Lintas Daerah

Tak Dibiayai APBD, Proyek Trem Kota Surabaya Terancam Batal

SURABAYA, SENAYANPOST.com – Rencana pengadaan angkutan massal trem di Kota Surabaya terancam gagal. Pemerintah Kota Surabaya menyatakan proyek angkutan massal cepat berupa trem yang sudah diwacanakan sejak tiga tahun lalu tidak lagi dianggarkan di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Surabaya 2019.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya Eri Cahyadi, mengatakan kepastian tidak digunakannya dana APBD untuk pembangunan trem diketahui dari draft pembahasan Perubahan Anggaran Keuangan (PAK) APBD Surabaya 2018 dan pembahasan RAPBD Surabaya 2019.

“Sudah dilakukan kajian kalau pembangunan trem bisa dilakukan lewat beberapa pilihan, seperti menggunakan BUMD. Jika BUMD maka ada pilihan kerja sama yaitu bisa BOT (Build Operate Transfer) atau swasta,” ujarnya, Jumat (14/9/2018).

Menurut dia, kalau memang nantinya terbentuk BUMD maka penyelenggaranya bukan lagi Pemkot Surabaya melainkan secara otomatis dikelola oleh pihak swasta penuh.

“Sistem kerjasamanya yang akan dibahas dengan pihak swasta nanti, apakah menggunakan sistem BOT atau swasta penuh” lanjut Eri.

Ketua DPRD Surabaya Armuji sebelumya menyatakan pihaknya menolak pengajuan anggaran trem lewat APBD Kota Surabaya karena tidak adanya bantuan dari pemerintah pusat melalui APBN.

Armuji malah mempertanyakan mengapa Pemkot Surabaya tidak meminta bantuan kepada pemerintah pusat seperti yang dilakukan Palembang pada saat membangun proyek “Light Rail Transit” (LRT).

“Program bantuan itu ada jauh sebelum pelaksanaan Asian Games,” ujar politisi PDIP itu.

Menurut Armuji dari pada membangun trem menggunakan dana APBD sebaiknya Pemkot Surabaya dulu menerima tawaran bantuan penyediaan bus dari Kementrian Perhubungan (Kemenhub).

“Kemenhub sebenarnya pernah menawarkan bus sebagai alat transportasi massal di Surabaya, tapi ditolak. Sehingga bantuan itu diambil oleh Sidoarjo yang bertetangga dengan Surabaya,” katanya.

Alasan Pemkot Surabaya menolak bus bantuan Kemenhub karena tidak “low deck” atau berlantai rendah. “Padahal pihak Kemenhub sudah ketemu dengan saya dan sanggup membuat semacam tangga agar penumpang mudah naik bus itu,” katanya. (JS)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close