Serial Kriminal (6)

The Intruder: Darah, Senjata dan Pengkhianatan di Papua

The Intruder: Darah, Senjata dan Pengkhianatan di Papua

Oleh: Joko Sriyono

SINOPSIS: Presiden Prio Sejati mengendus  'permainan busuk' para pejabat tinggi negara, anggota parlemen,  pensiunan militer dan polisi dalam  aksi penyerangan bersenjata di Papua.

Diam-diam presiden membentuk tim khusus yang dikomandani Joe, mantan anggota intelijen dan pasukan khusus, untuk melakukan penyelidikan hingga bisa diketahui siapa saja yang selama ini 'bermain api" di Papua.

Beberapa pensiunan jenderal sebagai penasihat presiden segera melakukan 'pembersihan' dengan melakukan penangkapan besar-besaran. 

Tapi mengapa Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) terus bisa melakukan penyerangan dan siapa pensuplai senjata kepada mereka? Apakah benar orang Papua ingin merdeka?

Ikuti Serial Kriminal ini secara berurutan. Selamat menikmati.


JAYAPURA. Salah satu coffee shop di sebuah hotel di tengah kota, pukul 07.00 WIT. Pudyo tengah menikmati sarapan pagi dan secangkir kopi panas bersama Kace. Keduanya menunggu kabar dari anak buah Kace soal pengiriman senjata ke KKB. 

Sesuai jadwal, pagi ini ada pengiriman 50 pucuk senjata serbu jenis AK-47 dan 50 pucuk pistol berbagai jenis serta ratusan peluru tajam dan amunisi.

Senjata-senjata itu dikirim dari Vanimo, Papua Nugini menggunakan sebuah pesawat kecil jenis Cessna Caravan. Untuk menghindari kecurigaan, dalam pesawat itu juga diisi sembako dan semen.

Sesuai jadwal yang dimiliki Pudyo, pesawat itu meninggalkan Vanimo pukul 06.00 pagi dan mendarat di air stripe atau lapangan terbang yang kondisinya berumput dan batu di Kampung Walaik, Kabupaten Jayawijaya, satu setengah jam kemudian.

Waktu tempuh itu bisa molor menjadi dua jam jika cuaca di sekitar Gunung Napua, di Jayawijaya, tiba-tiba berubah tidak bersahabat. Karena pilot harus mencari rute lain di sela-sela gunung yang berbahaya. Atau pendaratan dialihkan ke air stripe kampung lain yang banyak ditemui di pedalaman Papua.

Sekitar pukul 07.45 WIT, Kace menerima telepon dari anak buahnya. Ia menyampaikan kalau barang kirimannya sudah diterima tim penjemput di titik yang sudah ditentukan. "Terima kasih, Kakak. Barang sudah kami terima," kata anak buahnya.

Kace menyampaikan kabar itu ke Pudyo. Selanjutnya Pudyo mengirim pesan singkat ke Kapten Heri selaku komandan satuan tugas pengungkapan penyelundupan senjata. "Barang sudah di tangan mereka. Atur sesuai skenario. Laporkan hasil missi secepatnya," tulis Pudyo.

Sesuai skenario awal, Kapten Heri yang sudah memobilisasi anak-anak muda sekitar Kampung Walaik, langsung melakukan pencegatan rombongan kecil yang membawa senjata selundupan ini.

Terjadi perang kecil dengan menggunakan senjata tradisional berupa panah dan tombak. Rombongan penjemput senjata api terkepung. Mereka melakukan perlawanan dengan gigih dan menggunakan senjata yang mereka bawa. Sedangkan senjata selundupan sama sekali belum mereka sentuh. 

Perang ini menarik perhatian masyarakat sehingga menjadi semakin ramai. Saat massa sudah cukup banyak, Kapten Heri langsung mengamankan situasi, termasuk mengamankan senjata selundupan.

