Mengenang Imam Al-Syafi‘i:

Seorang Ulama Raksasa dari Negeri Palestina

Seorang Ulama Raksasa dari Negeri Palestina
Ahmad Rofi’ Usmani

Oleh: Ahmad Rofi’ Usmani

“BUKANKAH ketika Imam Al-Syafi‘i tinggal di Baghdad Madinah Al-Salam, kota itu sedang berada di puncak masa keemasannya? Bukankah “Kota 1.001 Malam” itu, kala itu, bagaikan Washington D.C, London,  Paris, Tokyo, Beijing, atau Singapura dewasa ini? Lalu, mengapa kemudian ia tinggalkan kota yang berpendar kemilau itu. Dan, pindah ke Fusthath, Mesir?”
 
Entah kenapa, tiba-tiba,  pertanyaan demikian “melesat tak terkendali”. Dari bibir saya. Pagi itu, ketika saya usai membaca sebuah tulisan seorang sahabat saya, seorang jurnalis senior yang tinggal di Kairo, Mesir, Musthafa Abd Rahman,dengan judul “Berziarah ke Makam Imam Syafi‘i” (Kompas, Sabtu, 8 Mei 2021). 

Ya, mengapa Imam Al-Syafi‘i meninggalkan “Kota 1.001 Malam”, Baghdad Madinah Al-Salam, dan pindah ke sebuah kota yang kala itu kurang “menggairahkan”, Fusthath di Mesir? Padahal, untuk pergi ke kota yang dituju di Mesir itu, ia harus menempuh jarak sekitar 1.450 kilo meter. Untuk dewasa ini, jarak sedemikian dapat ditempuh selama sekitar tiga jam. Dengan naik pesawat terbang, tentu saja. Kala itu, untuk menempuh jarak sejauh itu diperlukan waktu sekitar 40  hari. Ya, 40 hari! Itu pun kalau lancar dan tidak dirampok oleh lanun-lanun gurun pasir. Yang terkenal sangat ganas!

Lembaran sejarah menuturkan, pendiri Mazhab Syafi‘i dan  pengasas ilmu  ushul fikih  ini  lahir pada Rajab 150 H/Agustus 767 M lahir  di ‘Asqalan, Gaza,  Palestina. Di lingkungan orang-orang Yaman yang menetap di Palestina.  Ketika anak itu  berumur  dua tahun,  ayah Imam Al-Syafi‘i, Idris bin ‘Abbas,  berpulang ke hadirat Allah Swt.  Maka,  ibunya, Fathimah binti ‘Abdullah,  membawa putranya itu meninggalkan ‘Asqalan, pergi ke  Makkah. Menempuh perjalanan yang jauh untuk ukuran masa itu: sekitar 2.200 kilometer. Ya, 2.200 kilo meter: dua kali Pulau Jawa. Duh!

Di Kota Suci itu,  mereka tinggal di dekat Masjid Khaif, salah satu masjid bersejarah yang “menghiasi” bagian selatan Mina, Makkah. Masjid yang satu ini terletak di sebelah selatan Bukit Shabih. Tidak jauh dengan Jumrah Al-Ûlâ.  

Menimba Ilmu di Madinah

Selepas  agak  besar,  ulama yang ketika berusia tujuh tahun telah hafal Alquran ini diantarkan sang ibu ke Masjid Al-Haram, Makkah. Tentu saja untuk menimba ilmu.  Di masjid tersebut, ia menimba ilmu kepada sejumlah ulama kondang di Kota Suci itu kala itu. Segera, ia berhasil menguasai berbagai ilmu yang diajarkan. 

Lantas,  ketika  Imam Al-Syafi‘i berusia 13 tahun,  ia  meminta  izin kepada  sang  ibu untuk belajar kepada Imam Malik  bin  Anas, pengasas  Mazhab  Maliki,  di  Madinah  Al-Munawwarah.  Ibunya, yang pencinta ilmu, mengizinkan ia pergi ke Madinah.  Berangkatlah  ia ke Kota  Nabi yang berjarak sekitar 430 kilometer di sebelah utara Makkah. Dengan membawa rekomendasi dari Gubernur Makkah kala itu.

