Sugiharto, Suharso Monoarfa di Muktamar NU Kediri

Sugiharto, Suharso Monoarfa di Muktamar NU Kediri
Ilustrasi

Oleh: Fachry Ali
Kolumnis

SEKITAR pukul 10 pagi hari pertama lebaran 2004, Suharso TV Monoarfa menelpon saya. ‘Ry,’ katanya, ‘elo ditanyain Sugih.’ Yang dimaksud Sugih itu adalah Sugiharto. Tengah malam beberapa hari sebelumnya, ketika Yudhoyono-Kalla mengumumkan pilihan anggota kabinet, saya, Richard Claprot dan beberapa lainnya berada di rumah Sugih. Dan ketika namanya disebut sebagai Menteri BUMN, Sugih meminta saya menyampaikan ‘sambutan’ kecil dan memimpin doa. Tapi, yang terakhir ini, memimpin doa, diambil alih sama Sugih sendiri —karena dia tidak yakin saya bisa melakukannya.

Melalui Suharso Monoarfa, pada 1999, saya bertemu Sugiharto yang pada waktu itu menjabat direktur keuangan Metco, perusahaan minyak milik Arifin Panigoro. 

"Kita perjuangkan Sugih menjadi Menteri BUMN," kata Suharso Monoarfa kepada saya. Sejak itu, kami bertiga, plus Sayuthi Asyatiri, selalu bersama-sama. Tetapi, usaha Suharso Monoarfa menjadikan Sugih Menteri BUMN baru berhasil pada kabinet Yudhoyono-Kalla pada 2004 itu. Dengan nekat, Suharso Monoarfa memeluk Jusuf Kalla dari belakang dan membisikkan ‘Sugiharto Menteri BUMN.’ Itu terjadi di detik-detik terakhir di Istana sebelum Yudhoyono-Kalla mengumumkan kabinet mereka. 

Dalam konteks itu pula, ketika Lebaran, Suharso Monoarfa, kini Menteri Pembangunan/Ketua Bappenas, menelpon saya. Karena tidak tahu bahwa setiap Lebaran harus berkunjung ke rumah Menteri, maka absennya saya mendorong Sugiharto bertanya tentang keberadaan saya kepada Suharso Monoarfa.

Tetapi, ketika saya sampai, kami justru berbicara tentang Muktamar NU di Kediri yang berlangsung pada 1999.

"Iya ya?! Kita dulu sama-sama hadir di sana," kata Sugiharto. Fahri Hamzah yang juga berada di situ tampak tidak ‘nyambung’ dengan percakapan ini.

Pada waktu itu, menjelang Muktamar Kediri, saya mengajak Sugiharso, Suharso Monoarfa dan Laode Kamaludin plus Abdullah Sjarwani menghadiri muktamar tersebut. Semuanya bersemangat. Abdullah Sjarwani bahkan mengatakan bahwa kami harus menyewa rumah di Pare, karena hotel-hotel di Kediri telah penuh. Tapi, melalui kontak saya, Sya’roni, kakak Abdul Hamid, hotel bisa kami peroleh. Dan melalui Ketut Mardjana, direktur keuangan CMNP, saya bahkan dapat bantuan mobil mercy sebagai transportasi.

Yang lucu, Sugiharto, Laode (ditemani Abdullah Sjarwani) telah siap ke medan muktamar, lengkap dengan peci, pada pukul 8 malam. Saya dan Suharso Monoarfa hanya tertawa-tawa saja. Kecuali Abdullah Sjarwani, Sugiharto dan Laode Kamaludin mengira muktamar itu sebuah peristiwa sistematis. Terstruktur dan tepat waktu. Maka, ketika saya dan Suharso Monoarfa sampai pada pukul 11 malam, Sugiharto dan kawan-kawan sudah mengantuk —sementara yang mereka lihat hanya kerumunan orang yang hiruk-pikuk. Mereka tidak tahu bahwa muktamar baru akan seru pada pukul 00.00 ke atas. Dan sampai pagi. Akibatnya, Sugiharto dan kawan-kawan pulang ke hotel untuk tidur. Esoknya, mereka kembali ke Jakarta.
Yang tertinggal hanya saya dan Suharso sampai muktamar usai. 

Dengan menggunakan celana batik dan berbaju putih, Suharso Monoarfa berbisik kepada saya. ‘Ry,’ kata dia. ‘Elo tahu apa yang mereka omongin?’ Ketika saya bertanya apa, Suharso, sambil cekikikan, mengatakan: "Elo diomongin peserta. Wah Fachry Ali sekarang ditemani Cina. Makanyanya pulang-pergi naik Mercy." Saya tertawa ngakak. Dan berkata: "Berarti elo disangka Cina, So."

Ketika kami kumpul lagi di Jakarta, Sugiharto nyeletuk: ‘Wah, gua enggak kuat ikut muktamar NU. Mata guwa sepet,’ katanya sambil tersenyum.

Dan tokoh yang tersenyum itu hari ini telah pergi menghadap Allah. Moga segala dosanya diampuni. Selamat jalan Sugiharto. Insya’Allah kita bertemu di medan muktamar yang sesungguhnya.