Thom 'Ki Hajar Dewantara' Wospakrik dari YPK Tanah Papua

Thom 'Ki Hajar Dewantara' Wospakrik dari YPK Tanah Papua
Frans Maniagasi 

SETIAP TAHUN tahun kita memperingati HUT YPK seperti tahun ini yg ke 57 (2019) maka tidak berlebihan kalau saya ingin mengangkat salah satu tokoh central yang seluruh hidupnya dipersembahkan utk kemajuan pendidikan untuk orang Papua melalui Yayasan Pendidikan Kristen (YPK) yaitu Thom Wospakrik.

Thom adalah salah satu anak didik langsung dari Pdt I.S.Kijne. Beliau dilahirkan di Biak pada 1 Januari 1922. Thom memperoleh pendidikan guru di Norman School Mie di Wandamen ( Teluk Wondama Papua Barat). Kariernya dimulai sebagai guru pada tahun 1940 di Biak hingga tahun 1947. Tahun 1947 pindah ke Yoka di Hollandia (Jayapura ) mengajar bersama gurunya Pdt I.S.Kijne di JVVS - Sekolah Rakyat Lanjutan. Pada tahun 1950 ia meninggalkan Yoka menuju Serui ( Yapen) mengajar di MVVS - Sekolah Lanjutan Rakyat Khusus Putri sampai 1965. Tahun 1965 pindah ke Manokwari sebagai Pengurus Wilayah Sekolah (PSW) YPK. Setelah itu kembali lagi ke Jayapura tahun 1970 sebagai Pengurus Umum Sekolah sekolah Wilayah YPK hingga pensiun pada tahun 1978. 

Selama 50 tahun Thom memusatkan tenaga dan pikirannya mengabdi dan bekerja sebagai pendidik untuk orang Papua. Bapak dari 10 anak terdiri dari 6 orang laki laki dan 4 perempuan. Kelak dari anak anaknya ini muncul tokoh tokoh intelektual yang cerdas dari Papua sebut saja Otto, Frans, Pieter, Hans Jacobus, dan  Yosina Wospakrik. 

Jika kita ikuti sekilas riwayat kehidupan dan pengabdian serta perjuangan dari seorang Thom dibidang pendidikan bagi kemajuan orang Papua melalui YPK, maka tidak berlebihan kalau saya bisa sejajarkan beliau dengan tokoh tokoh pejuang pendidikan nasional seperti Ki Hajar Dewantara, Sutomo dkk.

 Karena jasanya yang luar biasa itulah maka saya pernah bertemu salah seorang anaknya Frans Wospakrik waktu itu Wakil Ketua MRP dan mantan Rektor Uncen dalam diskusi dengan pak Frans saya mohon agar kita dapat menulis biografi perjalanan dan pengabdian serta perjuangan bapak Thom ayahandanya biar diketahui oleh generasi muda Papua maupun generasi Indonesia bahwa ada tokoh sekaliber Ki Hajar Dewantara yang pernah bekerja sepanjang hidupnya untuk kemajuan orang Papua dalam bidang pendidikan. 

Tapi jawaban pak Frans kepada saya dalam gaya bahasa Papua "ade senama ( nama kami sama) biar sudah tdk usah yg penting bagi kami anak anak bapak - pak Thom - sudah kerja dan mengabdi untuk pendidikan orang Papua. Nanti perjalanan waktu saja orang tahu tentang jerih payah dan jasa bapak", demikian dengan low profile kaka Frans (alm) sampaikan kepada saya. 

Demikian juga hal yang sama sy utarakan kepada pak Piet Wospakrik, responnya sama dengan pak Frans. Satu hal yg saya dapat tarik pelajaran dari diskusi dengan putra putra bapak Thom seperti kaka Frans dan Piet mereka sederhana, rendah hati dan tidak mau bapaknya diekspose.

*Frans Magniagasi, pengamat sosial budaya Bumi Papua.

 Hingga tulisan singkat ini saya turunkan itu pun lewat satu proses panjang "merayu" pak Piet berkenan dengan HUT YPK barulah saya diberikan data dan info singkat dari bapak Thom. Jadi disaat momentum HUT 57 tahun YPK maka tidak berlebihan kalau saya berikan sebutan penghormatan dan penghargaan Thom "Ki Hajar Dewantara" Wospakrik yg mengabdi lewat pendidikan di YPK dari Tanah Papua.

Oleh: Frans Maniagasi