Catatan dari Senayan

Surga Bukan Hanya Cerita

KETIKA sedang merenung, sulit menemukan ide untuk menulis, saya mendapat kiriman tulisan dari kawan. Saya baca dan resapi. Isinya sangat bagus dan menginspirasi. Sayang nggak ketemu siapa penulisnya. Sang kawan juga tak tahu siapa penulis sebenarnya. Yang bisa saya tangkap sang penulis sangat paham kondisi Indonesia dan negara-negara lain secara komprehensif. Saya terinspirasi. Lalu apa salahnya saya kutip dengan sejumlah modifikasi sesuai pengalaman saya pribadi. Toh ini tidak merugikan kelompok mana pun di tahun politik yang gegap gempita ini.

Musim dingin, ketika salju turun, di Eropa atau Amerika Utara, suhu bisa mencapai minus 40 derajat celsius. Artinya, kulkasmu masih lebih hangat..!!

Itulah saat semua tetumbuhan “mati”, kecuali pohon cemara. Itulah saatnya darahmu bisa berhenti, membeku menjadi es ketika kamu keluar rumah tanpa pakaian khusus.

Musim salju adalah ketika manusia bertahan hidup dan beraktivitas yang mungkin, tanpa bisa berjalan jika tak ada bantuan peralatan dan teknologi.

Tanpa itu, mati kedinginan. Dan ada satu periode dimana salju berbentuk badai. Badai salju. Terbayang, apa yg bisa dilakukan selain bertahan hidup di ruangan berpemanas.

Padang pasir. Begitu keringnya sampai sampai manusia yang berdiam di sana membayangkan sungai-sungai yang mengalir sebagai surga.

Hanya ada beberapa jenis pohon yang bisa hidup dalam suhu bisa di atas 40 derajat celcius. Keringatmu bisa langsung menguap bersama cairan tubuhmu. Dan keberadaan air adalah persolan hidup mati. Sungguh bukan minyak.

Saya sungguh tidak mengerti ketika ada orang yang masih belum percaya bahwa Indonesia itu serpihan “surga”.

Cobalah kamu bercelana pendek, pakai kaos dan sandal jepit jalan-jalan di Kanada ketika musim dingin. Atau jalan jalan di padang pasir di Timur Tengah. Dijamin mati..!!

Di sini, di negaramu, kapan saja, mau siang mau malam kamu bisa jalan-jalan kaosan tanpa alas kaki. Mau hujan mau panas, selamat.

Di Eropa, Amerika paling banter kamu akan ketemu buah-buahan yang sering kamu pamer-pamerin, seperti apel, anggur, sunkist, pier, dan semacamnya.

Di Timur Tengah paling kamu ketemu kurma, kismis, kacang arab, buah zaitun, buah tin.

Di Indonesia, kamu tak akan sanggup menyebut semua jenis buah dan sayuran, umbi-umbian, kacang-kacangan, bunga-bunga, rempah-rempah, saking banyaknya. Demikian juga jenis tanan dan pepohonan. Semua tumbuh subur, makmur.

Sampai-sampai Koes Plus menggambarkan, “orang bilang tanah kita tanah surga. Tongkat kayu dan batu jadi tanaman.” Atau orang Jawa bilang, “subur tanpo tinandur.”

Saya pernah berkereta api dari Amsterdam ke Groningen di Belanda sana dengan jarak tempuh 183 km. Melewati desa-desa, persawahan, dan permukiman. Sejauh mata memandang di kiri kanan lereta sepanjang jalan hanya menemukan satu dua jenis pohon. Rumputnya ya itu-itu juga. Memang tampak rapi, tapi monoton. Pamandangan serupa dari Amsterdam-Brussel-Paris.

Di Amerika Eropa, kamu akan ketemu makanan lagi lagi sandwich, hot dog, hamburger. Itu itu saja yang divariasi. Paling banter steak, es krim, keju. Di Timur tengah? Roti, daging dan daging dan daging lagi.

