Setelah Dua Bulan Deflasi, Yogyakarta Mulai Alami Inflasi

Setelah Dua Bulan Deflasi, Yogyakarta Mulai Alami Inflasi
Hilman Tisnawan (foto Atan Sulaiman-SP)

YOGYAKARTA, SENAYANPOST.com - Setelah dua bulan berturut-turut perekonomian aerah Istmewa Yogyakarta mengalami deflasi, Bank Indonesia Perwakilan Yogyakarta mencatat pada September 2020 terjadi infasi.

“Pada September, inflasi  sebesar 0,03 persen (mtm), atau secara akumulatif Januari  September sebesar 0,71 persen (ytd) atau secara tahunan sebesar 1,66 persen (yoy).,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia  Daerah Istimewa Yogyakarta, Hilman Tisnawan, Selasa (6/10/2020).

Ia menambahkan, capaian itu berada di atas inflasi nasional yakni 1,42% (yoy). Namun demikian masih berada di bawah sasaran yang ditetapkan, yakni 3,0%±1% (yoy).

Berbicara tertang perkembangan perekonomian DIY selama September 2020, kata Hilman, hasil Survei Kondisi Dunia Usaha (SKDU) juga menunjukkan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) triwulan III 2020 meningkat menjadi 1,4, setelah pada triwulan II tercatat negatif.

“Angka SBT yang bernilai positif ini menunjukkan bahwa saat ini lebih banyak korporasi di DIY yang mengalami perbaikan kinerja dibandingkan triwulan sebelumnya,” jelas Hilman kepada pers. 

Menurut dia, inflasi yang terjadi pada September 2020 terutama disebabkan oleh inflasi kelompok inti (core inflation) dan inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Adapun kelompok harga pangan bergejolak (volatile food) masih melanjutkan deflasi selama tiga bulan berturut-turut.

Dari sisi inflasi kelompok inti, lanjutnya, inflasi terjadi akibat kenaikan harga emas perhiasan.

“Di tengah pandemi Covid-19 yang masih belum mereda, tekanan dari isu geopolitik kembali meningkat. Harga emas global cenderung melandai sepanjang September 2020, namun disisi lain kurs rupiah cenderung melemah. Hal ini mengakibatkan harga emas perhiasan dalam negeri cenderung meningkat sepanjang September 2020,” katanya. 

Sementara itu siklus inflasi pendidikan tinggi yang umumnya terjadi pada bulan September tidak terjadi pada tahun 2020 ini.

Perguruan tinggi cenderung menahan kenaikan tarif pendidikannya, akibat dari perubahan metode menjadi pembelajaran jarak jauh dan daya beli masyarakat yg tertekan akibat pandemi Covid-19. 

Pada kelompok administered prices mengalami inflasi terbatas, akibat tarif angkutan udara. Sejak awal tahun hingga Juli 2020 tarif angkutan udara telah menurun hingga -27,3% (ytd).

Di tengah penyebaran pandemi Covid-19 yang kembali meningkat, aktivitas pergerakan angkutan udara perlahan justru mulai meningkat terbatas. 

Penumpang angkutan udara baik di Bandara Internasional Yogyakarta maupun Bandara Adisutjipto pada Agustus 2020 meningkat 55,9% (mtm) dan tracking sementara pada September 2020 menunjukkan potensi melanjutkan tren peningkatan. 

Sentimen positif ungkapnya, berasal dari Keputusan Menkes No HK.01.07/MENKES/413/2020 tentang Pedoman Pencegahan Dan Pengendalian Covid-19 di mana saat ini penumpang transportasi umum tidak wajib untuk melakukan rapid test maupun polymerase chain reaction (PCR) sebagai syarat untuk bepergian.

Namun pada stimulus tersebut belum sepenuhnya berlaku karena SE Gugus Tugas tentang kewajiban rapid atau PCR di bandara masih berlaku.

Hal ini, menurut Hilman  menyebabkan pergerakan aktivitas manusia menggunakan transportasi udara masih terbatas.

Dari sisi volatile food, deflasi disebabkan oleh penurunan harga daging ayam ras, telur ayam ras, dan aneka cabai. Stok daging ayam di pasaran saat ini masih melimpah, sehingga menyebabkan harga daging ayam di tingkat produsen terus menurun hingga Rp19.250 per kg.

Selain itu serapan daging ayam sepanjang September 2020 masih mengalami penurunan.

Dampaknya harga daging ayam di pasar kembali mengalami deflasi.

Sementara itu harga daging ayam yang murah menyebabkan peternak ayam melempar telur infertil (hatched egg) ke pasar. Hal ini berdampak pada melimpahnya pasokan telur ayam, sehingga mengalami deflasi. (ws)