Sebelum bertolak dari Makkah menuju Madinah, Imam Al-Syafi‘i benar-benar menyiapkan diri. Ia meminjam Kitâb Al-Muwaththa’, sebuah kitab hadis yang disusun oleh Imam Malik bin Anas, dari seorang temannya. Kemudian, karya di bidang hadis itu ia hafal. Di luar kepala. Selepas itu, ia menemui Gubernur Makkah kala itu. Ia meminta rekomendasi sang gubernur yang ditujukan kepada Gubernur Madinah dan Imam Malik bin Anas. Barulah ia kemudian bertolak menuju Kota Nabi.

Setiba di Madinah, Imam Al-Syafi‘i muda kemudian menemui Gubernur Madinah. Untuk menyerahkan  surat Gubernur Makkah yang ia bawa. 

“Anakku. Berjalan kaki dari Madinah hingga ke Makkah, tanpa tutup kepala, bagiku lebih ringan ketimbang berjalan ke rumah Imam Malik,” ucap pelan Gubernur Madinah. Ketika ia menyimak isi surat itu. “Sungguh, hanya sangat segan yang aku rasakan ketika aku berdiri di pintu rumahnya.” 

“Jika demikian, silakan Tuan mengutus seseorang. Untuk meminta ulama itu menghadap kepada Tuan,” ucap Imam Al-Syafi‘i. 

“Oh tidak, anakku. Tidak. Andai boleh memilih,  aku lebih senang andaikan aku dan orang yang bersama aku naik kendaraan ke Al-‘Aqiq. Untuk memenuhi keperluannya. Ketimbang menemui beliau.”
Akhirnya, mereka pergi ke rumah Imam Malik bin Anas. 

Setiba di sana, salah seorang di antara mereka pun mengetuk pintu rumah sang ulama. Tidak lama kemudian seorang pembantu perempuan menemui mereka. Gubernur Madinah pun berkata kepadanya, “Katakan kepada tuanmu, saya ada di pintu rumahnya.” 

Kemudian pembantu perempuan itu masuk ke dalam rumah. Selang beberapa lama kemudian, pembantu itu keluar lagi dan berkata, “Tuanku mengatakan, jika Anda sedang menghadapi permasalahan, tulislah. Nanti beliau akan menjawabnya. Sedangkan jika tujuan Anda adalah untuk berbincang dengan beliau, Anda tentu telah mengetahui kapan waktu pertemuan dengan beliau. Dan, silakan Anda meninggalkan tempat ini.”
“Sampaikan kepada beliau, saya membawa sepucuk surat dari Gubernur Makkah. Tentang suatu masalah penting,” sahut Gubernur Madinah.

Pembantu itu kemudian masuk lagi ke  dalam rumah. Selang beberapa lama kemudian, ia keluar dengan membawa kursi dan meletakkannya di dekat pintu. Tidak lama kemudian Imam Malik bin Anas, seorang ulama berwibawa dengan tubuh jangkung dan mengenakan jubah hijau, keluar dari dalam rumah. Segera, Gubernur Madinah menyerahkan surat Gubernur Makkah kepada sang ulama seraya berucap,  “Urusan dan keadaan pembawa surat ini mulia. Karena itu, sekiranya Tuan Guru berkenan, berbicaralah dengannya.”
“Mahasuci Allah. Ilmu Rasulullah Saw. kini diambil lewat rekomendasi,” ucap sang ulama. Menarik napas. Lama.

Mendengar ucapan sang ulama yang demikian,  Gubernur Madinah merasa segan untuk berbicara lebih lanjut. Menyadari situasi yang demikian, Al-Syafi‘i muda lantas maju ke depan dan berkata, “Kiranya Allah Swt. menyelesakan keadaan Tuan Guru. Saya ini adalah seorang anak keturunan Muththalib. Silakan simak keadaan dan kisah saya.” 

Mendengar ucapan Imam Al-Syafi‘i yang demikian, Imam Malik bin Anas lantas memandangi Imam Al-Syafi‘i dan  berkata kepadanya, “Siapa namamu?” 

“Muhammad,” jawab Imam Al-Syafi‘i.

“Muhammad. Bertakwalah kepada Allah dan jauhilah perbuatan maksiat. Sungguh, kelak engkau akan menghadapi urusan besar.” 

