Setiap Hari Ada Sepuluh Perempuan Dalit-India Diperkosa

Setiap Hari Ada Sepuluh Perempuan Dalit-India Diperkosa
Perempuan India

JAKARTA, SENAYANPOST.com - "Perempuan Dalit tergolong kelompok paling tertindas di dunia," ujar Dr Suraj Yengde, penulis Caste Matters.

"Kami adalah korban kekerasan karena kami miskin, dari kasta rendah dan perempuan, sehingga kami direndahkan oleh semua orang," ujar seorang perempuan Dalit kepada peneliti Jayshree Mangubhai beberapa tahun lalu.

"Tak ada yang mau membantu atau buka suara tentang kami. Kami menghadapi banyak kekerasan seksual karena kami tidak memiliki kekuatan apapun," tutur perempuan itu.

Pekan lalu, dilaporkan seorang perempuan Dalit berusia 19 tahun diduga diperkosa secara beramai-ramai oleh sekelompok pria dari kasta yang lebih tinggi di negara bagian Uttar Pradesh. Perempuan muda itu akhirnya meninggal dunia.

Kasus pemerkosaan beramai-ramai terus muncul di India, mengapa kegentingan ini bisa terjadi?

Berita tersebut kembali menyoroti kekerasan seksual yang merajalela yang dihadapi oleh 80 juta perempuan Dalit di India, yang seperti rekan pria mereka, mendekam di bagian bawah hierarki kasta yang keras di India.

Perempuan-perempuan ini, yang merupakan 16% dari total populasi perempuan India, menghadapi "beban berganda" mulai dari bias gender, diskriminasi kasta dan perampasan hak ekonomi.

"Perempuan Dalit tergolong kelompok paling tertindas di dunia," ujar Dr Suraj Yengde, penulis Caste Matters.

"Mereka adalah korban budaya, struktur dan institusi yang menindas, secara eksternal dan internal. Ini termanifestasi dalam kekerasan yang terus dialami oleh perempuan Dalit."

Buntut dari pemerkosaan dan pembunuhan baru-baru ini terhadap seorang perempuan di Hathras, Uttar Pradesh, yang diduga dilakukan oleh pria dari kasta atas, direspons seperti biasanya ketika seorang perempuan Dalit mendapat kekerasan seksual: polisi lambat memproses pengaduan; peneliti menanggapi dengan lambat; para pejabat meragukan ada pemerkosaan; ada sindiran yang tidak ada hubungannya dengan kasta; dan pihak berwenang tampak memihak pelaku kekerasan dari kasta atas.

Bahkan, beberapa media, dari ruang redaksi yang didominasi jurnalis dari kasta atas, mempertanyakan mengapa kekerasan seksual harus dikaitkan dengan kasta.

Dengan kata lain, negara dan sebagian masyarakat di India bersekongkol untuk meremehkan atau menghapus kaitan antara kekerasan seksual dan hierarki kasta.

Setelah insiden dugaan perkosaan di Hathras pekan lalu, pemerintah Uttar Pradesh yang dipimpin oleh politisi Partai BJP yang berasal dari kasta atas, buru-buru melakukan kremasi terhadap korban pada tengah malam.

Mereka juga langsung melarang media dan politisi oposisi mengunjungi desa tempat keluarga korban tinggal, yang memunculkan dugaan ada sesuatu yang ditutup-tutupi.

Dalam langkah yang belum pernah terjadi sebelumnya, pemerintah menyewa agensi hubungan masyarakat swasta untuk mendorong narasinya bahwa ini bukanlah insiden pemerkosaan.

Perempuan Dalit di seluruh wilayah pedesaan India telah menjadi korban kekerasan seksual selama ini. Di wilayah-wilayah ini, sebagian besar tanah, sumber daya, dan kekuatan sosial tetap berada di kasta atas dan menengah.

Meskipun ada undang-undang tahun 1989 yang disahkan untuk mencegah kekejaman terhadap komunitas, kekerasan terhadap perempuan Dalit tidak pernah berhenti. Mereka terus dibuntuti, dianiaya, diperkosa dan dibunuh tanpa ada hukuman yang adil.

Sepuluh perempuan Dalit diperkosa setiap hari di India tahun lalu, menurut angka resmi pemerintah. Negara bagian Uttar Pradesh di India Utara memiliki jumlah kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak perempuan tertinggi.

Tiga negara bagian - Uttar Pradesh, Bihar dan Rajasthan - melaporkan lebih dari setengah kasus kekejaman terhadap para perempuan Dalit.

Dalam penelitian yang dilakukan pada 2014 terhadap 500 perempuan Dalit di empat negara bagian terkait kekerasan yang mereka hadapi; 54% mengaku mengalami serangan fisik; 46% mengalami kekerasan sesual; 43% menghadapi kekerasan domestik; 23% diperkosa; dan 62% mengalami kekerasan verbal.

Dan perempuan Dalit menanggung beban kekerasan dari semua kasta, termasuk mereka sendiri.

Kelompok Center for Dalit Rights meneliti 100 insiden kekerasan seksual terhadap perempuan dan gadis Dalit di 16 distrik di India. Penelitian dilakukan antara tahun 2004 dan 2013.

Mereka menemukan:

- 46% korban berusia di bawah 18 tahun, dan

- 85% berusia kurang dari 30 tahun.

Pelaku kekerasan berasal dari 36 kasta berbeda, termasuk Dalit.

Satu alasan kenapa kaum Dalit - terutama perempuan - menanggung beban kekerasan adalah karena mereka mulai angkat bicara tentang apa yang alami.

Titik balik sejarah kekerasan terhadap perempuan Dalit di India terjadi pada 2006, ketika empat orang anggota keluarga dari kasta Dalit - seorang perempuan, dengan anak gadisnya yang berusia 17 tahun serta dua putranya - dibunuh secara brutal oleh pria-pria dari kasta atas lantaran konflik lahan.

Insiden yang terjadi di desa terpencil Khairlanji di negara bagian Maharashtra bermula ketika dua orang perempuan Dalit itu menuju ke kantor polisi untuk mengajukan komplain atas sengketa tanah dengan anggota kasta atas di desanya.

"Insiden mengerikan ini menggerakkan hati nurani kasta Dalit dan menyoroti penderitaan sosial dan diskriminasi mereka," kata sejarawan Uma Chakravarti.

Kasta atas diguncang dengan serangan balik kaum Dalit. Dalam kasus Hathras pekan lalu, laporan menunjukkan keluarga korban memiliki perselisihan selama dua dekade dengan sebuah keluarga dari kasta atas.

Di seluruh negeri, transformasi sosial mengirim gadis-gadis Dalit ke sekolah dan mendorong perempuan Dalit dan kelompok feminis untuk membuat suara mereka didengar.

"Tidak seperti sebelumnya, kepemimpinan perempuan Dalit yang solid mengartikulasikan keluhannya sendiri dan memimpin perjuangan tanpa campur tangan orang lain," kata Dr Yengde.

Perempuan Dalit melawan dan serangan balasannya tampaknya lebih brutal dari sebelumnya.

"Sebelumnya kekerasan tidak terlihat dan tidak dilaporkan," kata Manjula Pradeep, seorang aktivis hak asasi Dalit terkemuka.

"Sekarang kami dilihat. Sekarang kami lebih kuat dan lebih tegas. Sebagian besar kekerasan sekarang adalah untuk mengingatkan kami tentang batas-batas kami," katanya.