Situs Setkab.go.id Diretas, Pakar IT: Bisa Jadi Tujuannya Proyek

Situs Setkab.go.id Diretas, Pakar IT: Bisa Jadi Tujuannya Proyek

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Laman situs Sekretariat Kabinet Republik Indonesia (Setkab) yang beralamat di setkab.go.id telah diretas dan diubah tampilan web-nya (deface) oleh hacker.

Ketika situs diakses, penggunjung seharusnya ditampilkan berbagai informasi umum ternyata diubah dengan foto seseorang yang sedang membawa sebuah bendera merah putih dengan tulisan "Padang Blackhat" dan "Anon Illusion Team."

Selain itu, pelaku peretasan (hacker) yang mengatasnamakan Zyy Ft Lutfifake serta Padang Blackhat Anon Juna dan Lutfie404 ini juga turut menuliskan sebuah kalimat yang berbunyi:

"Kekacauan dimana-mana, Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Rakyat harus dirumah tanpa ada dispensasi dan kompensasi apa pun yang membuat rakyat Indonesia merasa stress dan depresi. Penguasa menikmati dunianya sendiri dengan gaji yang mengalir tiap hari. Dimana keadilan di Negara ini?"

Diketahui, aksi peretasan dan deface ini menjadi salah satu cara hacking yang sering terjadi terhadap situs web pemerintahan di Indonesia beberapa tahun belakangan ini.

Hingga tulisan ini dibuat pukul 12.30 WIB, Sabtu (31/7/2021), tampilan laman situs setkab.go.id masih belum kembali menjadi normal.

Menyikapi hal ini, pakar ilmu teknologi, Abimanyu, mengungkapkan, ada beberapa poin yang harus ditelaah sebelum aksi peretasan berhasil dilakukan.

"Dasarnya komputer itu menerima perintah. Ada tiga hal, pertama tahu cara mengubah yang diminta; kedua, perintah yang masuk adalah perintah dikenal; ketiga, perintah tersebut dari orang berwenang," kata Abimanyu, Sabtu (31/7/2021).

Bila tiga perintah tersebut terlaksana, kata Abimanyu, maka komputer prinsipnya akan menurut. Karenanya, perlu diketahui lebih dalam bagaimana sistem pengamanan diberikan pada situs setkab.go.id.

"Apakah pakai firewall? Apa sudah dual control? Maksudnya sistem utama dan mirroring untuk memeriksa, apakah sistem utamanya sama dengan dia, kalau tidak maka otomatis ditolak, kalau belum begitu siapa saja bisa (meretas)," kritik Abimanyu.

Namun demikian, Abimanyu menduga, bisa saja peretasan dengan tampilan apa pun hanyalah sebagai kambing hitam dari tujuan utamanya yakni proyek pengadaan.

Dia menilai, hal itu lazim dilakukan sebagai celah membuka alasan untuk melakukan perbaikan terkait sistem keamanan virtual.

"Bisa jadi ini tindakan orang dalem itu sendiri. Ini dugaan, misal kalau sistemnya tidak cukup ampuh dan mau lagi ada proyek perbaikan server, nah ya udah diretas aja, kan jadi masukan proyek lagi, harus ganti ini itu dan segala macam," kata Abi. (Jo)