Simak! Gara-gara ini IHSG Berpotensi Melemah Pekan Ini

Simak! Gara-gara ini IHSG Berpotensi Melemah Pekan Ini
IHSG

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Direktur PT Anugrah Mega Investama Hans Kwee mengatakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpotensi melemah pada pekan ketiga November 2020. Pelemahan IHSG dipengaruhi sejumlah sentimen dari eksternal dan domestik.

"Memudarnya optimisme vaksin Covid-19 dan mulai turunnya Biden Effect, serta meningkatnya kasus Covid-19 di beberapa negara yang diikuti penguncian sosial terbatas membuat kami perkirakan IHSG berpeluang konsolidasi melemah di pekan ini," ujar Hans dalam pernyataan di Jakarta.

Menurut Hans, pelaku pasar berhati-hati karena lonjakan kasus Covid-19 di berbagai negara. Penghitungan Reuters, menunjukkan kasus Covid-19 telah naik lebih dari 100 persen di 13 negara bagian Amerika dalam dua pekan terakhir.

Terkait kenaikan kasus tersebut, beberapa negara bagian di AS mulai melakukan pembatasan aktivitas. Negara bagian Chicago mengeluarkan peringatan untuk warganya tetap tinggal di rumah dan negara bagian New York menerapkan jam malam bagi restoran, bar dan pusat kebugaran sebagai upaya untuk menurunkan penyebaran Covid-19.

"Pembatasan kegiatan sosial dapat menurunkan pemulihan ekonomi sehingga berpotensi mendorong stimulus fiskal dan moneter lebih besar," kata Hans.

Setelah peningkatan kasus Covid-19 yang diikuti pembatasan kegiatan sosial serta kemenangan Joe Biden di pilpres, mendorong optimisme stimulus fiskal US$ 2,2 triliun. Stimulus dianggap sangat penting untuk membangkitkan kembali perekonomian AS di tengah tekanan pandemi.

Di sisi lain, petinggi Demokrat di Kongres AS mendorong dilakukan negosiasi kembali atas proposal bantuan Covid-19 yang bernilai triliunan dolar. Tetapi dikabarkan petinggi Partai Republik masih menolak pendekatan itu karena dinilai terlalu mahal.

"Kelancaran negosiasi stimulus fiskal ini akan sangat tergantung hasil pemilu apakah Demokrat atau Republik yang mendominasi di senat," ujar Hans. "Kami perkirakan stimulus fiskal belum optimal sampai Demokrat menguasai kursi senat di tahun 2022."

Pekan ini pasar saham sangat optimis menyusul penelitian vaksin Covid-19. Perusahaan farmasi AS Pfizer dan perusahaan Jerman BioNTech menyatakan efektivitas vaksin virus korona baru lebih dari 90 persen dalam mencegah Covid-19.

Padahal menurut direktur Institut Nasional Penyakit Menular dan Alergi vaksin Dr. Anthony Fauci, vaksin yang bisa diterima mempunyai tingkat keefektifan di angka 50-60 persen. Angka ini juga di atas harapan pasar bahwa efektifitas vaksin hanya 60-70 persen dan juga lebih tinggi dari vaksin flu musiman yang hanya sekitar 40-60 persen. Masalah yang dihadapi adalah Vaksin Pfizer dan BioNTech merupakan vaksin mRNA yang dikenal tidak stabil dan ketika didistribusikan perlu diangkut dalam wadah pengiriman khusus pada suhu di bawah minus 70 derajat celcius, sebelum disimpan di lemari es hingga lima hari.

"Hal ini akan mempersulit distribusi dan mempertahankan keefektifitasan vaksin jenis ini. Masih perlu waktu untuk mendapatkan hasil akhir vaksin tersebut. Kedua hal ini membuat optimisme vaksin Pfizer dan BioNTech mulai memudar dari pasar," kata Hans.

Dari AS, Joe Biden sudah pasti memenangkan kursi presiden karena dari 270 suara Electoral College, Biden sudah mengumpulkan 290 dibandingkan 232 suara untuk Trump. Memang masih ada upaya hukum yang dilakukan Trump dan partai Republik di beberapa negara bagian, tetapi diperkirakan tidak akan mengubah hasil akhir.

Dalam pemungutan suara popular Biden mendapat 76,3 juta suara atau 50,7 persen dan Trump hanya 47,6 persen. Survei opini nasional Reuters/Ipsos, menghasilkan 79 persen dari orang dewasa AS percaya Biden menang, 13 persen mengatakan pemilihan belum diputuskan, dan hanya 3 persen mengatakan Trump menang, serta 5 persen mengatakan mereka tidak tahu.

Sekitar 6 dari 10 pendukung Partai Republik mengatakan Biden menang dan hampir semua pendukung partai Demokrat mengatakan Biden menang. Jajak pendapat juga menghasilkan 70 persen orang Amerika, termasuk 83 persen dari Demokrat dan 59 persen dari Republik, mempercayai pejabat pemilihan lokal mereka telah melakukan pekerjaan mereka dengan jujur.

"Hal ini membuat transisi kekuasaan lebih berpeluang berlangsung dengan damai," ujar Hans.

Sementara itu, berdasarkan data Refinitiv, sudah 90 persen emiten dalam indeks S&P 500 melaporkan kinerja kuartal III. Laba emiten diperkirakan hanya turun 7,8 persen secara tahunan (yoy) dibandingkan dengan perkiraan pada Oktober dimana sebagian analis memperkirakan laba perusahaan pada kuartal ketiga akan turun 21,4 persen.

"Hal ini membuat Indeks S&P 500 bursa saham Wall Street naik didorong optimisme kinerja laba emiten tersebut dan juga optimisme terhadap perekonomian serta di ikuti harapan keberhasilan uji coba vaksin COVID-19," kata Hans.

Peningkatan kasus Covid-19 terjadi di sebagian negara Eropa di tengah musim dingin beberapa bulan ke depan. Jumlah total kasus di Prancis naik menjadi 1,95 juta, Spanyol 1,49 juta kasus, Italia melampaui angka 1,1 juta infeksi dan Inggris menjadi negara pertama di Eropa yang mencatatkan lebih dari 51 ribu kematian.

Sebagian negara di zona Eropa menerapkan pembatasan substansial pada kehidupan sehari-hari yang diperkirakan akan berdampak pada aktivitas ekonomi. Hal itu mendorong kemungkinan zona Eropa kembali mengalami pertumbuhan negatif pada kuartal keempat tahun ini. Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan memberikan lebih banyak stimulus pada Desember 2020.

Dari domestik, rupiah di akhir pekan terlihat sedikit melemah setelah Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan ke depan BI masih ada ruang penurunan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) pada Rapat Kerja Komisi XI DPR RI. Menurut Perry, penurunan suku bunga ini tentu dengan memantau perkembangan ekonomi global dan domestik.

Saat ini BI telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak empat kali atau sebesar 100 basis poin menjadi 4 persen. Keputusan itu sejalan dengan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, serta untuk mempertimbangkan rendahnya tekanan inflasi dan relatif stabilnya nilai tukar rupiah.

"Saat ini rapat dewan Gubernur BI yang terdekat pada 19 November 2020, tetapi kami perkirakan BI akan mempertahankan suku bunga tidak berubah di angka 4 persen," ujar Hans.