Opini

Tawadlu dalam Berilmu

Oleh Rochmat Wahab

“Marwah orang yang berilmu ditentukan oleh ketawadlu-annya” – Rochmat Wahab

PADA DASARNYA setiap insan diwajibkan untuk menuntut ilmu. Jika kita belajar bersungguh-sungguh, insya Allah kita berhasil. Keberhasilan yang baik seharusnya tidak hanya di bidang akademik, melainkan juga keberhasilan di bidang karir dan hidup. Berilmu yang berhasil biasanya mempengaruhi perilaku. Karena itu menjadi terangkat derajatnya, jika perilakunya terpuji.

Barang siapa yang menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh akan diangkat derajatnya oleh Allah swt sebagaimana orang-orang beriman. Cukup banyak bukti, jika belajar hanya untuk mengejar formalitas dan gengsi, maka yang sering terjadi, malas ikuti berbagai kegiatan akademik maupun non akademik. Fatalnya bahwa mereka tidak hanya gagal pada akhir studinya, melainkan juga bisa putus di tengah-tengah masa studinya. Belajar hanya diisi dengan hura-hura dan sibuk macam-macam yang tidak ada kaitannya dengan belajar.

Keberhasilan selama studi sering kali ditunjukkan dengan berbagai kejuaraan, penghargaan atau award, yang diperoleh dari sekolah atau dan dari luar sekolah. Selanjutnya menutup kesukseaan di ujung masa studinya dengan perolehan nilai terakhir dengan predikat pujian dan sangat terpuji. Keberhasilan studi bisa juga dilanjutkan dengan keberhasilan karir dan hidupnya. Keberhasilan semuanya itu seharusnya dapat mengantarkan, dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Keberhasilan seyogyanya menghadirkan keuntungan baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain, agama, bangsa dan kemanusiaan. Namun pada kenyataannya keberhasilan bisa menghadirkan berbagai kerugian dan kehinaan, di antaranya yang menonjol adalah sikap dan perilaku sombong. Mari kita renungi firman Allah, QS Luqman : 18, yang berbunyi

وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِى ٱلْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh.”

Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” Perilaku tidak terpuji, bersikap dan berperilaku sombong, biasanya bawaan dari kondisi kesehatan yang prima dan kesuksesan karyanya yang spektakuker. Merasa sukses menjadi orang berilmu, meraih pangkat, jabatan, dan kekayaan yang melimpah.

Padalah kita harus benar-benar tawadlu atau rendah hati terhadap sesama. Karena ilmu yang kita miliki setinggi apapun, belum ada apa-apanya di mata Allah. Mari kita cermati QS Al-Isra : 85 yang berbunyi:

وَيَسْـَٔلُونَكَ عَنِ ٱلرُّوحِ ۖ قُلِ ٱلرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّى وَمَآ أُوتِيتُم مِّنَ ٱلْعِلْمِ إِلَّا قَلِيلًا

Artinya :”Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”.

Bahwa ilmu kita setinggi apapun dan sehebat apapun yang kita dapatkan hanya mencapai kebenaran ilmiah. Termasuk memahami soal ruh dengan Psikologi yang kita dapatkan adalah kebenaran sementara. Wajar jika kita temukan dari satu teori ke teori lain. Juga tidak bisa dibenarkan suatu teori mengklaim sebagai teori yang paling benar. Karena pada hakekatnya kebenaran mutlak hanya milik Allah. Dengan begitu dapat kita terima dengan ikhlas bahwa ilmu yang kita miliki itu benar-benar sedikit.

Maka dari itu orang yang memiliki ilmu sehebat apapun dewasa ini tidak ada jaminan bisa menyelesaikan suatu masalah, terutama masalah yang kompleks. Mereka perlu berkolaborasi dengan ahli bidang lain, sehingga muncul pendekatan multidisipliner, interdisipliner dan transdisipliner. Dikuatkan lagi belakangan bahwa kekuatan individual intelligence saat ini diungguli dengan collective intelligence. Kita perlu berkolaborasi dan bersinergi.

Jika ilmu kita dibandingkan dengan ilmu Allah, maka sangat jelas bahwa ilmu Allah jauh lebih unggul, karena Allah itu Maha Berilmu. Mari kita perhatikan salah satu firman-Nya dalam QS Luqman : 27, yaitu :

وَلَوْ أَنَّمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلَٰمٌ وَٱلْبَحْرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: “Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan laut (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh laut (lagi) sesudah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Semakin nyata bahwa ilmu kita itu tidak ada apa-apanya di mata Allah. Dengan begitu setinggi apapun ilmu kita, sebanyak apappun inovasi kita tidak akan pernah mengungguli ilmu Allah swt dan ciptaan-Nya. Demikian juga keahlian yang kita miliki hanya satu bidang, masih banyak bidang lain yang orang hebat lainnya bisa ditunjukkan. Bahkan keahlian bidang yang sama dengan perbedaan waktu, bisa saja orang lain bisa temukan inovasi yang lebih hebat daripada inovasi kita. Dengan begitu sikap tawadlu dan respek menjadi kebutuhan kita.

Akhirnya sebagai orang yang berilmu, mari kita terus dengan sabar dan konsisten menjaga diri kita dengan melakukan pencerahan pikiran dan hati. Tidak berhenti membaca dan sharing dengan sesama. Karena ilmu yang kita miliki bukanlah segala-galanya. Kita tidak boleh kikir ilmu.

Kita harus terus upgrading ilmu kita, sehingga bisa membantu kita untuk menyelesaikan segala persoalan yang kita hadapi. Karena keterbatasan yang selalu ada pada diri kita, walau sehebat apapun ilmu kita, maka kita wajib mendidik pikiran dan hati serta perilaku kita dengan penuh tawadlu. Dengan begitu, insya Allah kita akan terhindar dari sikap dan perilaku sombong dan takabbur. Semoga.

*Prof Dr Rochmat Wahab, Guru Besar dan mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close