Testimoni tentang Denny JA

Testimoni tentang Denny JA
Fachry Ali

Oleh Fachry Ali

PADA 1996, saya, Bahtiar Effendi dan William Liddle makan bersama di Sogo Plaza. Pada waktu itu, setiap hendak ke Indonesia, Prof Ilmu Politik dari Ohio State University itu, selalu mengontak kami. Pada 1986 atau 1987, saya yang memperkenalkan Bahtiar Effendy kepada Bill. 

Lalu, setelah selesai mencapai master di Ohio University di bawah Bill Frederick, Bahtiar menjadi murid Bill Liddle. Nah, sekitar akhir 1994 atau awal 1995, Bahtiar kembali ke Indonesia —setelah menyelesaikan PhD-nya dalam bidang politik.

Maka, kedatangan Bill Liddle pada 1996 itu kami sambut dengan makan bersama. Usai makan, saya membawa tas Bill Liddle. Tapi, sebelumnya saya katakan: "Saya bawakan tas ini bukan karena Pak Bill orang bule. Tapi karena Anda guru saya."

Bill Liddle tertawa ngakak. "Tak habis-habisnya perasaan nasionalismemu," katanya.

Baca Juga

Nasionalisme? Ya Bill ingat pada 1989 atau 1990 secara khusus saya katakan kepadanya: "Kalau Amerika memperlakukan Indonesia seperti Panama, saya akan turut angkat senjata melawan negerimu." Kita tahu, waktu itu, Presiden Panama Noriega ditangkap Amerika sebagai kriminal.

Apa hubungannya dengan Denny JA —pollster politik terkemuka Indonesia dewasa ini?

Pada 1991, seperti juga Kiai Abdurrahman Wahid, Bill Liddle menginap di rumah saya di Clayton, Melbourne. Bill datang untuk acara seminar di Monash University. Sambil ke kampus, Bill saya ajak tukar ban mobil terlebih dahulu, karena ban lama sudah tipis.

Malamnya, Bill Liddle pakai sarung (akan saya cari fotonya) dan kami mengobrol. Dia menyampaikan bagaimana ia dan Prof MC Ricklefs membicarakan saya. Bill memang bertemu Ricklefs siang harinya. Lalu beranjak kepada masalah Timor-Timur. Setelah itu, kawan-kawan di Jakarta.

Bill menceritakan bagaimana kawan-kawan sekuler di Jakarta memintanya tidak menerima Denny JA menjadi muridnya. Alasannya sederhana: Denny JA aktif di Masika, organ kaum muda ICMI. 

Mendengar itu, saya meradang. "Pak Bill harus menerima Denny!"
 
"Jangan khawatir," kata Bill. "Sebagian besar murid-murid saya adalah santri." (Dalam peluncuran buku ‘Piety and Politics’ yaag ditulis Saipul Mujani dan Bill Liddle 2 tahun lalu, cerita ini saya ungkap di hadapan Bill Liddle).

Saya kenal Denny sejak mahasiswa. Berasal dari Fakultas Hukum UI, di bawah bimbingan Djohan Effendy, Denny mendirikan Kelompok Studi Mahasiswa Proklamasi pada pertengahan 1980-an. Bersamaan dengan itu, ia pun datang kepada saya di LP3ES. 

Ketika kelompoknya membuat buku tentang demokrasi, The Asia Foundation yang mensponsorinya, meminta agar buku itu saya buatkan kata pengantar. 

Lalu, Denny datang kepada saya menyampaikan pesan itu. Tentu saya penuhi. Tetapi, yang lebih penting adalah Denny dan kawan-kawan kelompok studi lainnya saya sertakan dalam ‘Pertemuan Kaum Muda’ 1985. Sudah Saya ceritakan sebelumnya, kepada Pak Jakob Oetama, Pemred Kompas, saya usulkan tentang pentingnya pertemuan itu. Pak Jakob setuju dan Kompas mensponsori acara tersebut.

Maka, saya meminta Denny (Jakarta) dan Hari Wibiwo (Bandung) menyusun makalah atas nama kelompok-kelompok studi mahasiswa. Abdul Hamid dan Ridwan Monoarfa dari Kelompok Studi Pena saya tempatkan sebagai peserta.

Sejak itu, nama Denny JA dan seluruh kelompok studi mahasiswa pada  1980-an itu masuk ke dalam orbit perhatian publik. 

Tulisan-tulisan  Denny dkk mulai menghias halaman 4 Kompas. Yang  saya senang, Denny telah menjadi tokoh terkemuka dewasa ini. Moga dia sehat sehat selalu. (*)


Fachry Ali adalah kolumnis.