Terimakasih TNI

Terimakasih TNI
Bagas Pujilaksono Widyakanigoro

Oleh: KPH Bagas Pujilaksono Widyakanigoro

APA yang telah dilakukan TNI beberapa hari ini, sungguh membuat kami bahagia, lega, dan merasa kembali hidup tenang. Sejak awal Reformasi kami resah dan gelisah, karena TNI dijauhkan dari kehidupan kami.  

Terimakasih TNI.  Ini yang sangat kami tunggu-tunggu bertahun-tahun lamanya, tindakan tegas dari TNI kepada siapapun (ormas-ormas radikal,  politikus-politikus busuk yang memprovokasi,  menebar kebencian,  dan memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.)

Sejarah panjang bangsa Indonesia menunjukkan, bahwa  TNI selalu sukses menumpas habis para separatis dan pemberontak  negara: DI/TII, PRRI/PERMESTA, RMS, PKI Madiun 1948, PKI 1965, dll. TNI adalah alat negara yang paling bisa dipercaya dengan komitmen dan soliditasnya yang sangat tinggi dalam menjaga keutuhan NKRI. 

Reformasi 1998 menggulirkan kebebasan,  demokrasi dan HAM. Sayangnya  ketiga hal tersebut banyak disalahgunakan oleh orang-orang radikalis agama,  dan politikus busuk untuk mengacau kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan cara merampas kebebasan dan HAM orang lain. Demokrasi, HAM,  dan kebebasan di Indonesia saat ini over dosis alias serba kebablasan. 

Sekolah-sekolah dan kampus-kampus negeri begitu radikal yang selalu berujung pada diskriminasi  pada kelompok-kelompok minoritas.  

Mohon maaf,  saya memakai terminologi minoritas,  yang hanya saya tujukan pada jumlahnya,  bukan pada pemenuhan atas hak hidupnya termasuk kebebasan beragama.  Pancasila tidak mengenal istilah Mayoritas-Minoritas: musyawarah untuk mufakat atau musyawarah untuk sepakat.  Radikalisme di sekolah dan kampus, sangat mengganggu kehidupan akademik, karena kampus kehilangan ruhnya,  yaitu Kebebasan dan rasionalitas. 

Kebebasan kampus adalah kebebasan mimbar akademik yang sifatnya melatih berpikir kritis, obyektif dan jujur, namun sayangnya justru diarahkan untuk mendeskriminasi kelompok minoritas,  mematahkan sendi-sendi kebhinnekaan Indonesia dan meruntuhkan negara. Sedang rasionalitas ditampilkan dalam panggung-panggung kebohongan yang tidak adakemis sama sekali, karena segala sesuatunya serba dibalut dengan pernak-pernik politisasi agama.

Kampus-kampus negeri yang konon katanya menggotong konsep kerakyatan,  dengan leluasa dan bebas sebebas-bebasnya mendirikan rumah ibadah bagi kelompok agama tertentu,  namun tidak ada satupun rumah ibadah yang dibangun di dalam kampus bagi kelompok agama lain. Apakah ini bukan diskriminasi? Mana konsep kerakyatannya? Rakyat yang bagaimana?  

Dengan dasar apa saya harus percaya pada civitas akademika semacam ini,  yang menurut saya sangat didkriminatif,  bisa berpikir rasional,  akademis, obyektif dan jujur? Mana rasa keadilan yang manusiawi?  

Ini hanya salah satu contoh,  penyusupan-penyusupan kaum radikal agama,  sudah terjadi di segala aspek kehidupan: lembaga negara,  kantor-kantor pemerintah,  BUMN,  dll. 

Modusnya,  persis sama dengan apa yang dilakukan PKI di zaman dahulu. Keberadaan mereka sangat berbahaya,  karena modus politik identitasnya yang sangat ekstrim. Sekolah dan Kampus adalah tempat vital,  yang harus segera diselamatkan dari perilaku politik radikal agama.  
Bahaya besar! 

Kelompok minoritas dipersulit untuk mendirikan rumah ibadah,  padahal kebebasan beragama sesuai keyakinannya adalah hak azasi manusia paling mendasar.  

Mereka dipersekusi dan diteror bahkan dibom saat beribadah atau merayakan acara keagamaannya. Lebih dari itu,  mereka masih dikatakan kafir.  Ini sungguh biadab dan tanpa ada rasa kemanusiaan sama sekali. 

Orang dengan mudah dicap PKI,  dikatakan penista agama, penista ulama, ulama mereka berbuat kriminal dikaburkan dengan istilah kriminalisasi ulama,  dll.  Saya muslim dan saya sudah tidak tahan melihat keadaan bangsa Indonesia seperti ini.  Kelompok minoritas di Indonesia saat ini adalah kelompok yang tertindas.

Pancasila sebagai ideologi politik bangsa,  dan dasar negara tidak akan pernah bisa menerima politik ekstrim: baik kanan maupun kiri.  Karena, pada dasarnya keduanya sama saja,  sama-sama anti Pancasila dan demokrasi, dan otoriter. Pancasila adalah ideologi politik yang sifatnya seimbang (equilibrium), bukan politik ekstrim.  

Kami sangat berharap TNI bisa memulihkan kehidupan bangsa Indonesia yang, plural,  damai,  toleran dan gotong-royong.

Kami juga memohon TNI membubarkan ormas-ormas radikal agama yang pekerjaannya hanya meneror,  memprovokasi,  mempersekusi,  menebar kebencian,  mengkafir-kafirkan orang,  menebar ketakutan dan lain sebagainya.  Bubarkan! 

Bersama surat ini,  saya mengusulkan kepada Yth.  Bapak Presiden Joko Widodo untuk secara signifikan menaikkan anggaran belanja TNI guna memoderenisir dan merawat peralatan perang dan memperbaiki kesejahteraan bagi anggota TNI dan keluarganya,  dan berikan kemudahan dan keleluasaan pendidikan secara gratis hingga pendidikan tinggi bagi putera-puteri TNI. Agar,  anggota TNI bisa fokus menjaga keutuhan NKRI, tegaknya Pancasila di bumi pertiwi demi utuhnya ragam pesona kebhinnekaan Indonesia,  dan kembali ke UUD 1945 tanpa amandemen.

Kami semua mendukungmu TNI.  We all love TNI.

Kami juga mengucapkan terimakasih kepada NU,  Banser, Pemuda Ansor,  KH  Habib Lutfi Pekalongan, Gus Yaqut,  dan lainnya. Mereka adalah idola dan panutan kami yang tidak pernah lelah menjaga keutuhan NKRI.

Secara khusus, kami ucapakan Selamat Ultah kepada PP Muhammadiyah. Saya yakin,  ke depan  PP.  Muhammadiyah akan semakin gigih mewujudkan perjuangan Islam yang moderat dan kultural.  Islam yang rahmatan lil allamien. (*)

Ir. KPH Bagas Pujilaksono Widyakanigara PhD, dosen UGM.