Mutiara Hikmah

Sepuluh Pesan Luqman Al-Hakim

Sepuluh Pesan Luqman Al-Hakim

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“ANAKKU! Lakukan apa-apa yang menjadi kebaikan bagi dirimu. Baik yang berkaitan dengan urusan duniawi maupun akhirat nanti!”

Demikian pesan seorang ayah kepada seorang puteranya. Suatu ketika. Lebih lanjut, sang ayah berpesan, “Lakukanlah apa yang menjadi kepentinganmu. Hingga tuntas. Jangan kau hiraukan ucapan dan cemoohan orang lain. Bagaimanapun juga, kau tidak akan dapat membuat mereka semua puas dan lega. Kau tidak akan dapat menyeiringkan pendapat mereka semua!”

Usai menyampaikan pesan demikian, sang ayah lantas memerintahkan puteranya untuk mengambil seekor keledai.  Ketika sang anak datang dengan membawa keledai tersebut, sang ayah kemudian  menaiki keledai itu menuju ke suatu tempat. Sedangkan sang anak berjalan kaki sambil menuntun keledai itu. 

Kemudian, ketika mereka berdua melintasi sekumpulan orang yang sedang duduk di pinggir jalan, mereka pun mengomentari “pemandangan” yang tampak aneh di mata mereka itu, “Orang tua kok pekok bin tolol! Si anak  disuruh berjalan kaki. Sedangkan orang tua itu enak-enak naik keledai. Betapa buruk perilaku dan tak tahu malu orang tua itu. Tak tahu diri!”

Selepas melintasi kumpulan orang di pinggir jalan itu, sang ayah lantas turun dari punggung keledai. Ia kemudian menyuruh anaknya menaiki keledai. Sedangkan ia ganti yang menuntun keledai itu. Nah, ketika mereka berdua melintasi sekumpulan orang lain lagi, mereka berdua mendengar komentar salah seorang di antara kumpulan orang itu, “Anak kok tak tahu diri begitu! Ia enak-enak naik keledai dengan membiarkan orang yang lebih tua berjalan kaki. Keterlaluan dan tak tahu sopan santun anak itu!”

Ketika mereka berdua, sang ayah dan sang anak, telah jauh dari kerumunan kedua tadi, sang ayah lantas naik ke punggung keledai. Di belakang anaknya. Kemudian, ketika mereka berdua melewati kerumunan lain lagi, mereka pun mendengar komentar salah seorang di antara kerumunan itu, “Pekok bin kejam mereka berdua! Seekor keledai kok ditunggangi dua orang. Padahal, mereka tampak sehat dan kuat. Dasar orang-orang yang tak mengenal belas kasihan terhadap binatang!”

Mendengar komentar yang demikian, kini di hadapan mereka berdua tinggal ada satu pilihan lagi: membiarkan si keledai berjalan tanpa ada yang menaikinya. Segera,  mereka berdua berjalan bersama. Dengan menuntun keledai yang “tanpa penumpang” itu. 

Apa yang terjadi kemudian? Bebaskah mereka dari komentar orang lain?

Ketika mereka berdua melewati sekelompok orang di suatu tempat, ternyata, kali ini pun mereka tetap mendengar komentar dari kelompok itu, “Bodoh! Keledai sehat dan bugar begitu kok dibiarkan berjalan tanpa muatan. Sedangkan dua pemiliknya malah berjalan menuntunnya. Mengapa salah seorang di antara dua orang itu tak menaiki keledai “pengangguran” itu?”

Selepas melewati kerumunan itu dan tiba di suatu tempat, sang ayah kemudian berucap kepada anaknya, “Anakku! Kau telah mendengar sendiri, apa komentar orang tentang  tindakan kita. Setiap tindakan kita, ternyata, tidak ada yang benar. Di mata kita. Karena itu, seperti telah aku pesankan tadi, lakukanlah apa yang menjadi kebaikan bagi dirimu. Jangan kau hiraukan ucapan dan komentar orang. Semua ini aku lakukan untuk memberikan pelajaran kepadamu!”

Kisah yang menawan. Intinya: betapa tidak mudah memuaskan semua orang. Apalagi, memuaskan orang banyak. Yang dalam kisah di atas diwakili oleh kerumunan pertama, kerumunan kedua, kerumunan ketiga, dan kerumunan keempat. Nah, ternyata, kisah itu telah berumur ratusan tahun. Malah, ribuan tahun. 

Lo, mengapa kisah itu telah berumur ribuan tahun?