“Baik, Tuan Guru. Hal itu akan saya usahakan untuk saya lakukan. Dengan sepenuh hati.”

“Besok, datanglah engkau ke sini.  Seseorang yang akan membacakan Al-Muwaththa’ kepadamu.”

“Saya telah menghafalnya di luar kepala, Tuan Guru.”

Sejak itu, Imam Al-Syafi‘i menjadi murid Imam Malik bin Anas. Selama sekitar sembilan tahun lamanya. Ya, sembilan tahun menjadi murid seorang ulama raksasa.

Sebagai Tahanan Penguasa Baghdad 

Selain  kepada  Imam Malik bin Anas,  Imam Al-Syafi‘i  juga menimba ilmu kepada sejumlah ulama  kondang  di Kota  Nabi kala itu. Kemudian, selepas  sekitar sembilan tahun menjadi murid Imam Malik bin Anas, Imam Al-Syafi‘i  muda kemudian meminta  izin  kepada gurunya, untuk  melanjutkan  kelananya.  Untuk menguak  lebih  jauh  dunia ilmu pengetahuan.  Kali ini, perjalanan kelana ilmiahnya menuju  ke Kufah,  Persia, Syam, dan kemudian kembali ke Makkah.  

Lantas,  selepas menimba ilmu selama sekitar sembilan tahun kepada Imam  Malik  bin  Anas dan sang guru berpulang, Imam Al-Syafi‘i pun melanjutkan kelananya  ke  Yaman. Ternyata, kecerdasan, kecekatan, dan pandangannya yang luas, tidak selalu diterima orang. Apalagi ketika mereka melihat kariernya yang melesat cepat. Merasa tersaingi dengan kehadiran Imam Al-Syafi‘i, mereka kemudian memberikan laporan palsu ke Baghdad Madinah Al-Salam, lewat seorang komandan pasukan Dinasti ‘Abbasiyah di Yaman, bahwa Imam Al-Syafi‘i terlibat dalam gerakan bawah tanah. Yang bertujuan untuk melakukan kudeta terhadap dinasti yang wilayah kekuasaannya membentang di tiga benua itu.
 
Menerima laporan yang mengagetkan demikian, penguasa Dinasti ‘Abbasiyah kala itu, Harun Al-Rasyid, segera memerintahkan supaya Imam Al-Syafi‘i ditangkap dan dibawa ke Baghdad Madinah Al-Salam dengan dirantai kedua kakinya. Ya, menempuh jarak sekitar 2.300 kilo meter, dari Najran ke Baghdad, dengan dua kaki dirantai. Bersama beberapa tokoh Yaman yang juga dilaporkan sebagai para pembangkang. Duh!

Kecia Ali, dalam mengomentari tindakan yang dilakukan Harun Al-Rasyid terhadap diri Imam Al-Syafi‘i, menulis dalam sebuah karya tulisnya berjudul “Imam Shafi‘i: Scholar and Saint”, sebagai berikut:

“Mungkin saja Al-Syafi‘i, kala itu berusia sekitar tiga puluhan tahun, bertugas di Najran sebagai wakil gubernur yang ditunjuk Harun Al-Rasyid. Yang kurang pasti adalah kejadian yang dikemukakan oleh beberapa penulis: terjadi kondisi yang tidak beres. Akibatnya, akhirnya Al-Syafi‘i ditahan. 

Menurut salah satu versi, gubernur Yaman kala itu melakukan penindasan terhadap penduduk Yaman. (Melihat hal itu), Al-Syafi‘i lantas ikut campur dalam usaha menegakkan keadilan-lewat senjata cendekiawan: kata-kata-sehingga membuat amarah sang gubernur membara. Sang gubernur kemudian mengemukakan kepada penguasa: ia meragukan kesetiaan Al-Syafi‘i kepada rezim Baghdad. Tuduhan yang lebih serius kepadanya adalah keterlibatannya  dan kolusinya-nyata atau dibuat-buat musuhnya yang cemburu-dalam pemberontakan oleh Yahya bin ‘Abdullah, salah seorang keturunan putra ‘Ali bin Abu Thalib, Al-Hasan (beberapa penulis biografi Yahya mengatakan, Al-Syafi‘i belajar kepadanya).”

