Sepak Terjang Corinus Krey, Pejuang Pembebasan Papua dan Pencetus Nama Irian

Sepak Terjang Corinus Krey, Pejuang Pembebasan Papua dan Pencetus Nama Irian
Corinus Krey

JAKARTA, SENAYANPOST.com - Komandan Lanud (Danlanud) Silas Papare, Marsma TNI Budhi Achmadi, mengunjungi rumah Pahlawan Nasional asal Papua, Marthen Indey. Dalam kesempatan itu, Masma Budhi menerima amanah Marthen Indey yang disampaikan cucunya, Aca.

Sebagai cucu, Aca merawat Marthen Indey hingga akhir hayat. Aca menyampaikan amanat kakeknya, yaitu tentang pejuang pembebasan Papua dari cengkeraman Belanda, Corinus Marselus Koreri Krey.

"Jasa Corinus Krey kepada bangsa Indonesia dan Papua sangatlah besar. Apapun bentuk penghargaan negara kepada saya, maka Corinus Krey juga pantas untuk mendapatkannya. Dan kami mohon agar Corinus dapat diurus menjadi pahlawan seperti bapak kami dan komandan bisa menemui Ibu Corinus karena beliau masih ada," kata Aca dalam keterangan yang diterima Puspen TNI, Senin (15/2/2021).

Setelah mendapat informasi itu, Danlanud Silas Papare mengambil langkah cepat dan akhirnya bisa berdialog dengan keluarga Corinus Krey. Dalam pertemuan tersebut, Marsma Budhi kemudian mendapatkan informasi lengkap tentang perjuangan Corinus Krey.

Corinus Krey bergabung bersama TNI AU berstatus sebagai Mayor Kehormatan sejak 1967 hingga 1975. Namun perlu diketahui bahwa pangkat Mayor AU yang disandangnya waktu itu sudah menjadi pangkat militer tertinggi yang disandang putra asli Papua.

Tokoh pejuang lain yang mendapatkan pangkat kehormatan adalah Marthen Indey dan Abraham Dimara sebagai Mayor TNI AD. Pangkat militer itu diberikan kepada tokoh asli Papua yang telah berjasa besar memperjuangkan pembebasan Papua dari kolonialisme Belanda.

"Sekelumit tentang kisah mendiang Mayor AU Corinus Krey ini didapatkan dari dokumen yang ditinggalkan almarhum, serta dialog dengan Ibu Martina Krey beserta putra-putra," kata Marsma Budhi..

Kisah perjuangan Corinus berawal dari gerakan pemuda yang dirintis Kepala Sekolah Beestur (Pamong Praja) Jayapura, Soegoro Atmoprasodjo, yang melibatkan Frans Kaisiepo (siswa sekolah Beestur) dan Corinus Krey (ajudan Soegoro). Soegoro adalah salah satu penggerak nasionalisme di Papua dan pada tanggal 1 April 1945 mencetuskan ide untuk mengubah nama Papua, yang berasal dari kata 'papa hua' yang sering dipakai oleh Kerajaan Tidore dan memiliki arti 'tiada bapak'. Hal itu terjadi karena Kerajaan Tidore menganggap sejarah Papua tidak diketahui asal-usulnya sehingga disebut demikian.

Dalam rangka mengangkat harkat dan martabat Papua, maka pemuda-pemuda Papua berpikir untuk mencari nama lain yang juga berasal dari sejarah Papua yakni Hikayat Koreri. Maka, diskusi Corinus Krey dan Frans Kaisiepo yang terjadi di Jayapura pada tanggal 1 Mei 1945, melahirkan nama 'Irian' sebagai ganti kata 'Papua'.

Corinus Krey berulang-ulang menceritakan kepada anak cucunya, yang mengartikan 'Irian' berarti 'Ikut Republik Indonesia Anti-Netherland'.

Ketika itu pejabat Belanda ingin membungkam gerakan nasionalisme Indonesia di Papua. Frans Kaisiepo dan Corinus Krey mengambil kata 'Irian' dari bahasa Biak yang artinya 'panas' karena tanah Papua adalah tempat matahari terbit. Promosi nama dilakukan kepada kepala-kepala suku dan dititipkan kepada Frans Kaisiepo yang mewakili pemuda Papua dalam Konferensi Malinotanggal 18 Juli 1946.

Pada 1947, Krey bergabung dengan Komite Indonesia Merdeka (KIM) sebagai Sekretaris II di bawah pimpinan Dr Gerungan. Organisasi ini adalah motor pergerakan politik menentang Belanda dan di sinilah Krey mulai berjuang bersama Marthen Indey yang menjabat Komisaris 1 KIM. Ketika Belanda mengendus KIM, Dr Gerungan dipulangkan ke Ambon dan KIM akhirnya digerakkan oleh Marthen Indey dan Corinus Krey.

Sepanjang hidupnya, Corinus Krey empat kali merasakan kejamnya penjara Belanda di Papua, yaitu penjara Kota Nica Jayapura (1-7 Desember 1945), penjara AbepuraJayapura (7 Maret 1947 hingga 7 Agustus 1947), penjara Biak (7 Desember 1949 hingga 7 Juni 1950), dan yang terlama adalah tujuh tahun di penjara Digul (7 Juni 1950 hingga 7 Agustus 1957).

Kepada putranya, Max Krey, Corinus pernah menceritakan bahwa Belanda pernah menanam bagian perut dirinya ke bawah dalam kubangan dan diplester dengan semen hingga mengeras, sehingga menyisakan bagian perut ke bawah membiru dalam waktu yang lama.

Dokumen kesaksian bahwa Corinus Krey pernah dipenjara empat kali ditandatangani oleh Marthen Indey. Selain sebagai motor penggerak pembebasan Papua, Marthen Indey jadi 'rekan di penjara yang sama' bagi Corinus Krey.

Marsma Budhi menilai kesaksian Marthen Indey terhadap Corinus Krey yang menjadi rekan seperjuangannya adalah hal yang menarik. Sepertinya Marthen Indey yang jauh lebih senior dari Krey sudah mengantisipasi, saat dirinya berpulang maka akan semakin sedikit yang akan bisa menjadi saksi kepahlawanan sahabatnya tersebut.

Selain pernah berdinas di Lanud Jayapura sebagai perwira TNI AU, Corinys Krey juga merupakan anggota MPRS Tahun 1964-1968 dan pemegang bintang veteran RI. "Terima kasih Bapak, dan bangsa Indonesia berhutang besar padamu, Corinus Marselus Koreri Krey," tegas Marsma TNI Budhi Achmadi.