kau, Mulla. Pertanyaan berikut: andaikan diriku dinilai, berapakah harga diriku ini?”

Mendengar pertanyaan yang “cukup pelik” tersebut, sejenak Nasruddin Hoja kebingungan. Namun, kemudian, ia menjawab dengan penuh semangat, “Ah, saya kira nilai Yang Mulia kurang dari seribu dinar.”

Mendengar jawaban demikian, Timur Lenk pun tertawa terpingkal-pingkal. Lalu, ia menjatuhkan dirinya pada kursi kebesarannya sambil berucap, “Keledai! Kau ini benar-benar keterlaluan. Masak nilaiku kurang dari seribu dinar. Kau tahu, bajuku ini saja harganya sekitar seribu dinar!”

“Oh, begitu, Yang Mulia. Bila demikian, benar perkiraan dan taksiran saya. Yang saya nilai pada diri Yang Mulia hanyalah baju Yang mulia saja!”

Beberapa saat kemudian, selepas tawanya reda, Timur Lenk kembali bertanya, “Mulla! Menurut kau, di manakah tempatku di akhirat kelak?”  

“Begini, Yang Mulia,” jawab Nasruddin Hoja. Sangat bersemangat. “Menurut saya, Yang Mulia akan bersama para penguasa dan tokoh yang nama mereka diabadikan dalam sejarah!”

Mendengar jawaban yang meyakinkan tersebut, Timur Lenk benar-benar puas dan gembira. Kemudian, ia bertanya lagi, “Mungkin Mulla dapat memberikan contoh, siapakah di antara para penguasa dan tokoh tersebut?”

“Contohnya adalah Fir’aun, Namrud dan Jengis Khan, Yang Mulia!”

Betapa gembira Timur mendengar jawaban yang demikian. 

Beberapa saat kemudian, penguasa yang berkaki pincang itu bertanya lagi, “Mulla! Kau tentu tahu, setiap penguasa Dinasti Abbasiyah memiliki gelar khusus. Misalnya Al-Muwaffiq Billah, Al-Mutawakkil ‘Alallah, Al-Mu‘tashim Billah, Al-Watsiq Billah dan lain-lainnya. Bagaimana pendapatmu, andaikan aku ini salah seorang di antara mereka, gelar apakah yang paling cocok dan tepat bagiku?”

Mendengar pertanyaan yang cukup membuat kening berkerut tersebut, Nasruddin Hoja langsung menjawab, “Yang Mulia! Saya kira, gelar yang paling cocok bagi Yang Mulia adalah Al-Iyadz Billah (Kami memohon perlindungan darinya kepada Allah)!”

“Hahaha. Mulla, jangan ngaco, kau! Kali ini, kau masih aku maafkan!”

Ujian Terakhir yang Membuat Hati Sangat Keder

Usai menjalani sederet ujian lisan tersebut, Timur Lenk lantas berkata kepada mulla yang konon hidup pada abad ke-14 M itu, “Mulla! Kau lulus dalam ujian lisan. Namun, jangan cepat berpuas diri. Kini, kau harus lulus pula dalam ujian di lapangan!”

Usai berucap demikian, Timur Lenk kemudian memerintahkan seorang perwira untuk mengambilkan sebuah busur dan beberapa anak panah. Mengetahui hal itu, Nasruddin Hoja pun bergumam, “Akhirnya, nasibku tidak tertolong. Tidak ada bedanya dengan para mulla yang lain: dibunuh di tangan penguasa tiran itu.”

Tidak lama selepas menerima busur dan beberapa anak panah, Timur Lenk kemudian memerintahkan sang mulla berdiri. Ya, berdiri di tengah-tengah lapangan dalam barak militer tersebut. Tiba-tiba saja, sebuah anak panah melesat melewati celah di antara kedua kaki Nasruddin Hoja. Tentu saja, tokoh jenaka itu sangat ketakutan. Namun, ia masih mampu mengendalikan diri. Ia tetap berdiri dengan gagahnya. Di tengah lapangan. 

Tidak lama selepas itu, tiba-tiba anak panah kedua melesat dan menimpa lengan kanan jubah Nasruddin Hoja dan melubanginya. Meski kian ketakutan, tokoh yang populer dalam kisah-kisah rakyat Turki itu tetap berdiri dengan gagahnya. Tiba-tiba, sebelum ketakutannya sirna, anak panah ketiga melesat dengan garangnya dan menerobos serbannya dengan meninggalkan sebuah lubang kecil. Menyadari hal itu, Nasruddin Hoja sangat terkejut dan hampir tidak mampu mengendalikan diri.

Namun, ketika Nasruddin Hoja melihat dirinya tidak terluka sama sekali, keberaniannya pun muncul kembali dan berdiri dengan gagahnya. Bagaikan tiang yang tidak tergoyahkan. Malah, ia kemudian tertawa terbahak-bahak. Untuk menutupi rasa takutnya, tentu saja. 

Melihat nyali kuat Nasruddin Hoja, Timur Lenk akhirnya mengakui keberanian sang mulla. Penguasa yang tiran dan otoriter itu pun menghadiahi sang mulla sederet hadiah dan pemberian. Sambil menerima hadiah dan pemberian tersebut, Nasruddin Hoja berucap, “Yang Mulia! Saya mohon, Yang Mulia juga memberikan hadiah kepada saya sepotong celana dalam!”

“Lo, celana dalammu kan tidak terkena sentuhan anak panah?”

“Benar, Yang Mulia! Dari luar memang celana dalam saya tidak tersentuh sama sekali oleh anak panah Yang Mulia. Namun, dari dalam, celana dalam saya terkena hajaran gelora hati yang luar biasa beratnya. Sehingga, tiada tempat bergantung lagi baginya!”

“Hahaha!”

Selepas itu, Timur Lenk pun mengangkat sang mulla yang cerdas itu sebagai sahabatnya yang mendampinginya. Ke mana pun sang penguasa pergi. 

Di sisi lain, kisah panjang tokoh yang kerap digambarkan naik keledai dengan menghadap ke belakang di atas mengandung pesan: perlunya kiat, kecerdikan dan kecerdasan dalam menyikapi perintah penguasa yang otoriter dan tiran. Siapa pun penguasa itu: seorang presiden, raja, menteri, pemimpin, rektor, bupati, kiai, pendeta, direktur, guru, majikan, suami, istri dan lain-lainnya!@ru