Namun, selepas bertemu dan berdialog langsung dengan Harun Al-Rasyid, dan kemudian sang penguasa mengetahui keluasan ilmu dan wawasan sang ulama, Imam Al-Syafi‘i dibebaskan. Perjalanan panjang berikut Imam Al-Syafi‘i mengantarkannya menjadi Imam besar yang  dalam menetapkan hukum memadukan antara Metode  Hijaz  dan Metode Irak. Dengan kata lain, ia berusaha memadukan antara lahiriah teks-teks landasan hukum  Islam dengan ratio. 

Selain  sebagai pengasas Mazhab Syafi‘i, tokoh  yang  dipandang sebagai pembaharu Muslim pada abad ke-2 Hijriah ini  juga dipandang  sebagai peletak batu pertama ushul fikih. Sebab,  para ahli fikih  sebelumnya berijtihad tanpa batas-batas  yang jelas. Lewat karyanya yang berjudul Al-Risâlah, ia membuat batas dan tata  aturan  yang  jelas dalam berijtihad. Di  samping  itu,  ia meninggalkan sejumlah karya tulis selain  Al-Risâlah. Antara lain adalah Al-Umm,  sebuah karya di bidang fikih yang  dihimpun  Al-Bulqini (berpulang pada 805 H/1403 M), Ikhtilâf Al-Hadîts, Ahkâm Al-Qur’ân, Al-Nâsikh wa Al-Mansûkh, Kitâb Al-Qasâmah, Kitâb Al-Jizyah, Qitâl Ahl Al-Baghy, Sabîl Al-Najah, dan Al-Fiqh Al-Akbar fî Al-Tauhîd.

“Tamparan” dari Orang Tak Dikenal 

Perjalanan hidup yang panjang akhirnya membuat nama Imam Al-Syafi‘i berkibar. Ia pun merasa bersyukur atas pencapaiannya tersebut. Lants, suatu sore ia merenung. Di rumahnya. Ketika benak pendiri Mazhab Syafi‘i itu sedang “melayang-layang” demikian, tiba-tiba dalam benaknya mencuat bersitan perasaan bahwa ia kini telah menjadi seorang ulama kondang. Alias menjadi orang yang memiliki ilmu yang melimpah ruah. Sebagai “buah” memburu ilmu dan pengalaman yang ia lakukan. Selama bertahun-tahun dengan susah payah dan sarat perjuangan.

Kemudian, ketika waktu shalat Maghrib tiba, tokoh yang satu ini pun bergegas menuju sebuah masjid.  Untuk menjadi Imam shalat Maghrib. Ketika ia menjadi Imam salat tersebut, tiba-tiba bacaan Surah Al-Fatihah yang ia baca salah. Orang-orang yang menjadi makmum pun membetulkan bacaannya. Kemudian, ketika waktu shalat Isya tiba,  Imam Al-Syafi‘i kembali menjadi Imam shalat. Ternyata, lagi-lagi, ia kembali salah dalam membaca Surah Al-Fatihah. Untuk yang kedua kalinya. Orang-orang yang menjadi makmum di belakangnya pun kembali membetulkan bacaannya.

Dua kali salah dalam membaca Surah Al-Fatihah membuat putra pasangan suami-istri Idris bin ‘Utsman dan Fathimah binti ‘Abdullah bin Al-Hasan itu resah dan gelisah. Ia yakin, ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya: dua kali membaca surah yang hanya terdiri dari tujuh ayat kok keliru. Maka, malam itu, ia pun melakukan shalat Istikharah. Dengan sangat khusyuk. Untuk memohon petunjuk kepada Allah Swt. 

Tidak lama seusai melaksanakan shalat Istikharah, tiba-tiba Imam Al-Syafi‘i mengantuk berat. Ia pun tertidur. Sangat pulas. Dalam tidur pulas tersebut, ia bermimpi. Nah, dalam mimpi itu, ia melihat dirinya sedang diadili. Di hadapan beberapa hakim. Mereka duduk di hadapannya dengan penuh wibawa. Ternyata, ia diadili dengan tuduhan telah berperilaku yang tidak beradab (sû’ al-adâb) kepada Allah Swt. Ya, berlaku tidak sopan kepada Allah Swt. Duh.

