Opini

Singapura di Bawah Bayang-bayang VIirus Corona (2)

Keluyuran Berpetualang Aman-aman Saja

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“Hari ini kita akan mengawali “kluyuran” kita. Hati-hati dan jaga diri!” Demikian ucap saya, kemarin pagi, kepada enam guru Sekolah Alam Gaharu, Bandung yang kami kelola. Mereka lebih dulu tiba di Singapura. Beberapa jam sebelum kedatangan saya dan istri.

Jauh hari kami telah merancang untuk melakukan “training” sebagai tour leader bagi murid-murid sekolah yang kami kelola. Tahun depan, kami rancang beberapa di antara para guru itu akan menjadi “tour leader” murid-murid Sekolah Alam Gaharu yang akan “kluyuran” ke Negeri Singa ini.

“Ke mana kita hari ini?” tanya saya kepada mereka.

“Nanyang Technological University (NTU), Science Center, dan Chinese Garden,” jawab salah seorang guru.

Selepas saya dan istri rampung memberikan pembekalan tentang Singapura dan kondisinya saat ini, kami berdelapan pun memulai “petualangan” kami.

Dengan mengucap basmalah, dari tempat kami menginap, kami kemudian berjalan kaki menuju Stasiun MRT Lavender. Udara pagi Singapura tetap segar. Seperti biasanya. Suasana masih sepi. Betapa nyaman menikmati Singapura di pagi hari. Saya lihat, di entrance beberapa gedung, dilakukan pemeriksaan kesehatan. Singapura tampaknya “siap perang” melawan virus corona!

Ketika tiba di Stasiun Lavender, suasana sudah mulai riuh. Saya lihat, seperti sebelumnya, tidak lebih dari sepertiga orang-orang di stasiun yang mengenakan masker. Ternyata, hal yang serupa juga demikian dalam MRT.

Dalam perjalanan melintasi 18 stasiun, antara Lavender-Pioneer, hanya di sekitar downtown saja yang banyak penumpang yang mengenakan masker. Tidak tampak mereka begitu khawatir dengan virus corona.

Pemerintah Singapura tampak berhasil menenangkan warga negara ini dalam menghadapi virus corona.

Dan, ketika MRT yang kami naiki makin mendekati Stasiun Pioneer, para pemakai masker kian menurun. Selepas menempuh perjalanan sekitar 40 menit, kami tiba di Stasiun Pioneer. Dari situ, kami menuju ke halte bus Pioneer. Nah, di situ menggerombol banyak anak muda. Ternyata, mereka adalah para mahasiswa NTU.

“Lo, kok hanya dua mahasiswa yang mengenakan masker,” gumam bibir saya. Ketika kami naik bus no. 179, menuju NTU, kondisinya serupa.

“Wow, virus corona takut sama para mahasiswa NTU!” gumam bibir saya dan tersenyum. Tak lama kemudian bus memasuki kampus NTU.

“Wow, indah dan megah, kampus ini. Semoga kelak ada di antara alumni Pesantren Nun dan Sekolah Alam Gaharu ada yang menjadi mahasiswa, juga profesor, di kampus ini, amin,” doa saya.

Turun bus, kami kemudian “kluyuran” di seputar NTU. Betapa gembira guru-guru dapat berkunjung universitas kondang tingkat dunia ini. Kemudian, di salah satu tempat meeting di sudut kampus, kami berbincang. Saya dan istri pun bergaya seperti dua profesor NTU: memberikan pembekalan kepada enam guru yang bersama saya dan istri.

Selepas beberapa lama di kampus NTU, dengan naik bus dengan nomor yang sama, kami bergerak menuju Science Center. Lagi-lagi, tidak banyak di antara para penumpang yang mengenakan masker. Tidak ada kesan bahwa negara ini sedang “berperang” melawan virus corona! Hal serupa juga demikian ketika kami berada di Science Center: tidak ada yang mengenakan masker! Selepas sekitar tiga jam “menikmati” Science Center, kemudian ke Chinese Garden yang sedang direstorasi, kami kemudian menuju ke Stasiun Bugis. Tujuan kami kali ini: Sultan Mosque. Alhamdulillah, setiba di Masjid Sultan yang kondang dan indah ini, kami bisa ikut shalat Asar berjamaah.

Alhamdulillah. Lagi-lagi, saya lihat, kondisi normal: tidak ada yang mengenakan masker. Nah, seusai shalat, ternyata di beranda belakang masjid sedang dilangsungkan acara akad nikah seorang anak muda Singapura. Mereka tampak ceria. Seakan negara ini tidak sedang menghadapi virus yang mengkhawatirkan itu.

Capai kluyuran sepanjang hari, kami kemudian “bersantai ria” di sebuah restoran kondang di depan Masjid Sultan: menikmati nasi biryani dan murtabak sedap van Singapura ini. Restoran penuh. Dan, tidak ada satupun pengunjung yang mengenakan masker.

“Virus corona takut kali sama nasi biryani dan murtabak ini!” gumam bibir saya. Sangat pelan.

Dan selepas puas menikmati nasi biryani dan murtabak nan lezat di Restoran Zamzam, kamipun kembali ke tempat penginapan.

“Alhamdulillah, kami masih bisa kluyuran di Singapura. Nyaris saja program ini kami batalkan, gara-gara si cantik bernama virus Corona!”

Salam takzim kami dari Singapura.

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close