Media Sosial

Tahun Politik, Akun Buzzer Bermunculan

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com – Menjelang penyelenggaraan Pilkada Serentak dan sekaligus mendekati tahun politik pemilihan legislatif dan pemilihan presiden 2019, jumlah akun buzzer dan akun robot semakin banyak bermunculan.

Kebanyakan dari akun ini menanggapi berita-beria politik dengan mengutip sumber berita yang tidak jelas. Menghadapi hal ini, warganet diminta untuk lebih peka merespon akun-akun semacam itu.

Hal itu dikemukakan oleh peneliti Center for Digital Society (CfDs) Fisipol UGM, Viyasa Rahyaputra, saat menyampaikan hasil penelitiannya mengenai sentimen warganet terhadap isu UU MD3 di twitter dan portal Berita Daring, Senin (14/5/2018), di Yogyakarta.

Dalam penelitian CfDS terkait opini warga net terhadap revisi UU MD3 pda bulan Februari dan maret lalu, sebanyak 4605 tweets yang diketahui berkaitan dengan soal UU MD3. Namun dari jumlah tersebut sekitar 57 persen tweets tersebut diunggah oleh akun buzzer. “Hanya 43 persen tweets yang betul-betul opini,” katanya.

Pemilahan akun buzzer ini kata Viyasa dilakukan dengan melihat karateristik buzzes di twitter yang umumnya sumber identitas akunnya tidak jelas, lalu mengutip berita daring dari sumber yang dipertanyakan dan akun tersebut menangapi berita politik dari sumber yang tidak bisa dipercayakan kredibilitasnya.

Selain isi konten dan identitas akun yang tidak jelas, fenomena buzzer juga bisa dilihat dari aktivitas tweets yang dilakukan akun tersebut dalam setiap harinya yang dianggap tidak biasa.

“Aktivitas tweet satu bulan saja bisa 423 ribu tweets jauh melebihi aktifitas normal,” katanya.

Fenomena ini menurutnya digunakan untuk menggangu lalu lintas informasi sehingga informasi negatif lebih banyak bermunculan di kalangan warga net.

“Tujuannya untuk menggagu lalu lintas informasi,” katanya.

Meski demikian, kata Viyasa, untuk menggulangai fenomena akun semacam ini tidak mudah namun begitu warga net menurutnya lebih bisa mengolah informasi yang ada di media sosial untuk ditelaah lebih dalam sebelum mengunggah opini untuk menanggapi sebuah informasi.

Sehubungan dengan hasil penelitian mengenai sentimen opini warga net terhadap kemunculan UU MD3 pada buklan februari dan maret lalu, CfDS menemukan bahwa warganet twitter lebih banyak memberikan sentimen negatif terhadap isu UU MD3.

“Sebanyak 69 % memberikan sentimen negatif, 29 % netral dan hanya 2 persen yag positif,” kata Lamia Putri Damayanti, peneliti CfDS lainnya.

Sementara dari 694 berita yang dikumpulkan dari 6 portal berita daring seperti CNN Indonesia, Kompas, Kumparan, Liputan 6, Merdeka, Sindo News dan Tribun news, diketahui terdapat 412 jumlah berita yang dinilai netral, 231 berita negatif dan 51 berita positif. Namun dari sumber portal daring, sentimen yang paling banyak dimunculkan oleh warga net adalah sentimen negatif. (AF)

KOMENTAR
Tags
Lihat selanjutnya
Close