Nah, dalam sidang itu, seorang hakim kemudian menjatuhkan hukuman: Al-Syafi‘i harus dihukum mati. Ya, ia dijatuhi hukuman mati. Ini karena ia telah melakukan tindakan yang tidak beradab kepada Allah Swt., dengan dalih dirinya kini telah menjadi seorang ulama kondang. Menurut para hakim, pernyataan yang demikian itu merupakan kesalahan besar. Sebab, pada hakikatnya yang memiliki ilmu adalah Allah Swt. Dialah Yang Mahamengetahui lagi Berkuasa atas segala sesuatu.

“Menurut saya, Al-Syafi‘i ini harus diberi keringanan,” sanggah seorang hakim. 

“Lo? Mengapa hukuman atas diri Al-Syafi‘i diringankan? Juga, dengan cara apa hukumannya diringankan?” tanya hakim ketua.

Sejenak suasana sunyi senyap. Tanpa ada yang bersuara. Sama sekali. Tidak lama kemudian, suara hakim yang memintakan keringanan hukuman memecah kesunyian. Ucapnya, “Mengapa? Ini karena Al-Syafii memiliki peran besar terhadap kaum Muslim. Lewat ilmunya yang luar biasa. Dan, benar apa yang dipesankan Rasulullah Saw. bahwa ‘akan muncul seorang tokoh dari (kalangan) suku Quraisy yang ilmunya memenuhi semesta alam ini.’ Menurut saya, tokoh itu adalah Al-Syafi‘i ini.”

Usai berucap demikian, hakim meringankan hukuman atas diri Imam Al-Syafi‘i itu berhenti berucap. Tidak lama kemudian, ia melanjutkan ucapannya, “Adapun cara meringankan hukumannya adalah dengan memerintahkan Al-Syafi‘i kluyuran. Di jalan-jalan. Untuk mencari seseorang yang menurut ia adalah orang yang paling hina dan paling rendah dalam kalangan masyarakat. Kemudian, ia harus mencium tangan orang itu. Ini sebagai bentuk adab dan sopan santun kepada orang itu.”

Begitu terjaga dari tidur, tokoh  yang  menyatakan bahwa  “perhiasan  paling indah yang  dipakai  para  ulama adalah  kedamaian hati (qanâ‘ah), kesahajaan, dan ridha” itu pun termenung dan tercenung lama: teringat pesan dalam mimpi itu. Begitu usai merenung, ia pun segera keluar rumah dan pergi ke jalan:  untuk mencari orang  yang menurut ia paling hina dan rendah dalam kalangan  masyarakat. Akhirnya, ia mendapatkan seorang lak-laki dengan tubuh dan pakaian yang sangat kotor. Wajahnya penuh debu dan tubuhnya yang lusuh mengeluarkan aroma nan sangat tidak sedap. Ya, mengeluarkan aroma tubuh yang sangat busuk. Laki-laki yang mengeluarkan aroma nan sangat tak sedap itu sedang duduk. Di dekat tempat pembuangan sampah.

Imam Al-Syafi‘i pun mendekati orang itu. Ia nyaris tidak kuat mendekati orang itu. Aroma sangat tidak sedap keluar “semerbak” dari tubuh orang itu. Namun, mengingat hal itu merupakan keputusan hakim yang harus ia lakukan, meski keputusan itu hanya dalam mimpi, akhirnya ia pun memaksakan diri mendekati orang itu. 

Begitu Imam Al-Syafi‘i dekat dengan orang itu, ia pun berusaha merengkuh tangan orang itu: untuk ia cium. Sebagai penghormatan dan adab kepadanya. Namun, sebelum tangannya dapat meraih tangan orang itu, tiba-tiba laki-laki itu menampar pipi Imam Al-Syafii. Lalu, ucapnya kepada Al-Syafi‘i, ”Berlaku  sopanlah kau, Al-Syafi‘i. Cium tanganmu sendiri. Bukan tanganku. Ketahuilah, aku ini adalah hakim yang meringankan hukuman yang dijatuhkan atas dirimu. Tadi malam!”

