Siapa yang Menyembuhkan Manusia dari Covid-19, Tuhan atau Obat?

Siapa yang Menyembuhkan Manusia dari Covid-19, Tuhan atau Obat?

Oleh: Zulfikar Fuad 

SEJAK kasus pertama 2 Maret 2020 hingga hari ini 9 Agustus 2020, Indonesia masih berada dalam keadaan darurat Covid-19 dengan perkembangan yang amat menyedihkan; status positif 125.396, sembuh 80.952, dan meninggal 5.723. Artinya, ada lebih dari 35 ribu orang yang kini terancam nyawanya karena terpapar Covid-19 dan setiap hari bertambah lebih dari 1000 orang. Dampak wabah Covid-19 begitu luas di semua sektor kehidupan, terutama ekonomi; Indonesia kini dalam ancaman resesi, bisnis semakin melambat dan banyak perusahaan yang kolaps, PHK terjadi di banyak tempat, pengangguran meningkat dan keadaan ekonomi masyarakat kian terpuruk.

Sebagai komponen cadangan strategis pertahanan negara dan komponen pemelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, Pemuda Panca Marga/Korps Yudha Putra wajib membantu pemerintah, terutama TNI/Polri, dalam hal melindungi masyarakat dan menjaga keutuhan NKRI dari ancaman non militer; wabah penyakit Covid-19. Salahsatunya dalam bentuk pencegahan dan pengobatan gratis dari infeksi Covid-19. Untuk itu, dalam rangka membantu pemerintah, TNI/Polri, menekan jumlah korban pandemi Covid-19, Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (PPM) pada tanggal 29 Mei 2020 membentuk Satgas Anticovid-19 Korps Yudha Putra Pemuda Panca Marga (KYP-PPM) dan langsung bergerak terjun ke masyarakat menggelar kegiatan pencegahan dan pengobatan warga dari Covid-19 di sejumlah titik zona merah di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Anggota Satgas Anticovid-19 KYP PPM blusukan dari gang ke gang mengunjungi dan mengobati warga positif Covid-19.

Kegiatan pengobatan gratis warga positif Covid-19 yang digelar Satgas Anticovid-19 KYP PPM menggunakan pendekatan pembinaan mental spiritual dan sarana Sinar Superfit, obat tradisional warisan nenek moyang bangsa Indonesia dari bahan asap cair tempurung kelapa. Sebelum disuguhkan Sinar Superfit, warga positif Covid-19 dituntun untuk berdoa sesuai agama dan kepercayaan masing-masing oleh anggota Satgas Anticovid-19 KYP PPM, sebagai motivasi agar selalu mengingat Sang Pencipta yang memberi sakit sekaligus memberi kesembuhan, agar semangat untuk sembuh menjadi tumbuh dan menguat.

Aksi nyata selama dua bulan lebih tersebut membuahkan hasil menggembirakan. Hasil swab membuktikan, seorang anggota TNI dan banyak warga positif Corona yang ditangani Satgas Anticovid-19 KYP PPM dinyatakan negatif atau sembuh dari Covid-19. Namun, sayangnya giat Satgas Anticovid-19 KYP PPM baru sebatas di rumah-rumah warga yang melakukan karantina mandiri dan belum dapat menyentuh rumah sakit-rumah sakit yang menjadi pusat penanganan warga positif Covid-19, sehingga dampak positif dari peran aktif Satgas belum signifikan menekan jumlah korban Covid-19, di daerah dan secara nasional.

Hal itu terjadi karena terkendala respon dari Gugus Tugas di pusat dan daerah, pimpinan rumah sakit, dan tenaga medis yang memandang lafadz atau ucapan do’a dan minuman herbal bukan obat Covid-19 karena tidak ilmiah dan tidak sesuai kaidah ilmu kedokteran, kendati Satgas Anticovid-19 KYP PPM sudah puluhan kali membuktikan berhasil mengobati warga positif Covid-19 di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Kami dapat memaklumi dan sepakat bahwa siapa pun bebas untuk berpandangan dan bersikap. Meski demikian, demi misi kemanusiaan menyelamatkan saudara se-Bangsa yang terancam nyawanya karena Covid-19, kepada semua pihak yang merasa beriman dan mengimani Tuhan Yang Mahaesa, Allah SWT, perlu kami ingatkan bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Tuhan YME, bagi Allah SWT.

Kami siap membuktikan langsung di hadapan pimpinan lembaga tinggi negara, Gugus Tugas di pusat dan daerah, kepala rumah sakit dan tenaga kesehatan; mengobati warga positif Covid-19 dengan cara berbagi do’a dan sarana minuman herbal. Misi kami semata-mata membantu pemerintah, TNI/Polri menyelamatkan warga dari ancaman kematian akibat Covid-19. Kami memegang teguh prinsip hukum tertinggi adalah keselamatan rakyat.

