Lintas Daerah

Serangan Hama Burung Emprit, Petani Padi Terancam Gagal Panen

PONOROGO, SENAYANPOST.com – Mendekati lebaran, sejumlah petani di Desa Ngindeng, Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, mengeluhkan banyaknya hama burung emprit yang merusak tanaman padi yang saat ini berumur antara 60 hingga 65 hari. Mereka terancam gagal panen atau produksi padi merosot.

Seorang petani Sukiman, mengatakan sejak sekitar dua minggu terakhir dia bersama keluarganya sibuk menunggu tanaman padi di sawahnya dari serangan hama burung emprit.

“Setiap hari kami sekeluarga secara bergantian menjaga tanaman padi sejak pagi hingga sore. Hal itu kami lakukan, agar kerusakan tidak terlalu parah,” ujarnya, Minggu (3/6/2018).

Menurutnya, kawanan burung emprit dalam jumlah paling banyak biasanya memangsa padi pada pukul 06.00 hingga 08.00 WIB. Sedangkan pada sore hari pada pukul 16.00 hingga pukul 17.30 WIB.

“Biasanya pada pukul enam hingga delapan pagi kawanan burung emprit banyak sekali berdatangan. Pada siang hari agak berkurang. Namun pada sore hari antara pukul empat hingga maghrib sekitar pukul setengah enam, berdatangan lagi dalam jumlah sangat banyak,” jelasnya.

Serangan hama burung emprit di kawasan tersebut, kata Sukiman, biasaya terjadi ketika tanaman padi berumur antara 40 hingga 70 hari. Setelah itu berkurang hingga memasuki masa panen, yaitu ketika padi berumur sekitar 95 hari.

Menurutnya, produktivitas padi di sawahnya 8-10 kuintal per `kotak (istilah lokal untuk ukuran 1.700 meter persegi). Namun pernah ketika dirinya tidak rajin menjaga tanaman padinya dari serangan hama burung hanya memanen sekitar satu kuintal.

Setiap hari di desa tersebut banyak petani menghalau burung dengan berbagai cara. Menggerakkan orang-orangan, memasang tali dengan diikat sobekan plastik, melepaskan ledakan meriam berbahan spiritus. Ada pula yang memukuli kaleng dan dengan lemparan-lemparan batu sambil berteriak-teriak untuk mengusir burung. (AF)

KOMENTAR
Tags
Show More
Close