Opini

Surat yang Mendamaikan Hati

One Day One Hikmah (12)

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“Ya Allah. Mengapa Engkau takdirkan aku menjadi penguasa!”

Demikian ungkap penuh keresahan dan kegelisahan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz. Selepas menjadi penguasa Dinasti Umawiyah di Damaskus, Suriah. Saat itu, malam telah sangat larut. Sebelum itu, selama berhari-hari, betapa ia kerap sulit memejamkan mata. Meski malam telah sangat larut. Amanah yang ia sangga, sebagai penguasa tertinggi negara, ternyata terasa sangat berat baginya.

Penguasa yang satu ini adalah penguasa ke-8 Dinasti Umawiyah. Terkenal adil dan bijak, cicit ‘Umar bin Al-Khaththab ini lahir di Madinah Al-Munawwarah pada 61 H/681 M (ada yang mengatakan 63 H/684 M) dan tumbuh dewasa di Helwan, Mesir. Hingga usia sekitar 20 tahun.

Selepas itu, ia kemudian dikirim ke Kota Nabi. Untuk menimba ilmu kepada sederet ulama kondang. Lantas, ketika ayahnya berpulang, ia kembali ke Damaskus dan menikah dengan saudara sepupunya, seorang puteri ‘Abdul Malik bin Marwan, penguasa ke-5 Dinasti Umawiyah. Bernama Fathimah.

Setahun selepas itu, kala berusia 26 tahun, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz diangkat Al-Walid bin ‘Abdul Malik sebagai Gubernur Madinah. Menggantikan Hisyam bin Isma‘il. Selanjutnya, putera ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan ini diangkat menjadi Gubernur Makkah.

Selama menjabat gubernur, dua wilayah itu menjadi kawasan yang stabil dan aman. Jabatan itu ia pegang hingga 93 H/712 M. Selepas itu, ia kembali ke Damaskus. Untuk menjadi menteri utama pada masa pemerintahan Sulaiman bin ‘Abdul Malik. Dan, jabatan sebagai orang nomor satu Dinasti Umawiyah ia jabat sejak 99 H/717 M. Menggantikan iparnya yang juga saudara sepupunya: Sulaiman bin ‘Abdul Malik.

Tidak kuasa mengatasi kegelisahan dan keresahan hatinya, akhirnya suami Fathimah binti ‘Abdul Malik itu mengirim sepucuk surat. Kepada Al-Hasan Al-Bashri, seorang ulama kondang di Bashrah, Irak kala itu. Untuk meminta nasihat dan arahan guna mengatasi keresahan dan kegelisahan hati yang ia rasakan.

Tidak lama selepas menerima surat dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Al-Hasan Al-Bashri pun segera membalas surat itu. Ulama kondang itu, antara lain, menulis:

“Ammâ ba‘d. Amir Al-Mukminin! Sungguh, dunia adalah tempat berkelana. Bukan tempat bermukim selamanya. Nabi Adam a.s. diturunkan dari surga ke dunia tidak lain karena sebagai hukuman atas dirinya. Karena itu, waspadalah terhadap dunia. Sungguh, bekal dari dunia ini adalah sikap waspada. Kekayaan dari dunia adalah hidup seperlunya. Pada setiap saat, sejatinya dunia melakukan pembunuhan atas diri orang yang menghimpunnya. Juga, dunia melecehkan dan memiskinkan orang yang memuliakannya. Dunia laksana racun yang menelan orang yang tidak mencermatinya dan kemudian mematikannya. Karena itu, berbekal di dalamnya adalah dengan tidak terpesona oleh dunia. Sedangkan kekayaan di dalamnya adalah dengan hidup sahaja.

Amir Al-Mukminin! Hendaklah sikap Anda terhadap dunia laksana sikap orang yang sedang mengobati luka. Ia menjaga diri sebentar, karena khawatir terhadap sesuatu yang tidak ia sukainya dalam masa yang lama. Ia bersabar atas getirnya obat, takut atas derita yang berlama-lama. Sejatinya, orang mulia adalah orang yang berucap benar, menapakkan kaki dengan menundukkan kepala, hanya menyantap makanan yang baik dan halal, memejamkan mata dari hal-hal yang haram, penuh rasa khawatir, baik di kala di darat maupun di laut, dan senantiasa berdoa, baik dalam kesulitan maupun kelonggaran. Andai bukan karena ajal yang telah ditetapkan atas diri mereka, tentu mereka tidak ingin nyawa mereka tetap berpadu dengan tubuh mereka. Ini, karena mereka takut hukuman-Nya dan mengharapkan balasan-Nya. Dalam hati mereka, Sang Khalik demikian agung. Sedangkan semua makhluk, di mata mereka, tiada artinya sama sekali bagi mereka.

