Bisnis

Tarif Tol Harus Naik Tiap Tahun, Ini Alasan BPJT

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Tarif tol diberbagai daerah harus dinaikkan setiap tahun, yang besarannya disesuaikan dengan angka inflasi, padahal sejumlah ruas tol sudah berumur puluhan tahun.

Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menjelaskan alasan kenaikan tarif tol adalah pengembalian investasi. Hal ini karena bisnis jalan tol membutuhkan investasi yang sangat besar di awal, dengan jangka pengembalian yang cukup lama.

Anggota BPJT Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Agita Widjajanto mengatakan investasi jalan tol harus dilakukan sekaligus. Perusahaan pun biasanya akan “berdarah-darah” selama 10-15 tahun pertama.

Selain itu, beban bunga pengembaliannya pun berat jika tidak menyamakan nilai inflasi. Pasalnya menurut Agita, kebanyakan modal dari investor proyek tol berasal dari pinjaman. Pembayaran angsuran pun tidak bisa hanya mengandalkan pendapatan.

“Nilai investasi besar di depan, sehingga harus nyicil selama masa pinjaman, pada saat itu teman-teman perbankan pasti menghitung risiko, tarif, dan suku bunga,” kata Agita kepada CNBC Indonesia dalam Power Lunch, belum lama ini.

Dia menegaskan yang dilakukan pemerintah adalah “hanya” menjaga nilai mata uang. Jika nilai investasi Rp 1 triliun pada 2019, maka pada 2040 pun nilainya harus sama. Untuk itu justifikasi dilakukan 2 tahun sekali.

“Biasanya mereka bleeding 10-15 tahun, setelah itu kalau trafficnya bagus tahun ke 16 baru agak ringan,” katanya.

Sebelumnya PT Jasa Marga Tbk (JSMR) menyebut akan terjadi penyesuaian tarif tol di tahun 2020 mengingat dalam dua tahun terakhir belum ada kenaikan. Pihak Jasa Marga memperkirakan akan ada penyesuaian sebesar 6-7%. Saat ini Jasa Marga sudah mengambil ancang-ancang jadwal kenaikan Tol Jagorawi dan Dalam Kota.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close