"SUMBAR"

"SUMBAR"

Oleh: Aziz Ahmadi

KATA "judul" seperti di atas - menurut bahasa Indonesia - disebut, Polisemi dan atau Homonim.

Polisemi, adalah kata yang memiliki arti ganda, atau lebih dari satu. Homonim, adalah kata yang lafal dan ejaan/hurufnya sama, tapi maknanya berbeda.

Pertama.
"Sumbar". Begitu bunyi dan ejaannya. Dapat bermakna, omong besar, sombong, pamer kehebatan, busungkan dada, atau jumawa, mentang-mentang & menantang.

Dalam kehidupan sehari-hari, akrab dijumpai kata sebagai bentukannya yang lain. Ini diperlukan untuk menimbulkan efek "lebih" atau "sangat". Misalnya, sumbar-sumbar, atau sesumbar.

Kedua. Juga bisa bermakna lain. Kali ini Sumbar, merujuk pada bentangan geografis tertentu. Menunjuk pasti sebuah wilayah administrasi. Sebuah propinsi, bagian integral dari totalitas & soliditas, NKRI.

Sumbar, adalah kata lain atau akronim dari, Sumatera Barat. Hamparan bumi berbasis primordial, Minangkabau. Ibu suri sekaligus ibu susu atau almamater, dari sejumlah besar pendiri bangsa, pahlawan & pejuang nasional.

*

Hari-hari ini, Sumbar Sumatera Barat, sempat terhenyak. Njumbul sampai njondil, mendadak. Ketenangan & kedamaiannya, tersentak. Hanya gara-gara kata/kalimat sederhana.

"Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi, yang memang mendukung Negara Pancasila". Kata Uni Puan Maharani, saat menyerahkan rekomendasi bakal calon Gubernur/Wakil, untuk Propinsi Sumbar, pada 2 September 2020.

Belum/tidak pasti, entah di mana kelirunya kalimat itu? Namun yang sudah pasti, terjadi salah mengerti. Kalimat itu, dinilai menyodok & melukai. Lalu viral, menjadi tema pokok bahasan. Sayangnya, berlangsung dalam suasana curiga. Lalu menjadi pro-kontra.

Bisa jadi, mungkin (karena faktor) momentumnya. Meluncur pada event politik, di tahun politik, oleh tokoh politik tingkat tertinggi.

Akibatnya, energi positip tersedot sia-sia. Segera merubah situasi, menjadi energi negatip. Gaduh politik, tak terelakkan. Kecemplung wajan politik. Kemampul, oleh panas-didih gorengan politik.

Dominonya, muncul "ahli" dan "analis" baru, di bidang bahasa Indonesia. Bahasa politik & politik berbahasa. 

Pihak yang satu, bersembunyi di balik kata, semoga. Itu bukti sebuah harapan besar dan doa yang amat tulus. Bagaimana mungkin, sebuah harapan & doa diinterupsi? Bahkan ditafsir/ diinterpretasi dengan berbagai kecurigaan?, katanya.

Sebaliknya, di pihak yang lain. Kalimat itu menjadi rusak spirit doanya. Di sana terselip, kata memang - yang memiliki arti, "benar" atau "benar-benar". Terkesan kuat, ada gundhukan rasa kurang yakin, kecewa, curiga, bahkan olok-olok satir, sebagai motif utamanya.

Konon katanya, walaupun kata memang ditiadakan, tetap saja kalimat dimaksud bermasalah. Sudah cacat bawaan, imbuhnya.

Jadilah, Sumbar kesambar sumbar. Akibatnya, nyaris atau seakan, se-Sumbar saur manuk merespon sesumbar."

*

Tulisan ini lepas dari itu semua. Tidak ingin ikut ngobak-obak & ngobok-obok air yang bening. Tidak ingin masuk dalam pro & kontra, yang hanya menambah keruhnya susana.

Karenanya, mari belajar banyak dari issu ini. Siapapun mesti (kembali) mempersegar kesadaran, akan satu hal. Betapa krusial, penting dan kompleksnya, berbahasa dengan baik dan benar, dalam berkomunikasi. Siapapun, kapanpun, dan di manapun, sesuai level masing-masing.