Di Indonesia? Dari Sabang sampai Merauke, mungkin ada ratusan ribu varian makanan. Ada puluhan jenis soto, varian sambal, olahan daging, ikan dan ayam tak terhitung macamnya.

Setiap wilayah ada jenisnya. Kue basah kue kering ada ribuan jenis. Varian bakso saja sudah sedemikian banyak. Belum lagi singkong, ketan, gula, kelapa bisa menjadi puluhan jenis nama makanan.

Dan tepian jalan dari Sabang sampai Merauke adalah garis penjual makanan terpanjang di dunia. Saya tidak berhasil menghitung penjual makanan bahkan untuk kawasan dari Kemayoran ke Cempaka Putih saja.

Di Indonesia, kamu bebas mendengar pengajian, sholawatan, lonceng Gereja, dang dut koplo, konser rock, jazz, gamelan dan ecrek-ecrek orang ngamen. Di Eropa, Amerika, Timur tengah, belum tentu kamu bisa menikmati kecuali pakai head set.

Saya ingin menulis betapa indah surganya Indonesia dari segala sisi. Hasil buminya, cuacanya, orang-orangnya yang cerdas-cerdas kreatif dan bersahabat, budayanya, toleransinya, guyonannya.

Keindahan tempat-tempat wisatanya dan seterusnya. Saya tidak mungkin mampu menulis itu semua meskipun jika air laut menjadi tintanya. Saking tak terhingganya kenikmatan anugerah Allah SWT pada bangsa

Jika kamu tidak bisa mensyukuri itu semua?Jiwamu sudah mati.

Pesan yang tersirat: Janganlah “surga” kita ini kita hancurkan hanya karena syahwat berkuasa dan keserakahan ketamakan tiada batas. Janganlah kehangatan persaudaraan yang dicontohkan oleh mbah-mbah kita, kakek nenek kita, dan para leluhur kita … dihancurkan hanya karena kita merasa paling benar dan paling pintar.

Allah hanya mensyaratkan kamu dan kita semua bersyukur agar “surga” ini tidak jadi “neraka”. Bahkan andai kamu sering bersyukur maka berbagai kenikmatan itu akan ditambah, sebagaimana janji Allah, “laazidannakum”

Bersyukur itu di antaranya dengan tidak merusak lingkungan. Menjaga alam lingkungan, sistem nilai, budaya asli, kebersihan, dan semacamnya.

Jika kita merusak alam, niscaya alam akan berproses membuat keseimbangan dan keadilan. Bisa jadi banyak di antara kita yang menganggap semua itu musibah. Padahal itu “hukum alam”.

Dua pekan lalu saya melintasi daratan Taiwan, melewati lereng gunung dan kaki bukit. Pemandangan indah, tumbuhan menghijau. Yang saya heran saya tak menemukan bangunan rumah atau lainnya di kawasan itu. Dari kawan di Taiwan yang memandu perjalanan saya mendapatkan jawaban. Di sini orang tidak boleh membangun rumah di lereng gunung atau kaki bukit. Taiwan dikenal sebagai daerah rawan gempa. Berbahaya, ada ancaman longsor dan bisa mencelakakan mereka yang tinggal di bangunan-bangunan itu. Penduduk hanya boleh membangun di kawasan yang aman.

Di sisi lin, politik, berjangka pendek jangan sampai mengubah “surga” ini menjadi “neraka”. Jangan pula berkelahi karena politik. Pandai-pandailah menahan diri seperti orang berpuasa. Jangan menjadi pengikut orang-orang yang haus kekuasaan dan ketamakan luar biasa.

Maka kenikmatan apa lagi yang hendak kita dustakan?

Mari jaga NKRI demi anak cucu. Maka dalam pemilu yang akan datang sebentar lagi pilihlah pemimpin dengan mata hatI.

Negeri ini diwariskan kepada anak cucu kita. Beristikhoroh dan berdoalah agar pemilu ini menuntun negeri tercinta menjadi Baldatun thoyyibatun warabbun ghofuur.

Salam.

KOMENTAR
Tags
Show More
Close