Amir Al-Mukminin! Tafakkur dapat membuahkan ajakan untuk melakukan kebaikan dan mengamalkannya. Sedangkan penyesalan atas keburukan mengajak pada sikap meninggalkannya. Dan, sesuatu yang bercorak fana dapat berpengaruh atas sesuatu yang bercorak baka. Demikian halnya, bersusah payah yang membangkitkan kedamaian lebih baik ketimbang kesenangan sesaat yang mengakibatkan penyesalan dan kesengsaraan tiada hentinya. Waspadalah terhadap pesona dunia yang dapat mengaparkan, merendahkan, dan mematikan siapa saja, karena mengaguminya lantas terlena.

Bila demikian, yang kemudian terjadi adalah hari-hari yang telah melintas tidak dapat dijadikan pelajaran atas hal-hal yang bakal terjadi di masa depan. Ini adalah akibat perbuatan di masa lalu, yang tidak gentar terhadap kebenaran peringatan Allah Swt. yang dikemukakan, tidak menyadarkannya. Yang ada dalam kalbu, dalam kaitannya dengan pesona dunia, hanyalah cinta buta semata. Barang siapa kalbunya hanya tertuju pada kehidupan dunia semata, hingga saat kematian menjemput pun dia akan senantiasa memburu pesona yang menurutnya merupakan sesuatu yang paling memikat baginya. Akibatnya, pada dirinya, berpadu dua derita. Yaitu, kepedihan sakaratulmaut dan keperihan tidak kuasa merengkuh pesona yang ia damba. Dengan demikian, ia meniti perjalanan panjang menuju ke hadirat Allah Swt. Tanpa bekal apa pun dan datang (ke akhirat) tanpa persiapan pada dirinya.

Amir Al-Mukminin! Karena itu, waspadalah sepenuhnya terhadap pesona dunia. Sebab, pesona itu laksana ular. Manakala disentuh sedikit saja, ia kuasa membunuh dengan bisanya. Berpalinglah dari pesona segala sesuatu yang ada di dalamnya, karena hanya sedikit dari semua itu yang akan kuasa menyertai Anda. Lepaskanlah hasrat Anda padanya, karena Anda yakin akan berpisah dengannya. Jadikanlah kepahitan berat yang ada padanya sebagai dambaan yang senantiasa Anda idamkan selepasnya. Waspadalah, karena setiap kali seseorang hamba dunia terbuai oleh kesenangan yang ada di dalamnya, akibat buruknya akan senantiasa menyertai dirinya. Manakala sesuatu yang ia gemari dapat ia rengkuh, sesuatu yang dia benci kelak akan menjadi penggantinya. Karena itu, sesuatu yang kini menyenangkan, kelak akan menjadi menyedihkan. Yang kini bermanfaat, kelak akan membahayakan. Kemakmuran di dalamnya kelak akan mengantarkan pada kepedihan. Kenikmatannya pun kelak akan dikembalikan menjadi kepahitan.

Amir Al-Mukminin! Pandanglah pesona dunia dengan tatapan selamat jalan. Bukan dengan tatapan jatuh cinta. Ketahuilah, dunia memedayakan. Seolah, yang tinggal di dalamnya akan hidup abadi selamanya. Juga, menyajikan kesenangan bagi pemburu kesenangan di dalamnya. Sejatinya, kunci kesenangan dan kekayaan dunia pernah ditawarkan kepada Nabi Saw. Namun, beliau menolaknya. Tidak lain karena beliau mengetahui bahwa sesuatu yang tidak disukai Allah Swt., beliau pun tidak menyukainya, dan sesuatu yang dipandang kecil Allah Swt., beliau pun memandangnya hina. Andai beliau menerima tawaran itu, tentu hal itu menjadi penanda bahwa beliau mencintai pesona dunia.
Kiranya Allah Swt. berkenan melimpahkan rahmat kepada kami. Dengan nasihat ini. Juga, kepada Anda!
Wassalâmu‘alaikum wa Rahmâtullâh wa Barakâtuh.”

Betapa gembira ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menerima surat itu. Nasihat Al-Hasan Al-Bashri itu kemudian kerap ia jadikan sebagai pedoman dan acuan. Dalam berlaku dan mengambil keputusan selama ia menjadi [email protected]

Penulis alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, pernah nyantri di Ponpes Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Kini pengasuh Pesantren Nun Baleendah, Bandung.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close