Ekonomi

Stimulus Ekonomi untuk Covid-19, Uang Rp152 T Digunakan Suntik BUMN

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Anggaran stimulus ekonomi yang awalnya digunakan menekan dampak pandemi virus corona (Covid-19), lebih banyak digunakan untuk menutup kesalahan pemerintah dalam mengelola BUMN.

Dari Rp405,1 triliun anggaran untuk penanganan pandemi corona, Rp152,15 triliun di antaranya digunakan untuk menyuntik BUMN.

“Padahal awalnya pemerintah menyebut dana itu digunakan untuk stimulus UMKM dan dunia usaha,” kata Ekonom Universitas Indonesia Faisal Basri, dalam webinar yang diselenggarakan Kahmipreneur, Senin (1/6/2020).

Ia menambahkan, dii belakang itu adalah menutup borok-borok yang telah dilakukan pemerintah selama ini lewat BUMN. Bayangkan kalau BUMN gagal bayar, tidak bisa melanjutkan proyek-proyek yang dibebankan kepada mereka, hancur lebur.

Faisal mengatakan Rp25,27 triliun dikucurkan ke enam BUMN sebagai penyertaan modal negara (PMN). Enam BUMN yang dimaksud adalah PT PLN (Persero), PT Hutama Karya (Persero), PT Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (Persero), PT Permodalan Nasional Madani, dan PT Pengembangan Pariwisata Indonesia (Persero).

Kemudian sebanyak Rp94,23 triliun lainnya dikucurkan ke tiga BUMN lewat skema pembayaran kompensasi. Uang itu digelontorkan ke PT Pertamina (Persero), PT PLN (Persero), dan Perum Bulog.

Sementara Rp32,65 triliun diberikan lewat dana talangan investasi ke enam BUMN. Mereka adalah Perum Bulog, PT Garuda Indonesia Tbk, PTPN, PT Kereta Api Indomesia, PT Krakatau Steel Tbk, dan Perum Perumnas.

Faisal menduga sebagian dana suntikan itu dipakai untuk membayar utang BUMN. Dia mencontohkan kucuran Rp650 miliar untuk Perumnas.

Jumlahnya sama dengan utang yang jatuh tempo dari perusahaan perumahan pelat merah itu. “Disiplin fiskal kita jadi kacau. Jadi untuk menopang proyek-proyek strategis nasional, tidak hanya APBN, tapi juga dibebankan ke BUMN melebihi dari kemampuannya,” ucapnya.

Faisal menilai pengucuran dana-dana itu tidak tepat. Apalagi dengan dalih dampak ekonomi corona.

Sebab menurutnya banyak sektor lain yang lebih butuh perhatian karena dampak pandemi. Salah satunya, sektor tanaman pangan yang pertumbuhannya anjlok -10,31 persen.

“Saya ingin bertanya kepada kita semua, negara kita mau dibawa ke mana? Berikutnya adalah sebetulnya ini semua tidak ada hubungannya dengan covid,” ucapnya. (Jo)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close