Olahraga

Steffi Graf, Anak Agen Asuransi Ratu Golden Slam

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Pada 1988 menjadi momen istimewa bagi petenis asal Jerman, Steffi Graf. Saat itu Graf berhasil meraih enam gelar juara.

Enam gelar juara tersebut terdiri dari empat gelar juara Grand Slam dari kategori tunggal putri di Australia Terbuka, Prancis Terbuka, Wimbledon, dan Amerika Terbuka. Sementara dua gelar juara lain berasal dari Wimbledon kategori ganda putri dan medali emas Olimpiade di Seoul, Korea Selatan.

Graf kemudian mendapatkan penghargaan Golden Slam atas empat gelar Grand Slam yang dia raih. Ia pun disebut sebagai ratu Golden Slam karena satu-satunya petenis wanita mendulang sukses itu.

“Itu adalah tahun yang ‘gila’ bagi saya. Saya pikir itu pencapaian yang baik di masa muda, dan saya tidak begitu menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi saat itu.,” kata Graf sambil tertawa, dalam sebuah wawancara dengan CNN pada 2012.

“Itu adalah masa-masa yang hebat. Maksud saya, antusiasme yang tercipta di Jerman luar biasa. Tiba-tiba saja kami mendapatkan gelar juara dari seluruh turnamen, Anda bisa bayangkan bagaimana hebohnya para penonton kala itu.”

Graf mengatakan ia sangat senang bisa berada dalam momen kemeriahan gelar juara tersebut.

Lebih lanjut, Graf menyampaikan pencapaian besar tersebut tidak lepas dari motivasi yang tinggi pula. Dari sekian banyak petenis berbakat di dunia, petenis tunggal putri nomor satu di dunia pada 17 Agustus 1987 itu pun memiliki idola.

“Ayah (Peter Graf) saya seorang petenis yang sangat menyukai olahraga yang ia lakukan itu, demikian juga ibu (Heidi Schalk) saya. Mereka memperkenalkan olahraga tenis kepada saya,” ucap Graf.

“Di luar orang tua, saya mengidolakan Tracy Austin, Chris Evert, Martina Navratilova, dan saya juga menikmati permainan dari John McEnroe. Namun untuk petenis Jerman sendiri, saat itu masih kurang baik,” imbuhnya.

Total 22 gelar juara Grand Slam berhasil Graf raih saat masih aktif menjadi petenis profesional. Pencapaian tersebut menjadikan dia termasuk dalam tiga besar peraih gelar juara Grand Slam terbanyak di dunia.

Graf hanya kalah dari petenis Amerika Serikat Serena Williams (23) dan petenis Australia Margaret Court (24). Sementara seluruh prestasi petenis idola Graf telah dilewati, termasuk petenis pria kelas dunia seperti Roger Federer (20) dan Rafael Nadal (18).

Dikutip dari CNN Indonesia, Graf lahir pada 14 Juni 1969 di Mannheim, Jerman Barat. Ayah Graf merupakan penjual mobil dan agen asuransi.

Ketika Graf berusia sembilan tahun, ia dan keluarga pindah ke Bruhl. Tempat tinggal baru dia berjarak kurang lebih 13,5 kilometer dari yang sebelumnya, dengan waktu tempuh 20 menit bila menggunakan mobil.

Graf berkenalan dengan tenis pada usia tiga tahun. Sang ayah mengajarkan dia cara mengayun raket tenis dari kayu di ruang keluarga.

Setahun kemudian, Graf mulai berlatih lapangan. Pada lima tahun, ia sudah melakoni turnamen perdana. Pada 1982, ia memenangkan Kejuaraan Eropa kategori 12 tahun dan 18 tahun.

Graf mulai terjun dan melakoni turnamen tenis profesional pada Oktober 1982 di Filderstadt, Jerman. Ia kalah dengan skor 4-6 dan 0-6 di putaran pertama dari petenis Amerika, Tracy Austin, sosok yang jadi idola Graf di kemudian hari.

Pada 13 tahun, Graf menempati peringkat ke-124 dunia. Selama tiga tahun sejak 1983, Tak ada gelar juara yang ia dapatkan.

Meski begitu, posisi Graf dalam daftar peringkat petenis dunia perlahan naik menjadi 98 pada 1983, peringkat 22 pada 1984, dan 6 pada 1985. Pada 1984, Graf mulai mendapat perhatian dunia ketika ia nyaris mengalahkan petenis unggulan kesepuluh asal Inggris, Jo Durie, dalam putaran keempat di Wimbledon.

Jadwal bertanding Graf diatur dengan ketat oleh sang ayah. Dengan harapan, Graf tetap berada dalam kondisi yang prima dan tidak kelelahan.

Graf berlatih selama empat jam dalam satu hari. Hal ini membuat Graf memiliki sedikit teman di masa muda. Walau demikian, pengorbanan tersebut berdampak positif pada permainan tenis yang semakin meningkat dari hari ke hari.

Pada 13 April 1986, Graf memenangkan gelar perdana di turnamen WTA. Ia mengalahkan petenis Amerika, Chris Evert, dalam laga puncak.

Performanya terus meningkat hingga Graf berhasil meraih Golden Slam atau satu-satunya tenis yang meraih empat gelar juara Grand Slam dalam setahun.

Graf memutuskan gantung raket di usia 30 tahun, ketika ia masih menduduki peringkat tiga dunia. Ia pensiun hanya beberapa pekan setelah melaju ke final Wimbledon.

Hanya berselang dua bulan dari gelar grand slam terakhirnya di Perancis Terbuka 1999, dan hanya berselisih dua gelar dari rekor Margaret Court sebagai pengoleksi grand slam sepanjang masa dengan 24 kali juara. Ia berhenti ketika belum saatnya ia harus berhenti.

Bagi kebanyakan atlet, usia 30 memang dianggap bukan masa keemasan. Tapi tentu juga hal itu bukan kartu mati, atau alasan saklek untuk memutuskan pensiun.

Roger Federer mendapatkan grand slam terakhirnya di usia 31 tahun, sementara Serena Williams membidik Calendar Grand Slam di usia 33 tahun. Serena pada akhirnya memang gagal, tapi tiga gelar grand slam yang ia dapatkan pada 2015 membuktikan bahwa pasca-30 tahun bukanlah masa-masa mengerikan.

Tapi Graf berhenti begitu saja. Ia kehilangan motivasi dan baginya daya tarik dunia tenis yang telah ia kenal sejak usia tiga tahun telah memudar.

“Saya telah melakukan semua yang ingin saya lakukan di dunia tenis. Saya tak punya apa-apa lagi untuk dicapai,” ujar Graf ketika memutuskan untuk pensiun.

Dan dengan diiringi kata-kata itu, dunia tak pernah lagi tahu sejauh apa Graf bisa melangkah. Ia memang tak pernah benar-benar memudar dan habis. Hanya berhenti bergerak.

Hari ini, Graf berusia genap 50. Selamat ulang tahun, Steffi Graf! (MU)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close