Konon, sosok ayah dalam kisah itu adalah Luqman Al-Hakim: seorang tokoh yang namanya “diabadikan” dalam Alquran. Berkenaan dengan jati diri tokoh yang satu ini, para ahli Tafsir Alquran sepakat bahwa tokoh ini bukan seorang Nabi. Namun, mereka tidak seiring pendapat: kapan ia hidup. Ada  yang menyatakan, tokoh yang terkenal tekun beribadah dan sangat mencintai Tuhannya ini adalah seorang keponakan Nabi Ayyub a.s.

Namun, ada yang menyatakan, ia adalah seorang tokoh berkulit hitam legam asal Nubia, Mesir Selatan yang hidup pada masa Nabi Daud a.s. Malah, ada yang menyatakan, tokoh nan bijak ini adalah Socrates: seorang filosuf kondang dari Yunani.  

Kini, apa profesi Luqman Al-Hakim. Ibn Katsir, dalam sebuah karyanya berjudul Al-Bidâyah wa Al-Nihâyah,  menyatakan, tokoh bijak ini adalah seorang hakim pada masa Nabi Ayyub a.s. Lain lagi pendapat seorang sahabat yang terkenal sebagai pakar Tafsir Alquran: ‘Abdullah bin Al-‘Abbas. Menurut saudara sepupu Rasulullah Saw. itu, profesi Luqman Al-Hakim adalah seorang tukang kayu. Pendapat lain menyatakan, ia adalah seorang penjahit. Juga, ada yang menyatakan, ia adalah seorang penggembala.

Apapun profesi Luqman Al-Hakim, tokoh yang satu ini, seperti telah dikemukakan di atas, adalah seorang tokoh yang terkenal bijak. Dalam kedudukannya sebagai tokoh yang bijak, tak aneh bila tokoh yang satu ini mewariskan sederet nasihat dan petuah indah. Salah satunya adalah  sepuluh pesan yang ia kemukakan kepada puteranya. 

Nah, sepuluh pesan tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, hendaklah menyembah Allah Swt. semata dan tidak melakukan kesyirikan. Kedua, berbuat dan berperilaku baik kepada dua orang tua. Ketiga, tidak mengikuti jejak langkah orang tua yang melakukan kesyirikan. Meski demikian, hubungan baik dengan kedua orang tua tersebut hendaklah tetap dijaga. Keempat, senantiasa mengingat Allah Swt. Baik ketika sedang sendirian maupun bersama orang lain. Kelima, tekun beribadah. Utamanya melaksanakan shalat. Keenam, melakukan amar ma’ruf dan nahy munkar serta bersabar ketika sedang tertimpa musibah. Ketujuh, tidak takabur. Kedelapan, tidak tinggi hati dan angkuh ketika bergaul dengan orang lain. Kesembilan, bersahaja dalam hidup. Kesepuluh, tidak “meninggikan suara”. 

Kesepuluh pesan indah tokoh yang kerap merenung, berpikiran positif, lebih banyak diam, dan mencintai Allah Swt. ini tertuang dalam ayat-ayat Al-Quran berikut: 

“’Dan (ingatlah) ketika Luqman berpesan kepada anaknya, ketika ia memberikan pelajaran kepadanya, "Anakku. Janganlah menyekutukan Allah. Sungguh, menyekutukan (Allah) benar-benar merupakan kezaliman yang besar.’ (Allah Swt. berfirman), ‘Kami perintahkan  kepada manusia (supaya berbuat baik) kepada dua orang tuaya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang kian berat dan menyapihnya (selepas berumur) dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang tuamu. Hanya kepada-Kulah kembalimu. Jika keduanya memaksamu untuk menyekutukan Aku dengan sesuatu yang tiada pengetahuanmu tentang hal itu, janganlah engkau mengikuti keduanya. (Namun, tetap) pergaulilah keduanya di dunia dengan baik dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah engkau kembali. (Nanti akan) Kuberitakan kepadamu apa yang telah engkau lakukan. (Luqman juga berpesan), ‘Anakku. Sungguh, jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi dan berada dalam batu, di langit, atau dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasnya). Sungguh, Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Anakku. Laksanakanlah shalat dan suruhlah (manusia untuk) melakukan (hal-hal) yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar serta bersabarlah terhadap apa yang menimpa dirimu. Sungguh, yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (Selain itu), janganlah engkau memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah engkau berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan bersahajalah engkau (ketika) dalam berjalan dan lembutkanlah suaramu. Sungguh, seburuk-buruk suara adalah suara keledai.” (QS Luqmân [31: 12-19]).

Sepuluh pesan yang indah. Kiranya kita dapat melaksanakan pesan Luqman Al-Hakim tersebut. Semoga! (*)