Kolom Emha

Tetes Fithri (9): Kita Belum Berpuasa

IBADAH yang kata Allah “untuk-Ku”, yakni puasa, sangat nyata ditandai oleh aksentuasi rahasianya, “privat” dan “confidential”-nya. Sebagaimana iman, kekhusyukan, cinta dan kedalaman pengabdian kepada-Nya adalah muatan-muatan yang berada di wilayah rahasia dan sangat rohaniah.

Bahkan seringkali terasa dan terpikir mungkin lebih indah dan lebih berkemashlahatan apabila “Islam”-nya seseorang juga sebisa mungkin dirahasiakan oleh pelakunya. Sebab Islam adalah modal nilainya, sedangkan aktualisasinya adalah “akhlaqul karimah” dan “rahmatan lil’alamin” dalam pergaulan, kebudayaan, poilitik, tata pengelolaan masyarakat dan Negara, serta keseluruhan peradaban manusia.

Akan tetapi yang kita alami selama ini justru Islam adalah identitas, kostum, merk, icon, simbol, tanda-tanda kasat mata. Kaum Muslim bertengkar dan saling membenci dengan kaum-kaum lain, serta saling bermusuhan di antara Kaum Muslimin sendiri, dengan bersenjatakan identitas-identitas itu.

Islamnya Kaum Muslimin “sangat identitas”, bahkan verifikasi wajib sunnah mubah makruh haramnya, jalan kebenaran atau kesesatannya–semuanya berlandaskan identitas. Sungguh Ummat Islam “belum berpuasa”.

KOMENTAR
Tags
Show More

Check Also

Close
Close