Dalam penyerangan ini, dua orang anggota KKB dan satu sekitar tewas, selain itu  belasan orang mengalami luka-luka akibat senjata tajam.

Setelah berhasil mengamankan semuanya, Kapten Heri melaporkan missinya ke Pudyo. "Missi berhasil dilaksanakan dengan baik. Korban tewas 3 orang, 2 KKB, 1 sipil. Barang bukti aman. Situasi kondusif. Mohon arahan lebih lanjut," tulis Kapten Heri.

Sementara itu, pesawat serupa juga membawa 50 pucul pistol dan 50 pucuk senjata serbu AK-47 mendarat di Bandara Aminggaru, Ilaga, Kabupaten Puncak. Kelompok KKB yang sudah menunggu kiriman senjata ini terlibat baku tembak dengan  satgas gabungan tentara dan polisi.

Dalam aksi ini, KKB merusak fasilitas bandara dan membakar satu pesawat  di bandara tersebut. Tiga warga sipil tewas ditembak.

Anggota militer dan polisi juga menggerebek dan melumpuhkan pasukan KKB di beberapa wilayah di Papua. Penangkapan besar-besaran berhasil dilakukan. Tentara dan polisi benar-benar menguasai basekamp KKB yang selama ini dijadikan markas besar mereka.

Dari Bandara Juanda, Surabaya, tim kepolisian juga menangkap lima orang anggota KKB dan Bernan, salah satu anggota DPRD karena tersangkut kasus penyelundupan senjata api.

Mereka ditangkap saat turun dari pesawat yang membawa mereka dari Australia. Penangkapan ini tanpa perlawanan. Setelah pemeriksaan Imigrasi, mereka langsung diarahkan ke ruang pemeriksaan. Setelah itu mereka dibawa ke markas kepolisian untuk menjalani pemeriksaan.

Sementara itu, Vero yang dikenal sebagai wanita yang selama ini gencar mengkampanyekan kemerdekaan Papua, gagal ditangkap polisi. Karena ia lebih dulu meninggalkan Jakarta sebelum ada penggerebekan.

Sementara itu, Rahmad Hidayat telah mengumpulkan elite politik yang selama ini bermain di Papua. Baik yang mengambil keuntungan dari sisi politik, maupun keuntungan finansial lainnya.

Mereka yang tidak setuju dengan kebijakan baru Presiden Prio Sejati dengan pembentukan badan hukum perusahaan baru, langsung ditangkap untuk diproses hukum. 

Joe sendiri mengakui, penangkapan dan bentrokan bersenjata antara aparat keamanan dan KKB di Papua yang ia skenario, mampu memberikan nilai positif bagi Rahmat Hidayat di mata Presiden Prio Sejati. Bagi Joe, itu adalah bentuk balas budi Joe kepada Rahmat Hidayat.

Di sisi lain, Joe juga mengakui, ia mendapatkan banyak keuntungan dari perdagangan senjata dan keuntungan dari pialang saham internasional yang selalu menginginkan kekacauan di Papua.

Hasil penangkapan di Papua dan Surabaya serta kegagalan penangkapan Vero,  selanjutnya dilaporkan langsung Joe kepada Rahmad Hidayat melalui telepon. 

"Mohon izin, Jenderal. Missi di Papua dan Surabaya berhasil dijalankan dengan baik. Tapi missi di Jakarta gagal. Target lebih dulu terbang ke Australia. Tim menunggu arahan lebih lanjut dari Jenderal," kata Joe.

"Terima kasih, Joe. Kau memang masih bisa diandalkan. Tolong perhatikan, hentikan permainanmu dengan NGO asing dan pengiriman senjata ke Papua. Aku minta ini semua dihentikan, karena aku tahu semua yang kamu lakukan. Ini perintah," kata Rahmad Hidayat.

Joe hanya tediam. Kemudian menjawab singkat, "Siap, Jenderal," katanya, sambil mematikan handphone. (selesai)


Jakarta, 2 Oktober 2021