Opini

Syeh Al-Azhar, Paus Fransiscus, dan Gus Dur

Oleh: Muhammad Rodlin Billah*

Kalimat “Tuhan tak perlu dibela“ tentu tak asing lagi didengar. Ia sering dilekatkan kepada Almarhum KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan bahkan dijadikan judul buku yang berisi kumpulan kolom beliau yang dimuat di majalah Tempo pada kurun waktu 1970 hingga 1980.

Kang kyai Zastrouw Al-Ngatawi pernah menyampaikan dalam sebuah talk show, bila bagi orang-orang yang tak menyukai Gus Dur, pernyataan beliau semacam ini akan disalahartikan.

Mbak ning Yenny Wahid, yang sering mendampingi ayahandanya, juga pernah menegaskan bahwa sebenarnya kalimat ini terpotong. Lengkapnya adalah “Tuhan tidak perlu dibela, yang perlu dibela adalah makhluk Tuhan yang diperlakukan semena-mena oleh makhluk lainnya.“

Senin kemarin menjadi hari yang menarik bagi saya, setidaknya sebab satu hal: Grand Syaikh Al-Azhar Mesir, Dr. Ahmed Mohamed Ahmed el-Tayeb, bersama pemimpin Gereja Katolik, Paus Fransiscus, telah menandatangani sebuah dokumen „Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama“ di Uni Emirat Arab (UEA). Judul panjang dokumen ini, bahkan mungkin pertemuan antara kedua tokoh agama ini yang difasilitasi oleh UEA, awalnya tak begitu menarik bagi saya sampai kemudian saya membaca isinya.

Ternyata bagian pembukaannya saja sudah sangat menarik. Sebagaimana dirilis oleh http://humanfraternitymeeting.com, selain memuat kalimat “Atas nama (باسمِ, in the name of) Allah“ di awalnya, persis setelahnya ia juga berturut-turut memuat kalimat“ atas nama orang-orang tak bersalah yang oleh-Nya mereka dilarang untuk dibunuh”, “atas nama orang-orang miskin, melarat, yang terpinggirkan, dan mereka yang paling membutuhkan yang diperintahkan-Nya kepada kita untuk membantu mereka”, “atas nama para anak yatim, janda, pengungsi, dan mereka yang terusir dari rumah-rumah dan negara-negaranya, “atas nama semua korban perang, persekusi dan ketidakadilan”, “atas nama mereka yang lemah, yang hidup dalam ketakutan, tahanan perang dan yang tersiksa dari berbagai belahan dunia, tanpa kecuali”, dan seterusnya.

Ini saja sudah cukup menyindir saya; saya tak pernah melakukan sesuatu yang dapat meringankan beban mereka sedikit pun.
Meskipun mendadak saya menjadi sedih karena hal ini, saya teruskan membaca isinya sampai pada bagian yang membuat saya cukup kaget.

Ternyata dokumen yang ditandatangani oleh kedua pemuka agama terbesar tersebut memuat sebuah kalimat yang bernada sama dengan apa yang dikatakan Gus Dur:

وأنَّه – عَزَّ وجَلَّ – في غِنًى عمَّن يُدَافِعُ عنه أو يُرْهِبُ الآخَرِين باسمِه

Oleh sumber yang sama, kalimat ini diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai “God, the Almighty, has no need to be defended by anyone and does not want His name to be used to terrorize people.” Yang kalau saya terjemahkan menjadi *”Tuhan Yang Maha Kuasa tak butuh untuk dibela oleh siapapun, dan Ia tak ingin nama-Nya digunakan untuk meneror orang lain”.

Saya kemudian bertanya-tanya, bila Gus Dur dahulu dibenci sebagian orang sebab pernyataan serupa, akankah beliau berdua ini juga mendapatkan perlakukan yang sama? Tak lama kemudian segera saya sadari jika apapun jawaban dari pertanyaan ini saya yakin tak akan menghalangi sedikitpun kerja beliau berdua untuk kemanusiaan, sebagaimana Gus Dur.

Salah satu inti dokumen tersebut, yang cukup merepresentasikan kondisi aktual saat ini, yang akan saya usahakan sebisa mungkin untuk saya teladani dari beliau berdua adalah bagian berikut:

“Kami dengan tegas menyatakan bahwa agama tidak boleh menyebabkan perang, sikap kebencian, permusuhan, dan ekstremisme, juga tidak boleh menghasut kekerasan atau pertumpahan darah.”

Kenyataan tragis ini adalah konsekuensi dari penyimpangan ajaran agama. Ia dihasilkan dari manipulasi politik agama-agama dan dari interpretasi yang dibuat oleh berbagai kelompok agama yang, dalam perjalanan sejarah, telah mengambil keuntungan dari kekuatan sentimen keagamaan di hati para pria dan wanita untuk membuat mereka bertindak dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan kebenaran dalam beragama. Ini dilakukan untuk mencapai tujuan yang bersifat politis, ekonomi, duniawi dan picik.

Karena itu kami menyerukan kepada semua pihak untuk berhenti menggunakan agama dalam rangka menghasut kebencian, kekerasan, ekstremisme, dan fanatisme buta, serta untuk menahan diri dari menggunakan nama Tuhan untuk membenarkan tindakan pembunuhan, pengasingan, terorisme, dan penindasan.

*) Penulis, santri aktivis kemanusiaan tinggal di Jakarta.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close