Catatan dari Senayan

Tahun Politik, Tahun Caci Maki

SETAHUN lagi pemilihan Presiden berlangsung. Inilah tahun politik. Para politisi ramai bermanuver, tampil untuk menjatuhkan lawan politik dan mengangkat setinggi langit calon yang dijagokannya. Sejauh tidak ada pencemaran, fitnah, dan penistaan, sah-sah saja. Tetapi secara moral dan fatsun, cara caci maki sangatlah rendah. Ada tata-cara bersaing yang lebih elegan dan berkelas.

Sasaran paling empuk memang pejabat petahana (incumbent). Kalau sudah masuk tahun politik begini semua yang diperbuat maupun tidak diperbuat selalu menjadi sorotan. Hal-hal yang terukur lebih mudah dinilai ketimbang terhadap orang yang belum atau tidak berbuat apa pun. Ya memang tidak ada yang bisa dinilai, jadi tidak ada hasil kerja konkretnya yang bisa diukur. Logika sederhananya, yang sudah bekerja, ada hasil kerja, dan hasil kerja itu ada nilainya dengan skala tertentu. Tanpa hasil kerja maka nilainya nol.

Menyandingkan dan membandingkan yang sudah dan belum bekerja tidaklah mudah. Perbandingan selalu harus aple to aple. Maka ibarat latihan bertinju, petahana hanyalah sansak, menjadi sasaran pelampiasan emosi “petinjunya”. Dipukul bertubi-tubi tanpa mampu membalas.

Tapi tentu kontestasi politik tidak sama persis dengan hubungan petinju dan sansak. Petahana tidak bisa pasif seperti karung sansak. Tetap berkesempatan untuk mengelak, menamgkis, dan sesekali menyarangkan pukulan balasan. Itulah pertarungan politik. Serangan membabi buta dan emosional yang dilayangkan akan malah bisa menjadi bumerang, memukul balik.

Nah di tahun politik seperti ini petahana tak perlu terlalu bermafsu meladeni serangan rival-rivalnya. Kalau perlu berlakulah seperti sansak. Kalau sang petinju kelelahan memukul pasti akan berhenti sendiri dan lunglai kelelahan. Bisa jadi kedua kepalan tangannya akan sakit dan nyeri. Sesekali saja kalau ada ruang balas yang tepat silakan melayangkan pukulan jab, hook, atau uppercut. itu bukan sesuatu yang diharamkan dalam dunia politik.

Jika petahana mendiamkan serangan-serangan lawan, awalnya mungkin mendatangkan tudingan petahana tidak berdaya. Dunia pertinjuan atau juga persilatan, penyerang yang emosional dan membabi buta malah akan kalah. Atau penyerang akan mendapat cap sebagai pihak yang nyinyir. Apalagi jika tak cukup data dan logika untuk menyerang, malah akan menjadi pukulan balik yang sangat dahsyat.

Asumsinya, rakyat menjadi saksi dan penilai yang objektif. Lebih mudah menilai yang sudah bekerja ketimbang yang janji-janji dan suka menyalahkan. Lebih mudah menilai orang yang bekerja tulus ketimbang orang yang berkata-kata penuh pamrih. Jika sudah bekerja dengan niat baik, sudah
mendapatkan satu pahala. Apalagi kemudian jika pekerjaannya nyata-nyata bermanfaat bagi bangsa dan negara, akan mendapatkan berlipat pahala.

Jika kembali ke pribahasa lama, bagi┬ápara pengeritik dan yang suka mencaci maki, cenderung nyinyir, dan ngawur, bagai “air beriak tanda tak dalam” atau tong kosong berbunyi nyaring.”

Salam.

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close