Opini

Singapura Di Bawah Bayang-bayang Corona (1)

Duh, Sepi di Pesawat, Changi Sampai Hotel

Oleh Ahmad Rofi’ Usmani

“Lo, hanya kami yang berangkat?” tanya saya kepada petugas check-in Air Asia di Bandara Husin Sastranegara, Bandung.

Kemarin sore: sekitar jam tiga sore. “Ada sekitar 60 orang, Pak. Kayaknya orang sama takut ke Singapura,” jawab si mbak.

“Oh, begitu!

Ketika saya dan istri masuk ke dalam pesawat, ternyata memang demikian. Tidak seperti biasanya yang nyaris penuh. Pesawat kami tiba di Changi Airport setengah jam lebih cepat. Suasana Changi pun lebih sepi ketimbang biasanya. Tampaknya dampak virus corona cukup besar. Menjelang konter imigrasi, beberapa petugas kesehatan telah siaga. Hanya istri yang dicek.

Aman, alhamdulillah.

Kemudian, ketika masuk ke konter imigrasi untuk orang asing, lagi-lagi hanya kami berdua saja.

Duh. Segera, kami menuju konveyor bagasi. Kemudian, dengan menyeret dua koper, kami menuju ke exit dan naik shuttle bus, dari T-4 menuju T-2. Sebab, MRT yang menuju downtown adanya di T-2. Lagi-lagi kami dapati: di T-2 jauh lebih sepi.

Segera kami naik MRT menuju Tanah Merah. Setelah turun, kami pun ganti MRT menuju halte Lavender. Di dalam MRT saya lihat, warga Singapura santai seperti biasa. Mungkin hanya sekitar 25 persen yang mengenakan masker. Namun, suasana sunyi. Masing-masing tenggelam dalam pikiran masing-masing.

“Mas, kita sekarang menuju ke mana?” tanya istri setelah kami tiba di halte Lavender.

“Kita jalan kaki menuju Jalan Aliwal!” jawab saya.

Sore kemarin, sepanjang jalan sekitar setengah kilometer, dengan jalan kaki sambil menyeret dua koper, hanya kami berdua yang berjalan. Suasana sepi.

Duh. Akhirnya, kami sampai di hotel. Sebelum masuk kamar, kami diminta mengisi formulir tentang kesehatan kami.

“Duh, virus corona. Kau bikin gara-gara. Sedunia!” gumam bibir saya. (**)

KOMENTAR
Tag
Show More
Back to top button
Close
Close