Studi ANU: Komodo Berasal dari Australia

Studi ANU: Komodo Berasal dari Australia
Foto-kompas.com

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Sebuah studi baru yang dilakukan Australian National University (ANU) mengungkap sejarah dari kadal raksasa, Komodo. Studi itu menunjukkan, meskipun terkenal di Indonesia, komodo kemungkinan berasal dari Australia, seperti yang diprediksi oleh temuan fosil sebelumnya.

Komodo terkenal karena ukuran dan keterampilan berburunya, dengan panjang mencapai hingga tiga meter. Mereka memangsa kerbau, rusa, bahkan sesekali manusia. Tapi bukan itu saja yang membedakannya.

Penulis utama studi, Carlos Pavón Vázquez menerangkan, di Australia terdapat biawak pasir yang merupakan spesies kadal yang berbeda—nenek moyang dari biawak pasir adalah sejenis goanna. Biawak pasir hanya ditemukan di Australia dan selatan Papua Nugini, sedangkan komodo hanya ditemukan di beberapa pulau di Indonesia.

Agar mereka bisa kawin, mereka pasti pernah hidup bersama beberapa waktu lalu. Ini adalah bukti jelas pertama dari jenis kawin silang, yang dikenal sebagai hibridisasi, dan terjadi pada biawak liar.

“Data kami mendukung teori bahwa komodo berasal dari Australia dan kemudian menyeberang ke Indonesia sebelum punah di sini,” ujar dia, seperti dilansir tempo.co, Selasa (1/3/2021).

Menurutnya, studi ini membuktikan hibridisasi bisa memiliki efek jangka panjang. Dalam kasus ini terjadi jutaan tahun yang lalu, tapi tanda-tandanya masih ada di monitor pasir. Mereka memiliki lebih banyak kesamaan dengan komodo.

Pavón Vázquez menjelaskan bersama dengan bukti fosil sebelumnya dari Queensland, bukti ini mengguncang apa yang diketahui tentang biologi komodo selama ini. 

Sebelumnya, kata dia, diasumsikan bahwa komodo adalah contoh yang baik dari apa yang para ahli biologi sebut sebagai aturan pulau—dengan hewan yang lebih kecil tumbuh lebih besar di lingkungan pulau.

“Tapi temuan kami menawarkan bukti yang lebih kuat bahwa komodo sudah berukuran besar ketika berasal dari Australia,” katanya.

Dia juga menggunakan berbagai jenis data untuk untuk mendeteksi hibridisasi. Menurutnya, hal itu penting karena ketika terjadi jutaan tahun lalu sulit untuk dideteksi. 

“Sekarang kita bisa tahu dengan melihat morfologi dan gen hewan itu,” tutur dia.

Penelitian ini dipublikasikan di jurnal Systematic Biology. Pavón Vázquez menerangkan semakin banyak yang diketahui tentang biologi komodo, maka akan semakin baik juga untuk melindunginya dari ancaman di masa depan. 

“Baik dari manusia maupun lingkungan,” ujar dia menambahkan. (Jo)