Ketika bicara tentang komunikasi verbal (tulisan atau lisan), ekspresi atau bahasa tubuh, amat menentukan kelancaran proses dan hasil yang sempurna. Sudah barang tentu, faktor bahasa, tutur kata, dan kekayaan referensi, menjadi kunci utama. 

Dalam konteks itulah, perlu pemahaman yang cukup tentang, misalnya, semantika, diksi, narasi, literasi, dan lain-lain, demi tercapainya tujuan, tanpa menimbulkan masalah ikutan. 

Semantik.
Disebut juga semantika. Merupakan cabang linguistik. Mempelajari, arti yang terkandung dalam suatu bahasa, kode, atau jenis representasi lainnya.
Singkatnya, "pembelajaran tentang makna".

Semantik, biasanya dikaitkan dengan dua aspek. (1) Sintaksis. Pembentukan simbol yang lebih kompleks, dari simbol yang sederhana. (2) Pragmatis. Penggunaan praktis suatu simbol oleh suatu komunitas, pada konteks tertentu.

Diksi.
Adalah, pilihan kata yang mesti tepat dan selaras. Selaras dengan penggunaan dan peruntukannya. Sesuai dengan ide atau gagasannya. Dengan demikian, diperoleh efek tertentu yang maksimal dan sesuai yang diharapkan.

Narasi. 
Adalah, salah satu jenis pengembangan paragraf dalam sebuah tulisan atau ucapan. Melukiskan rentetan peristiwa7 dari waktu ke waktu. Dari awal, tengah, hingga akhir.

Dari sekian banyak model narasi, dua diantaranya adalah, narasi artistik & narasi sugestif. Keduanya, merupakan fasilitas bahasa, untuk menyampaikan maksud tertentu, kepada pembaca atau pendengar.

Setiap narasi, menuntut syarat-syarat tertentu. Kecerdasan penggunaan bahasa yang logis, berdasar fakta yang objektif, dan bersifat sugestif. Maknanya, mampu membujuk, menggugah dan akhirnya meyakinkan.

Literasi. 
Literasi, adalah istilah yang lebih umum. Merujuk pada "seperangkat kemampuan dan keterampilan", individu. Terkait dengan kemampuan dan ketrampilan, dalam membaca, menulis, menghitung, dan mengucap, atau bertutur dan berbicara. 

Kemampuan dan ketrampilan literasi, juga amat penting dan perlu, untuk memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari. Bukan sebaliknya. Justru mendapat masalah, karena kering dan dangkalnya narasi & literasi.

*

Dalam konteks berliterasi atau berkomunikasi, ada istilah, keselio lidah atau slip of thongue.

Apakah itu? "Slip of thongue, are something that you say by accident, when you intended to say something else”.

Itulah resiko. Harus dihindari. Amat perlu senantiasa bersikap fit & proper (patut dan layak). Kenapa? Keselio lidah, nyaris selalu menjadi pangkal timbulnya masalah. Membawa mala petaka & bencana. Penyulut ampuh, kriwikan dadi grojogan. Pengungkit teguh, guyonan dadi grejekan.

Pepatah mengatakan, "a slip of the foot you may soon recover, a slip of the tongue you never will“. (Keselio kaki dapat segera disembuhkan. Namun, tidak untuk keselio lidah. Alias tidak bisa disembuhkan).

*

Sampai titik ini, kearifan lokal kembali menemukan bukti pembenaran secara syah dan meyakinkan. 

Banyak terjadi, salah faham, fitnah, dan konflik. Bahkan pertumpahan dan perang, yang di/tersulut sumbu pendek, bermerek kata & kalimat, atau narasi & literasi, yang kurang atau tidak presisi.

Pikir dahulu pendapatan, sesal kemudian ambyar tiada berguna. Introspeksi dan menahan diri. Meningkatkan kualitas literasi & narasi ...

Pena, lebih tajam dari meriam. Fitnah lebih kejam dari pembunuhan. Kata, lebih menusuk dari senjata.

Ajining rogo dumunung busono. Ajining diri dumunung lathi.
Mulutmu Harimaumu ...

Jakarta, 9 September 2020