Opini

“Stay at Home” & Tetap Bahagia

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“Betapa indah pesanmu itu, ya Rasulallah Saw.!”

Tiba-tiba, bibir saya bergumam pelan demikian ketika sedang menyuci piring-piring di dapur. Kemarin siang. Selama “stay at home”, dalam usaha melawan covid-19, juga sebelumnya, sayalah yang kerap “bertugas” mencuci piring dan peralatan dapur. Setiap hari. Istri melakukan “tugas” yang lain. Kami, di rumah, memang hanya berdua. Tanpa asisten rumah tangga.

Ketika sedang mencuci piring dan peralatan dapur lainnya tersebut, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” jauh. Malah, sangat jauh, sekitar 8.000 kilo meter dari Bandung, Jawa Barat: ke Madinah Al-Munawwarah. Benak saya tiba-tiba teringat kisah indah yang terjadi pada masa Rasulullah Saw. Sebuah kisah yang memberikan contoh kepada kami untuk tetap hidup sederhana dan bahagia:

Hari itu, ‘Ali bin Abu Thalib melihat isteri tercintanya, Fathimah Al-Zahra’, sedang sibuk mengurus rumah dan bekerja di dapur. Akibatnya, asap dan debu mengotori kain dan pakaian puteri tercinta Rasululah Saw. itu.Tangannya melepuh, karena setiap pagi harus menggiling roti. Bahunya berbekas tanda akibat tali pengikat tali pengikat tempayan air yang ia panggul sekian lama.

Melihat hal itu, ‘Alibin Abu Thalib kemudian mengusulkankepadaisterinyatercintauntukmenghadapRasulullah Saw., “Isteriku tercinta. Lihat tanganmu kian melepuh besar begitu. Temuilah ayahmu, Rasulullah Saw. Mintalah kepada beliau, kiranya beliau berkenan menyiapkan untukmu seorang asisten pembantu rumah tangga.”

Fathimah Al-Zahra’ seiring pendapat dengan usul sang suami. Tak lama kemudian, ia pun melangkahkan kedua kakinya ke bilik ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq. Sebuah bilik sederhana yang terletak di samping kiri bagian depan Masjid Nabawi. Ia mengira, Rasulullah Saw. Kala itu sedang berada di rumah isterinya tercinta tersebut.

Ternyata, Rasulullah Saw.sedangtidakberada di rumah ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq. Yang ada hanyalah puteri Abu Bakar Al-Shiddiq itu. Fathimah Al-Zahra’ pun kembali ke rumahnya. Beberapa lama kemudian Rasulullah Saw. datang ke bilik ‘A’isyah yang kemudian menuturkan kedatangan sang puteri tercinta tersebut. Mendengar hal itu, beliau sadar, ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh sang puteri kepada beliau.

Pada malam harinya, ketika ‘Ali bin AbuThalib dan Fathimah Al-Zahra’ telah berada di peraduan, Rasulullah Saw. pergi ke rumah sederhana mereka. Beliau, selepas mengucapkan salam, dipersilakan masuk, dan berbagai sapa sejenak dengan mereka, bertanya kepada sang puteri, “Fathimah! Engkau tadi datang menjengukku, lalu kembali. Tentu, ada sesuatu yang ingin engkau sampaikan. Katakanlah kepadaku.”

“Benar, wahai Rasulullah Saw.,” sahut ‘Ali bin AbuThalib.

“Bila engkau mengizinkan, akan ku sampaikan mengapa Fathimah datang kepadamu.”

“Silakan,” jawab Rasulullah Saw.

“Wahai Rasulullah Saw.,” ucap ‘Ali bin Abu Thalib. Dengan suara lirih. “Akulah yang meminta Fathimah supaya datang kepadamu. Aku melihat pekerjaannya dalam rumah kian berat. Aku merasa iba kepadanya. Asap dan debu mengotori pakaiannya.Tangannya kian melepuh besar,karena setiap pagi menggiling tepung. Pada bahunya membekas tali pengikat tempayan air. Karena itu,aku meminta kepadanya untuk menghadapmu. Agar engkau dapat menyediakan seorang asisten rumah tangga bagi kami. Untuk meringankan bebannya.”

Mendengar ucapan menantu tercinta tersebut, Rasulullah Saw. merenung. Kala itu, beliau berpikir: beliau tidak ingin melihat taraf kehidupan dirinya dan keluarga yang beliau kasihi lebih baik dari pada orang-orang miskin di lingkungan Madinah yang tidak memiliki perabot dalam rumahnya. Apalagikala itu keadaan Kota Suci itu sedang menghadapi kekurangan dan kemiskinan. Keadaan tersebut utamanya menimpa kaum Muhajirin yang untuk bertahan hidup saja sudah sangat berat.

Namun, Rasulullah Saw.sangatmengenal puterinya. Beliautahu, betapa puterinya mencintai pesan yang senantiasa mengingatkan beliau kepada Allah Yang Maha Pengasih.Sehingga,selalu membuat beliau tegar dan tidak patah semangat. Karena itu,beliau, yang duduk di antara sang puteri dan menantu, kemudiaan berucap, “’Ali dan Fathimah. Maukah kaliana kuajari sesuatu yang lebih baik dari pada permintaan kalian tersebut?”
“Ya, silakan wahai Rasulullah,” jawab ‘Ali dan Fathimah. Penuh takzim.

“Setiap kali kalian berbaring hendak tidur, janganlah lupa melafalkan Allâhu Akbar (Allah Maha Besar) 34 kali, subhânallâh (Maha Suci Allah), dan alhamdulillâh (Segala puji bagi Allah) 34 kali. Dengan zikir itu akan membuat jiwa kalian bahagia dan ringan dalam melakukan pekerjaan berat. Lebih membantu daripada pekerjaan yang diberikan oleh seorang asisten rumah tangga yang membantu pekerjaan kalian.”

“Saya ridha dengan segala yang diridhai oleh Allah dan Rasul-Nya,” ucap Fathimah Al-Zahra’. Bahagia dan gembira.

Memang demikian gaya hidup puteri bungsu Rasulullah Saw.: hidup sangat sederhana. Sejak ia masih hidup bersama ibu tercintanya, Khadijah binti Khuwailid, hingga berpulang ke hadirat Sang Mahakuasa!

Bila puteri Rasulullah Saw. dan menantu tercintanya saja dengan bahagia dan senang hati hidup sederhana, kenapa kita tidak berusaha meneladaninya. Sambil menikmati “stay at home” dengan hidup sederhana dan bahagia!

*KH Ahmad Rofi’ Usmani, pengasuh Pondok Pesantren Nun, Baleendah, Bandung.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close