Catatan dari Senayan

Sumringah di Istana Bogor, Tegang di Mega Kuningan

EFEKTIF-efisien, itu yang dapat disimpulkan dari pertemuan Joko Widodo dengan enam ketua umum partai koalisi pendukungnya, Pertemuan di Istana Bogor berlangsung sederhana dan santai di awal, saat ketemu, dan sesudahnya. Tampak sumringah di wajah-wajah Presiden Jokowi dan para ketua umum partai politik pendukung.

Ini beda degan temu Yudhoyono dan Prabowo Subianto di kediaman SBY Mega Kuningan, Selasa malam. Penuh seremoni dari awal sampai akhir. Di kediaman sudah bersiap pengurus Partai Demokrat lengkap. Prabowo pun membawa pasukan besar. TIga bintang pertemuan: itu SBY, Prabowo, dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengenakan batiik senada, bercorak sogan, di akhir pertemuan ada joint statement, semua rombongan tampil mendengar simpulan SBY dan Prabowo.

Temu di Mega Kuningan laiknya acara kunjungan kenegaraan, serba teratur dan protokoler. Itu memang ciri SBY ketika dia masih menjabat menteri, sebagai Presiden, maupun petinggi partai.

Yang lebih penting, melihat perbedaan mencolok tampilan dan hasil antara pertemuan koalisi Jokowi dengan temu SBY-Prabowo lewat televisi. Saat diambil gambar Jokowi dan para ketua parpol terlihat senyum mengembang. Suasananya sangat cair dan santai Tapi di Temu SBY, Prabowo, semua yang hadir terlihat kaku dan tegang.

Ada perbedaan mencolok bak bumi dan langit. Setidaknya ada dua faktor. Pertama, Tujuh tokoh yang bertemu di Istama Bogor semuanya orang sipil yang jauh dari tradisi formal, sementara tiga bintang di Mega Kuningan adalah kaum serdadu walaupun dengan pangkat yang berbeda. Wajar kalau performance mereka seperti itu. Serba sikap sempurna.

Juga terkait erat dengan target pertemuan. Koalisi pendukung Jokowi ibarat main bola sudah ada umpan matang tinggal menceploskan bola ke gawang. Jokowi tinggal membangun soliditas dan menentukan satu nama cawapres. Meski hingga saat ini masih teka-teki siapa satu nama yang sudah dipastikan sebagi cawapres Jokowi tapi dari body language para ketua parpol pendukungseolah semuanya sudah kelar. Padahal bisa jadi satu nama itu sesungguhnya belum disebut tapi mereka menyepakati penentuannya pasrah bongkokan kepada Jokowi. Jadilah trik tingkat tinggi yang kemudian ramai jadi bahan tebakan.

Sementara itu SBY dan Prabowo menyandang beban maha berat. Alih-alih menyepakati cawapres, kepastian membentuk koalisi pun tak tercapai dalam pertemuan itu. Sudah diduga sebelumnya pertemuan SBY dengan Prabowo tak akan membuahkan hasil yang memadai. Satu kaki Prabowo telanjur terikat dengan PKS. Komitmen berkoalisi antara Gerindra dengan PKS seolah sudah lahir batin. Prabowo tersandera, karena PKS telanjur mematok cawapres dari pihaknya adalah harga mati.

Ini yang menjadi beban berat Prabowo ketika berunding dengan SBY. Prabowo tak bisa berkata apa-apa saat SBY menawarkan AHY menjadi cawapres. Karena jika itu disepakati pastilah PKS akan murka dan menarik diri dari koalisi. Dalam politik itu serba mungkin.

Bisa jadi demi masa depan partai PKS membelot ke koalisi pendukung Jokowi atas nama ijtihad sebagaimana dilakukan Zainul Majdi alias TGB. Prabowo sudah telanjur terkena jebakan Batman PKS. Sampai hari ini PKS tetap kukuh cawapres harga mati. Kehilangan PKS berarti akan banyak aset yang lepas. Antara lain komunitas 212 yang realitasnya sangat dekat dekat dengan PKS.

Maka kita bisa lihat pada joint statement di Mega Kuningan tempo hari, SBY harus melingkar-lingkar menjelaskan hasil pertemuan yang ternyata berakhir buntu itu. Prabowo pun kesulitam berbasa-basi karena telanjur didominasi pidato politik SBY yang berakhir tanpa happy ending itu…

Sulit dibayangkan kerisauan SBY bersama Demokrat. Prabowo bersama Gerindra, PKS, juga PAN. Pendaftaran capres- cawapres tinggal menghitung hari, tapi alih-alih pasangan capres-cawapres, koalisi parpol pun belum mereka sepakati. Mereka malah menunggu fatwa dari komunitas alumni 212. Seolah pertemuan SBY-Prabowo, SBY-Zulkifli Hasan tak berjejak.

Salam..

KOMENTAR
Tags
Show More
Close