Opini

Silvia Halim, Wanita Besi di Balik MRT

MASS Rapid Trans atau MRT baru saja diresmikan Jokowi hari Minggu kemarin.

Keberadaan MRT menjadi tonggak dari kota yang modern. Kota modern bukan kota dengan kendaraan pribadi di mana-mana, tetapi justru ketika transportasi publik menguasai wilayah.

Tapi, di balik gegap gempita sambutan masyarakat terhadap peresmian MRT, tahukah Anda siapa yang bertanggung jawab terhadap seluruh konstruksi MRT?

Ternyata dia seorang wanita. Namanya, Silvia Halim.

Silvia adalah lulusan teknik sipil di Nanyang Technological University, Singapura. Sesudah lulus, ia langsung bekerja di Singapura membangun infrastruktur di sana selama 12 tahun. “Saya sebenarnya anti ke Jakarta, karena macetnya minta ampun,” begitu katanya.

Tapi takdir membawanya ke jalan lain. Konon menurut cerita, ia didatangi Ahok dan diminta untuk kembali ke Indonesia dan membangun MRT untuk Jakarta. Mendengar pemerintahan negeri ini sekarang ada di tangan pemimpin yang berbeda, Silvia langsung menerima dan mengepak barangnya untuk pulang ke Indonesia. Tentu ia melewati proses interview dan urusan formal lainnya.

Kepada mereka-mereka yang pulang untuk membangun bangsa, kita harus angkat secangkir kopi setinggi-tingginya.

Jelas, gajinya tidak seheboh waktu di Singapura. Tapi bukan itu yang membuatnya mau pulang. “Saya telah melayani Singapura selama 12 tahun. Kini saatnya saya membantu negara sendiri,” begitu kata Silvia saat ditanya ngapain dia pulang dan merelakan gaji besar di negeri orang.

Di Indonesia, Silvia menjabat Direktur Konstruksi MRT dan membawahi puluhan orang pekerja yang semuanya laki-laki. Dia wanita sendiri. Tapi dia tidak canggung karena sudah terbiasa.

Membaca cerita tentang Silvia Halim, saya seperti membaca kisah Bu Sri Mulyani.

Bu Sri Mulyani ketika menjadi pejabat Bank Dunia bertemu Jokowi yang memintanya untuk menjadi Menteri. Sri Mulyani tidak mampu menolak demi negaranya. Akhirnya ia harus meninggalkan pekerjaan dengan gaji aduhai demi membangun negeri sendiri.

Banyak orang Indonesia yang belajar di luar negeri pulang kembali untuk membangun Indonesia. Mereka sudah percaya bahwa di tangan pemimpin yang benar, negeri ini akan berjaya. Dan mereka tidak ingin tertinggal untuk menjadi bagian dari sejarah.

Kepada mereka-mereka yang pulang untuk membangun bangsa, kita harus angkat secangkir kopi setinggi-tingginya.

*Denny Siregar penulis buku Tuhan dalam Secangkir kopi

KOMENTAR
Tags
Show More
Close