Opini

Tangis dalam Kerinduan

One Day One Hikmah (6)

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“RASULULLAH Saw. tidak berpulang! Ruh beliau saja yang sedang pergi! Ruh beliau akan kembali lagi!”

Demikian teriak ‘Umar bin Al-Khaththab. Sangat lantang. Ketika Rasulullah Saw. berpulang. Berteriak sangat lantang di hadapan khalayak ramai dalam Masjid Nabawi yang sedang sangat kebingungan. Malah, ia siap menghajar siapapun. Yang memiliki pandangan berseberangan.

Namun, ancaman ‘Umar bin Al-Khaththab itu,oleh Abu Bakar Al-Shiddiq, tak ia hiraukan. Ia segera datangi bilik ‘Aisyah, puterinya dan istri tercinta Rasulullah Saw. Di situlah jenazah Rasulullah Saw. disemayamkan. Kemudian, ia buka penutup wajah beliau, yang belum lama berpulang,dan ia cium lama seraya berucap, “Wahai Rasulullah. Demi maut yang telah ditetapkan Allah Swt. atas dirimu. Sungguh,kini maut telah engkau rasakan. Dan, selepas ini, tak lagi engkau rasakan. Untuk selamanya!”

Selepas menutupkan kembali kain penutup wajah itu, Abu Bakar Al-Shiddiq lantas keluar. Dari bilik ‘Aisyah. Untuk menemui khalayak ramai dan meminta mereka supaya menghentikan pembicaraan mereka. Lantas, ia teruskan langkah-langkahnya. Menuju Masjid Nabawi. Diikuti orang-orang yang ingin mengetahui bagaimana kejadian yang sebenarnya.

Ketika Abu Bakar Al-Shiddiq telah berada di dalam Masjid Nabawi, selepas memuji Allah Saw., ia pun berucap, dengan nada pelan tertahan, “Wahai saudara-saudaraku! Barang siapa menyembah Muhammad, ketahuilah bahwa Muhammad telah tiada. Dan barang siapa menyembah Allah, Allah Mahahidup dan tak kan mati!”

Selepas itu, Abu Bakar Al-Shiddiq membaca ayat Al-Quran, “Muhammad tidak lain hanya seorang Rasul, yang sebelumnya telah berlalu Rasul-Rasul yang lain: Apakah jika dia meninggal dunia atau terbunuh, kalian akan berputar kembali dari kebenaran? Barang siapa berputar kembali dari kebenaran, dia tidak akan sedikit pun jua merugikan Allah. Dan, Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (QS Ali ‘Imrân [4]: 144).

Selepas mendengar Abu Bakar Al-Shiddiq membacakan ayat Al-Quran itu, ‘Umar pun jatuh tersungkur. Ke bumi. Kedua kakinya tak kuasa lagi menahan kedua kakinya. Kini, ia yakin Rasulullah Saw. benar-benar telah berpulang. Ke hadirat Allah Swt. Semua orang pun terdiam. Selepas mendengar dan melihat kenyataan itu.
Dan, beberapa bulan kemudian, ketika malam telah sangat larut dan sedang sendirian, tiba-tiba ‘Umar sangat rindu kepada Rasulullah Saw. Menahan kerinduan yang luar biasa kepada beliau, ‘Umarpun tak kuasa lagi menahan kesedihan hatinya. Ia pun merintih lama. Seraya duduk bersila dan menundukkan kepala:

“Demi ibu dan bapakku, wahai Rasul! Sungguh, ada suatu pangkal pohon kurma yang kerap engkau jadikan sebagai tempat berpidato. Di hadapan manusia. Ketika umatmu kian bertambah banyak, engkau pun mengambil mimbar untuk menyampaikan pesan-pesanmu. Karena itu, betapa sedih pangkal pohon kurma itu berpisah denganmu. Kemudian, kala engkau letakkan tanganmu di atas pangkal pohon, barulah ia tenang. Umatmu lebih merindukanmu, wahai Rasul, karena engkau berpisah dengan mereka.

Demi ibu dan bapakku, wahai Rasul! Sungguh, keutamaanmu telah sampai ke sisi Allah Swt. Sehingga, Dia menjadikan ketaatan kepadamu sejajar dengan ketaatan kepada-Nya. Allah Swt. berfirman, “Barang siapa mematuhi Rasul, sungguh ia telah mematuhi Allah.” (QS Al-Nisâ’ [4]: 80).

Demi ibu dan bapakku, wahai Rasul! Sungguh, keutamaanmu telah sampai ke sisi-Nya. Sehingga, Dia memberitahukan kepadamu bahwa engkau telah dimaafkan oleh-Nya sebelum Dia memberitahukan kepadamu tentang dosa-dosamu. Lewat firman-Nya, “Kiranya Allah memaafkanmu. Mengapa engkau memberikan izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang)?” (QS Al-Taubah [9]: 43).

