Ekonomi

Thai Airways Bangkrut

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Thai Airways baru-baru ini menyatakan bangkrut dan tengah mengajukan proses rehabilitasi utang. Dilansir Bussiness Traveler, maskapai penerbangan nasional Gajah Putih itu mengajukan rehabilitasi utang melalui Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Oleh sebab itu, maka pengembalian dana (refund) pelanggan terpaksa ditunda prosesnya.

“Thai Airways saat ini sedang menjalani proses rehabilitasi utang melalui Pengadilan Kepailitan Pusat. Dengan sangat menyesal, perusahaan memberi tahu pelanggan bahwa proses refund tertunda, karena sementara waktu dilarang memproses permintaan pengembalian uang apa pun,” kata perusahaan penerbangan itu dalam sebuah pernyataannya ke media.

Keputusan ini tentu saja bikin pelanggan jadi makin was-was. Apalagi nilai tiket perjalanan penumpang yang mesti di-refund Thai Airways tak sedikit, melainkan diperkirakan mencapai 24 miliar Baht atau hampir Rp 11 triliun.

Thai Airways dililit utang sebesar 244,9 miliar Baht atau lebih dari Rp 110 triliun. Untuk mengatasinya, maskapai ini sudah mencari pinjaman sebesar 58,1 miliar Baht atau sekitar Rp 26,2 triliun dari pemerintah.

Bulan lalu, Pemerintah Thailand telah memberikan persetujuan pada perusahaan untuk melakukan restrukturisasi di bawah pengawasan pengadilan. Sehingga Thai Airways akan dilindungi dari penyitaan sampai rehabilitasi utang dengan kreditor (pelanggan) diselesaikan.

Untuk itu, Thai Airways berjanji akan menyelesaikan refund dalam kurun waktu enam bulan tanpa tambahan biaya apa pun. Sama seperti maskapai lainnya di dunia, Thai Airways tengah menghadapi krisis. Terutama setelah kehadiran COVID-19 yang membuat maskapai tersebut terpaksa menghentikan penerbangan sejak April lalu dan melakukan beragam cara pengembalian dana.

Refund hanyalah salah satu di antaranya. Thai Airways juga memberikan kesempatan bagi pelanggannya untuk melakukan reschedule tanpa tambahan biaya. Ada pula alternatif lainnya, yaitu menukarnya dengan voucher perjalanan bernilai sama.

Thai Airways juga berjanji untuk terus menjaga pelanggan mereka, terutama pemegang tiket yang valid, begitu pula dengan anggota program loyalitasnya, Royal Orchid Plus.

Salah seorang juru bicara maskapai itu mengatakan bahwa Thai Airways yakin akan dapat mengatasi krisis yang tengah menimpa perusahaan, memanfaatkan peluang yang ada, dan jadi lebih kuat.

“Informasi lebih lanjut tentang proses pengembalian dana dan perkembangan mengenai proses rehabilitasi perusahaan nantinya akan disampaikan lebih lanjut,” ujar maskapai itu.

Thai Airways merupakan maskapai nasional Negeri Gajah Putih yang saham terbesarnya dimiliki oleh Kementerian Keuangan Thailand. Maskapai penerbangan ini sebenarnya sudah mengalami krisis karena persaingan bisnis sejak tahun lalu.

Bahkan pada Oktober 2019, sempat muncul isu bahwa Thai Airways akan ditutup. Namun, pihak perusahaan menyanggah isu tersebut. Presiden Thai Airways International, Sumeth Damrongchaitham, mengaku bahwa perusahaannya kesulitan untuk bersaing dengan maskapai berbiaya rendah di sejumlah rute.

Kerugian sepanjang semester I 2019 saja lebih besar dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya.

Menurut Sumeth, THAI Airways akan melakukan berbagai upaya agar maskapai bisa terus mengudara, di antaranya mengurangi gaji para staf manajerial dan tak lagi ada persediaan di departemen katering.

Krisis yang dialami Thai Airways makin terasa semenjak adanya pandemi. Pada Mei lalu, Thai Airways mengumumkan bahwa pihaknya memperpanjang penangguhan penerbangan internasional hingga akhir Juni.

Keputusan itu diambil sesuai dengan pengumuman Otoritas Penerbangan Sipil Thailand (CAAT) yang melarang penerbangan internasional ke Thailand hingga 30 Juni.

Meski dalam laman resminya Thai Airways mengumumkan akan kembali terbang pada Juli mendatang, rencana tersebut pun sebenarnya masih dalam pertimbangan.

“Penerbangan kembali yang direncanakan akan berlangsung pada Juli 2020 masih dalam pertimbangan. Thai Airways sedang memantau situasi dan langkah-langkah pencegahan serta penguncian di tiap negara, termasuk permintaan perjalanan untuk melanjutkan layanan ketika nanti COVID-19 membaik,” tulis keterangan itu, seperti yang diberitakan Thaiger.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close