Mari kita renungkan bersama, siapa sesungguhnya yang menyembuhkan manusia dari Covid-19, Tuhan atau obat?

Sebagai bangsa yang ber-Tuhan, kita semua menyadari bahwa penyakit yang diderita manusia berasal dari Tuhan. Tuhan memberikan penyakit sebagai peringatan atau teguran bagi manusia agar kembali dan mendekat kepada penciptanya. Tuhan pula satu-satunya yang memiliki kemampuan untuk menyembuhkan manusia dari segala penyakit yang dideritanya.

Tuhan Maha Ghoib dan karenanya tidak berwujud. Untuk itu, dalam mengupayakan kesembuhan dari berbagai penyakit, manusia perlu sarana yang berwujud untuk membuktikan ikhtiarnya menggunakan akal pikiran atau ilmu pengetahuan yang diberikan Sang Pencipta. Obat, apa pun bentuknya, obat tradisional atau kimiawi, adalah sarana manusia berdo’a kepada Tuhan-Nya dalam bentuk wujud. Sebagai sarana, obat adalah penyambung do’a manusia yang memohon kesembuhan kepada Tuhan.

Zaman dahulu nenek moyang bangsa Indonesia mengobati diri sendiri, keluarga dan masyarakat dengan membaca do’a dan menyuguhkan minuman herbal, dedaunan, bahkan air liur sebagai sarana penyembuhan. Tentu saja do’a yang dipanjatkan para pendahulu kita didasari dan disandarkan kepada keyakinan mutlak kepada Tuhan, dengan penyerahan diri total kepada Sang Pencipta. Jika sudah demikian, semua yang berada di hadapannya; makanan, minuman bahkan sebatang rokok, bisa dijadikan sarana obat untuk mengobati dari semua penyakit. Yang membuat do’a manusia terkabul dan menjadi mukjizat kesembuhan adalah hati, ucap, dan aqhlak perbuatan para leluhur kita yang terjaga.

Ternyata pengobatan dengan pendekatan berbagi do’a dan sarana minuman herbal bisa dibuktikan hingga sekarang dan sampai kapan pun. Dan itulah yang dilakukan oleh anggota Satgas Anticovid-19 KYP PPM di Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur dalam mengobati warga positif Covid-19 selama dua bulan terakhir di mana mayoritas yang ditangani setelah diswab dinyatakan negatif atau sembuh dari Covid-19.

Jelas bahwa, menggunakan sarana obat secanggih, seilmiah dan semahal apa pun, jika Tuhan tidak menghendaki sembuh maka tidak akan sembuh. Terbukti banyak terjadi di rumah sakit, pasien meninggal dan atau tambah parah setelah ditangani dokter atau tenaga medis. Sebaliknya sekali pun menggunakan sarana makanan, minuman atau herbal yang diremehkan dan dipandang tidak berharga oleh manusia, jika Tuhan berkehendak maka orang sakit pasti sembuh.

Bangsa Indonesia mengakui, meyakini dan mengimani Tuhan Yang Mahaesa, sebagaimana tercermin dalam sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Mahaesa. Karena itu, sebagai saudara se-bangsa dan se-Tanah Air, kami mengajak mari kita bersandar dengan sungguh-sungguh dan totalitas kepada Tuhan Yang Mahaesa dalam upaya bersama menyelamatkan saudara-saudara kita yang terancam nyawanya karena paparan Covid-19.

Satgas Anticovid-19 KYP PPM siap membuktikan kebenaran tersebut, bahwa pengobatan dari Covid-19 dapat ditempuh dengan pendekatan berbagi do’a dan minuman herbal warisan nenek moyang bangsa Indonesia, langsung di hadapan Bapak Presiden Joko Widodo, para pejabat tinggi negara, Gugus Tugas di pusat dan daerah, disiarkan media televisi, cetak dan online, dengan syarat jika kami berhasil membuktikan maka kami diberi kesempatan lebih luas untuk membantu pemerintah, TNI/Polri, Komite dan Satgas Penanggulangan Covid-19 di pusat dan daerah, dalam upaya bersama menolong puluhan ribu warga bangsa Indonesia yang nyawanya terancam akibat paparan Covid-19.

Dari Sabang sampai Merauke, saya ucapkan; salam cinta Indonesia.

Merdeka! Merdeka! Merdeka!

* Zulfikar Fuad adalah Komandan Satgas Anticovid-19 Korps Yudha Putra – Pimpinan Pusat Pemuda Panca Marga (KYP-PPM).