Demi ibu dan bapakku, wahai Rasul! Sungguh, keutamaanmu telah sampai ke sisi-Nya. Sehingga, Dia mengutus engkau sebagai penghabisan para Nabi dan menyebut engkau pada permulaan para Nabi. Lewat firman-Nya, “Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan ‘Isa putra Maryam. Dan, Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh” (QS Al-Ahzâb [33]: 7).

Demi ibu dan bapakku, wahai Rasul! Sungguh, keutamaanmu telah sampai ke sisi-Nya. Sehingga, para warga neraka ingin mematuhimu, sementara mereka sedang disiksa di antara lapisan-lapisan neraka. Mereka mengatakan, “Alangkah baik andaikan kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul!” (QS Al-Ahzâb [33]: 66).

Demi ibu dan bapakku, wahai Rasul! Sungguh, andaikan memang Musa putera ‘Imran dikaruniai batu oleh Allah Swt., sehingga air pun memancar darinya laksana sungai, namun apakah hal itu lebih menakjubkan dari jemarimu yang kuasa memancarkan air? Kiranya Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu!

Demi ibu dan bapakku, wahai Rasul! Sungguh, andaikan memang Sulaiman putera Dawud dikaruniai angin oleh Allah Swt. dengan kecepatan, baik pagi maupun sore, sejauh perjalanan sebulan, namun apakah hal itu lebih menakjubkan ketimbang Buraq yang menjadi tungganganmu dalam perjalananmu pada malam hari menuju langit ketujuh. Kemudian, selepas itu, engkau melaksanakan shalat Subuh pada malam itu pula di Abthah? Kiranya Allah Swt. melimpahkan rahmat-Nya kepadamu!

Demi ibu dan bapakku, wahai Rasul! Sungguh, andaikan memang ‘Isa putera Maryam dikaruniai oleh Allah Swt. kemampuan untuk dapat menghidupkan kembali orang mati, namun apakah hal itu lebih menakjubkan ketimbang kambing yang diracuni ketika ia berbicara denganmu, padahal kambing itu sudah digoreng, lewat pahanya, “Janganlah engkau memakanku. Aku beracun!”

Demi ibu dan bapakku, wahai Rasul! Sungguh, Nuh telah mendoakan terhadap kaumnya dengan mengatakan, “Ya Tuhanku! Janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di bumi!” (QS Nûh [71]: 26). Andaikan engkau mendoakan terhadap kami seperti itu, niscaya kami semua binasa! Namun, meski punggungmu telah bungkuk, wajahmu telah berdarah-darah, sendi-sendimu telah remuk, engkau tetap enggan mengatakan selain kebaikan. Lewat doamu, “Ya Allah, Tuhanku! Ampunilah kaumku. Sungguh, mereka tidak mengetahui!”

Demi ibu dan bapakku, wahai Rasul! Dengan usiamu yang sedikit dan pendek, engkau diikuti oleh manusia (dalam jumlah yang melebihi jumlah manusia) yang mengikuti Nuh. Dengan usianya yang banyak dan panjang. Sungguh, telah beriman kepadamu anak manusia dalam jumlah yang banyak, sementara tidak beriman kepada Nuh selain hanya sejumlah kecil anak manusia!

Demi ibu dan bapakku, wahai Rasul! Andaikan engkau tidak mengambil teman duduk selain orang-orang yang sepadan denganmu, tentulah engkau tidak akan duduk bersama kami. Andaikan engkau tidak menikahi selain perempuan-perempuan yang sepadan denganmu, tentulah engkau tidak menikahi sebagian dari kelompok kami. Dan, andaikan engkau tak mewakilkan selain kepada orang-orang yang sepadan denganmu, tentulah engkau tidak mewakilkan kepada kami. Namun, sungguh demi Allah, engkau telah duduk bersama kami, menikah dengan sebagian dari kelompok kami, dan mewakilkan sesuatu kepada kami. Juga, Engkau kenakan baju bulu.

Engkau kendarai keledai. Engkau ikutkan orang di belakangmu. Engkau letakkan makananmu di atas lantai. Juga, engkau ambil makanan dengan jemarimu. Ini semua karena engkau merendah diri.

Kiranya Allah Swt. melimpahkan rahmat dan kesejahteraan kepadamu, ya Rasulullah!”

Usai merintih demikian, sosok yang jarang menangis itu pun tak lagi kuasa menahan tangisnya. Lama!

Allâhumma shalli wa sallim ‘ala Sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ âlihi wa shahbihi ajma‘în!

*Penulis alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, pernah nyantri di Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta.

KOMENTAR
Tags
Show More
Back to top button
Close
Close