Takut PKI, Takut Hantu, Takut Bayangan Sendiri

06:35
586

LIMA PULUH DUA TAHUN yang lalu terjadi tragedi nasional, Gerakan 30 September meletus. Sejumlah jenderal terbunuh. Secara juridis formal Partai Konunis Indonesia (PKI) terbukti sebagai dalang peristiwa itu. Sidang-sidang Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub) saat itu menunjukkan bukti-bukti kuat. Atas dasar bukti-bukti itu PKI dibubarkan. Paham komunisme dilarang karena bertentangan dengan Pancasila.

52 tahun peristiwa itu berlalu. Para pelaku G-30-S PKI mestinya sudah uzur. Selana 50 tahun lebih komunis telah mati. Berdasarkan ketetapan MPR paham komunis dilarang. Singkatnya sudah setengah abad lebih kita hidup tanpa komunisme, semuanya berlangsung aman dan damai.

Tiba-tiba sebulan terakhir ini ada gerakan menakut-nakuti kita, katanya ada bahaya komunisme. PKI dinyatakan mulai bangkit. Wajar kemudian masyarakat bertanya-tanya ada apa tiba-tiba dihadapkan pada “hantu-hantu” tak berwujud. Dimana hantu PKI itu berada, wujudnya seperti apa? Pertanyaan itu tak pernah terjawab tapi ributnya tiada henti.

Andai ketika ribut ancaman PKI itu ada gerakan yang jelas, dengan mudah disingkap dan ditangkap. TNI dan Polri kita sangat kuat. Teroris yang bermunculan dan jelas bentuknya saja berhasil disikat, apalagi gerakan komunis, kalau memang ada. Nyatanya kita tidak menemukan itu semua.

Sampai kapan kita ditakut-takuti “hantu” PKI. Jangan sampai kita takut bayangan sendiri. Kita lari bayang-bayang ikut lari, kita berhenti bayang-bayang pun ikut berhenti.

Hasil penelitian lembaga survei yang kredibel, SMRC, pun menunjukkan sebenarnya masyarakat tidak khawatir PKI bangkit lagi. Hanya sebagian kecil yang takut. Itu pun kemungkinan besar bukan murni takut secara alami, tapi karena ditakut-takuti. Seoalah ada hantu di sekitarnya, tanpa perlu dinalar dengan akal sehat. Kepada teroris yang nyata-nyata ada saja kita tidak takut, masa sih takut kepada “hantu” PKI.

Tetap waspada memang harus, kepada setiap ancaman terhadap keutuhan bangsa dan negara. “Jangan sekali-sekali melupakan sejarah,” kata Bapak Bangsa Bung Karno. Tapi kita tentu tidak perlu takut masa lalu. Kita tatap masa depan dengan belajar dari sejarah. Termasuk sejarah yang kelam seperti G-30-S/PKI. Kita harus percaya bahwa Pancasila itu sakti, jika kelima sila selalu menjiwai kehidupan kita, menjadi dasar semua aturan dan dilaksanakan sebaik-baiknya.

Comments

comments