Merasakan tamparan dan ucapan tak terduga orang tersebut, tokoh yang  lahir pada 150 H/767 M lahir  di  Gaza,  Palestina itu pun terperangah. Tercenung dan termenung lama. Ia pun menyesal, telah melakukan kesalahan besar: merasa telah menjadi seorang ulama kondang. Akibatnya, ia mendapatkan “peringatan keras”. Dari Sang Pemilik ilmu. Lewat orang yang tidak ia kenal! 

Bermukim di Negeri Piramid

Selepas berada di Irak beberapa lama, dan menyusun pendapat lamanya di bidang fikih, Imam Al-Syafi‘i kemudian merasa, Baghdad Madinah Al-Salam bukan kota yang tepat baginya. Untuk mengembangkan ilmu dan wawasan. Meski Baghdad kala itu sedang menikmati puncak keemasannya. Sehingga, tak aneh jika kala itu, kota itu mendapat sebutan sebagai “Kota 1.001 Malam”: kota yang berpendar cemerlang dengan sederet  pencapaian kultural maupun ilmiahnya.

Kini, pandangan Imam Al-Syafi‘i terarah jauh ke barat: ke Fusthath, Mesir. Itulah kota pertama yang dibangun kaum Muslim di Mesir. Niatnya bulat. Maka, Baghdad Madinah Al-Salam pun ia tinggalkan. Untuk selamanya. Ya, untuk selamanya!
 
Dalam menjawab pertanyaan: mengapa Imam Al-Syafi‘i meninggalkan Baghdad Madinah Al-Salam, kota yang paling cemerlang di dunia kala itu, mungkin seperti New York, Paris, atau London dewasa ini, ‘Abdurrahman Al-Sharqawi, dalam sebuah karyanya berjudul A’immah Al-Fiqh Al-Tis‘ah, mengemukakan:

“Kini, Imam Al-Syafi‘i merasa tidak kerasan tinggal di Baghdad. Selama ia tinggal di Makkah, ternyata Baghdad berubah.  Baghdad bukan lagi Baghdad yang pernah ia kagumi. Sahabat baiknya, Muhammad bin Al-Hasan, telah berpulang. Sahabat-sahabatnya lain pun telah menyusulke hadirat Allah. Sisanya dipenjara atau meninggalkan Irak. 
Tak lama kemudian, Harun Al-Rasyid pun berpulang. Suasana kacau, karena anak-anak  Al-Rasyid saling berseteru. Adik dan kakak saling berperang berebut kekuasaan. Semula, kekuasaan berada di tangan Al-Amin. Namun, belum lama mantap duduk di atas singgasana, adiknya yang bernama Al-Ma’mun membunuhnya dan menggantikan kedudukannya.”

Itulah sebabnya, antara lain, mengapa Imam Al-Syafi‘i meninggalkan “Kota 1.001 Malam”, atau Baghdad Madinah Al-Salam: sebuah kota megapolitan yang kala itu menjadi pusat peradaban dunia. Tak kalah dengan New York, Paris, London, Tokyo, Beijing, atau Singapura dewasa ini!

Selepas menempuh perjalanan yang cukup jauh, sekitar 1.450 kilo meter, lewat  Harran dan Syam, akhirnya Al-Syafi‘i  tiba di  Mesir  pada  Senin, 26 Syawwal  198  H/19 Juni  814  M. Setiba di Fusthath, menurut ‘Abdurrahman Al-Sharqawi dalam karyanya berjudul A’immah Al-Fiqh Al-Tis‘ah di  atas, yang pertama-tama dilakukan Al-Syafi‘i adalah berziarah ke makam Al-Laits bin Sa‘ad: seorang ahli hukum Islam terkemuka pada  abad ke-2   H/9  M  yang lahir    di Qalqasyandah, Mesir, sebuah kampung di pesisir Laut Merah, dalam lingkungan  keluarga  yang berasal dari Isfahan,  Iran. Ketika berada di samping makam ulama kondang itu, ia berucap pelan, “Betapa beruntungnya Anda, Imam. Pada diri Anda terhimpun empat sifat yang belum tentu dimiliki oleh ulama lain. Yaitu: ilmu, amal, zuhud, dan kedermawanan.”

