Opini

Tafsir Ketuhanan yang Berkebudayaan #1

Oleh: Ngatawi al-Zastrouw

Salah satu isu kontroversial terkait dengan RUU HIP (Haluan Ideologi Pancasila) adalah mengenai tafsir terhadap frasa “Ketuhanan Yang Berkebudayaan”. Salah satu tokoh yang bersuara lantang menolak HIP adalah Habib Rizieq, dengan alasan RUU tersebut mengganti Ketuhanan “Yang Maha Esa” dengan “Ketuhanan Yang Berkebudayaan” sebagaimana dinyatakan dalam suatu seminar daring:  “jadi bukan lagi ketuhanan yang Maha Esa, tapi ketuhanan yang berkebudayaan. Menurut saya ini merupakan pelecehan terhadap agama dan nilai-nilai luhur Ketuhanan yang Maha Esa, yang selama ini dijunjung tinggi oleh bangsa Indonesia,” (https://www.hops.id/habib-rizieq-tolak-dan-lucuti-ruu-hip-itu-bisa-turunkan-derajat-pancasila/). Dari pernyataan tersebut jelas telihat Habib Rizieq menafsirkan “Ketuhanan Yang Berkebudayaan” sebagai antitesa atau lawan dari “Ketuhanan Yang Maha Esa”

Tafisr yang sama juga diberikan oleh MUI. Ini tercermin dari pernyataan Wakil Sekjen MUI Zaituna Rasmin yang menafsirkan Ketuhanan Yang Berkebudayaan yang di RUU HIP sebagai upaya terselubung melumpuhkan keberadaan Sila Pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa yang telah dikukuhkan dengan Pasal 29 Ayat (1) UUD Tahun 1945 serta menyingkirkan peran agama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (https://www.vivanews.com/berita/politik/52785-wasekjen-mui-sebut-pasal-7-ruu-hip-melumpuhkan-sila-pertama-pancasila?medium=autonext).

Sejauh penelusuran kami di berbagai portal media online, hampir semua argumen yang menolak frasa “Ketuhanan Yang Berkebudayaan” menafsirkan bahwa frase tersebut merupakan cerminan dari pandangan sekuler dan pikiran Komunis, melecehkan dan mengesampingkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Bahkan ada yang beranggapan frasa ini merupakan pemikiran komunis kerena sarat dengan nuansa sosialisme.. Sehingga timbul tuduhan RUU HIP disusupi faham komunisme dan menjadi indikasi kebangkitan PKI.

Agar tidak terjebak pada penafsiran pejoratif dan insinuatif yang menghilangkan spirit dan makna dari frasa Ketuhanan Yang Berkebudayan, meskipun secara teoritik hal seperti ini sah-sah saja dilakukan, ada baiknya melihat secara penuh teks pidato Bung Karno beserta konteks historisnya (asbabul wurud). Dari sini akan terlihat kandungan makna dan kerangka filosofis dari frasa Ketuhanan Yang Berkebudayaan.

Secara historis, frasa ini marupakan bagian dari pidato Bung Karno yang disampaikan di hadapan sidang BPU-PKI pada tanggal 1 Juni 1945, ketika sedang membahas dasar negara. Teks pidato Bung Karno tersebut adalah sebagai berikut:

“ …. Prinsip yang kelima hendaknya: Menyusun Indonesia merdeka dengan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Prinsip Ketuhanan! Bukan saja bangsa Indonesia bertuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-tuhan, Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa Al Masih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Budha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya.

Tapi marilah kita semuanya ber-Tuhan. Hendaknya negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya menyembah Tuhan dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber Tuhan secara kebudayaan, yakni dengan tiada “egoisme agama.” Dan hendaknya negara Indonesia suatu Negara yang ber-Tuhan.

Marilah kita amalkan, jalankan agama, baik Islam maupun Kristen dengan cara berkeadaban . Apakah cara yang berkeadaban itu ? Ialah hormat menghormati satu sama lain. (tepuk tangan sebagian hadirin).

Dari teks tersebut jelas terlihat, bahwa berTuhan secara kebudayaan adalah cara mengekspresikan kepercayaan pada Tuhan, cara memeluk agama dan menjalankan agama yang manusiawi, bukan beragama yang menghilangkan dimensi kemanusiaan, mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan. Melalui berTuhan secara kebudayaan inilah manusia tetap menjadi manusia karena kebudayaan dan peradabanlah yang membedakan manusia dengan makhluk lain; hewan, malaikat, iblis dan sebagainya.

Dalam konteks ini, Bung Karno mengingatkan bahwa berTuhan yang tidak berkebudayaan bisa membuat manusia terjebak pada “egosime agama” sehingga menafikan dan menista kelompok lain yang berbeda. Pengamalan agama sebagai manifestasi dari sikap berTuhan harus bisa memberikan manfaat pada yang lain dan masing-masing bebas mengekspresikan cara beragama dan berTuhan.

Dalam teks tersebut juga dijelaskan secara tegas bahwa negara Indonesia adalah negara yang berTuhan. Artinya setiap warga negara Indonesia harus beTuhan, dengan memberikan kebebasan bagi warganya untuk memilih dan menentukan Tuhannya dan kekebasan dalam mengamalkan keyakinannya pada Tuhan masing-masing tanpa harus saling menegaskan. Pernyataan ini secara tegas menunjukkan bahwa Indonesia menolak faham atheisme.

Dengan demikian tafsir yang menyatakan “Ketuhanan Yang Berkebudayaan” merupakan pengganti atas sila Ketuhanan Yang Maha Esa” atau cerminan dari pemikiran komunisme-atheisme jelas tidak sesuai dengan spirit dan kerangka filosofi yang dimaksudkan oleh Bung Karno. Sebaliknya justru melalui frasa “Ketuhanan Yang Berkebudayaan” itu Soekarno menginginkan agar praktek kehidupan berKetuhanan bangsa Indonesia memberikan manfaat secara nyata bagi seluruh warga bangsa Indonesia.

Melalui frase Ketuhanan yang berkebudayaan, Bung Karno menginginkan beragama dan berTuhan itu tidak harus memaksa manusia berubah menjadi malaikat, atau membuat bangsa Indonesia menjadi tersekat-sekat oleh agama dan keyakinan terhadap Tuhan. Ketuhanan Yang Berkebudayaan menurut Bung Karno merupakan sikap toleran dan moderat, memberikan ruang bagi kelompok lain untuk mengekpresikan keTuhannya secara bebas. Selain itu, Bung Karno juga menginginkan munculnya kretifitas yang membawa manfaat bagi kehidupan warga bangsa Indonesia sebagai cerminan dari kepercayaan kepada Tuhan.

Dari paparan di atas jelas terlihat, frasa Ketuhanan Yang Berkebudayaan merupakan pengejawantahan dari keyakinan terhadap Tuhan melalui laku hidup yang berbudaya. Dengan kata lain produk kebudayaan bangsa Indonesia merupakan cerminan dari keyakinan terhadap Tuhan .*** (Bersambung)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close