Terorisme

Sidang Bom Thamrin, Saksi: Aman Abdurrahman Ketua ISIS Indonesia

JAKARTA, SENAYANPOST.com – Terdakwa dalang bom Thamrin, Aman Abdurrahman, kembali menjalani sidang lanjutan. Agenda sidang kali ini adalah menghadirkan saksi-saksi, salah satunya adalah Kurnia Widodo. Kurnia merupakan eks napi terorisme yang tersandung kasus pengeboman di Cibiru tahun 2010.

Kurnia Widodo menyebut gurunya itu merupakan ketua atau pemimpin kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Indonesia. Menurutnya, informasi tersebut diperoleh dari kalangan jemaah yang memiliki pemahaman serupa dengan Aman dan tergabung dalam sebuah grup di aplikasi tukar pesan.

“Dia dikenal di kalangan kami para aktivis lama dan ketua paling tinggi dari ISIS di Indonesia. ISIS ada cabang di Indonesia, pusat di Irak dan Suriah pimpinan pimpinan Abu Bakr al-Baghdadi,” kata Kurnia, saat bersaksi di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Jakarta, Selasa (3/4/2018).

Hakim lalu bertanya lagi apakah pimpinan ISIS di Indonesia adalah Aman. Kemudian Kurnia menyebut dia mengetahui dari ikhwan-ikhwan dan media ‘jihadis’.

“Kalau di sini pimpinan ISIS adalah terdakwa?” tanya hakim Akhmad.

“Ya saya tahunya dari ikhwan-ikhwan dan media ‘jihadis’,” ujar Kurnia.

Kurnia menyebut ajaran Aman Abdurrahman sering dijadikan referensi oleh jemaah lainnya. “Apa yang dikatakan beliau itu jadi rujukan referensi,” kata Kurnia.

Ia mengatakan saat ini sudah bukan lagi pengikut Aman. Menurutnya, sebelumnya ajaran Aman menganggap polisi dan tentara serta demokrasi merupakan kafir.

“Sekarang gimana, masih ada pemikiran tentang itu apa gimana?” tanya hakim Akhmad.

“Saya sudah nggak ke sana lagi (tak menganut ajaran Aman). Polisi, menurut saya, sudah nggak kafir,” ucap Kurnia.

Selanjutnya tim pengacara Aman menanyai sumber informasi terkait Aman Abdurrahman yang disebut sebagai pimpinan ISIS di Indonesia. Menurut tim pengacara, jawaban saksi Kurnia yang mengaku mendengar Aman sebagai pimpinan ISIS tak benar karena saksi dianggap tidak mengalami langsung hal itu.

“Ikhwan-ikhwan yang mana?” kata tim pengacara.

“Jadi ikhwan yang aktif propaganda di media. Seperti yang di grup WhatsApp,” jawab Kurnia.

Diketahui, Aman didakwa sebagai dalang teror bom Thamrin dan aksi teror di Indonesia lainnya dalam rentang waktu sembilan tahun terakhir. Dalam dakwaan jaksa penuntut umum, Aman didakwa hukuman mati atas tindakannya mendalangi sejumlah aksi terorisme.

Dalam dakwaan primer, Aman didakwa dengan pasal 14 juncto pasal 6, subsider pasal 15 juncto pasal UU Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dengan ancaman pidana penjara seumur hidup atau hukuman mati.

Sementara dalam dakwaan sekunder, Aman didakwa dengan pasal 14 juncto pasal 7, subsider pasal 15 juncto pasal 7 UU Nomor 15/2003 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme dengan ancaman pidana penjara seumur hidup.

KOMENTAR
Tags
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Close