Seusai berziarah ke makam Al-Laits bin Sa‘ad, Imam Al-Syafi‘i kemudian berkunjung ke rumah Sayyidah Nafisah binti Al-Hasan bin Zaid. Cicit Al-Hasan bin ‘Ali dan istri Al-Mu’tamam bin Ja‘far Al-Shadiq itu menyambut kedatangan Al-Syafi‘i dengan penuh suca cita. Selepas kunjungan itu, Imam  Al-Syafi‘i selalu menghadiri halaqah tokoh wanita Ahlul Bait itu. Sedangkan Imam Al-Syafi‘i kerap mengemukakan ijtihad-ijtihadnya. 

Kini, apakah yang dilakukan Imam Al-Syafi‘i ketika bermukim di Mesir?

Adil Shalahi, dalam tulisannya berjudul “Imam Al-Shafi’i” menulis:

“Ketika Al-Syafi‘i bermukim di Mesir, pada lima tahun terakhir kehidupannya, ia melakukan sederet revisi atas pandangan dan pendapatnya yang ia ungkapkan dalam beberapa karya tulisnya yang ia tulis dan ajarkan di Irak. Ketika berada di Irak, ia mengungkapkan dua pendapatnya tentang dua persoalan. Kini, ia berusaha menopang pendapatnya tentang salah satu dari dua persoalan tersebut.  Atau menyatakan pendapatnya yang ketiga untuk mempertahankan ketiganya. Atau berusaha meninggalkan kedua pandangan lamanya untuk mengukuhkan pendapat ketiga yang mendapatkan pijakan yang lebih kuat, baik oleh sebuah hadis yang tidak ia ketahui sebelumnya atau dengan analogi yang menurut ia lebih kuat. 

Orang kerap menyebut proses ini sebagai ‘aliran pemikiran baru Al-Syafi‘i (qaul jadîd)’ sebagaimana dibedakan dari aliran pemikiran lamanya yang berpijak pada karya-karya lamanya yang ia susun di Baghdad. Faktanya, hal itu merupakan revisi menyeluruh atas karya-karya tulisnya dan mengeluarkan versi baru yang seluruhnya telah direvisi. Memang, ia berpendapat bahwa versi lama ia batalkan. Ini menunjukkan, Al-Syafi‘i selama hayatnya melanjutkan pencariannya terhadap kebenaran.”

Di sisi lain, menurut Ahmad Muhammad Al-Hufi, dalam sebuah karyanya berjudul Al-Thabarî, ketika Imam Al-Syafi‘i tiba di Mesir, segera ia mendapatkan sambutan hangat dari kalangan para pencinta ilmu. Segera pula, ia memiliki banyak murid di negeri yang sebelum kedatangannya hanya mengikuti satu mazhab fikih saja. Di antara para murid tersebut, banyak di antara mereka adalah para pengikut Mazhab Maliki. Nah, kepada mereka Imam Al-Syafi‘i, selain berbagi ilmu, mengajarkan suatu tradisi indah yang ia dapatkan ketika bermukim di Irak: berpikir terbuka dalam mendiskusikan beragam masalah secara ilmiah. Tradisi ilmiah itu kemudian segera berkembang pula di Negeri Piramid itu.

Lewat kegiatan ilmiah yang dilakukan Imam Al-Syafi‘i di tempat baru itu, juga lewat akhlak mulianya, ia segera memiliki sederet murid yang mumpuni. Di antara para muridnya tersebut adalah Muhammad bin A‘yan bin Laits (meninggal pada 268 H/882 M), seorang penulis sebuah karya berjudul Kitâb Al-Sunan ‘alâ Madzhab Al-Syâfi‘î, Yunus bin ‘Abdul A‘la Al-Shadafi (meninggal pada 264 H/878 M), Isma‘il bin Yahya Al-Muzani (seorang ulama terkemuka kala itu dan terkenal sebagai seorang penulis sederet karya-karya tulis, antara lain Al-Jâmi‘ Al-Kabîr, Al-Jâmi‘ Al-Shaghîr, dan Al-Mukhtashar), Abu Ya‘qub Yusuf  bin Yahya Al-Buwaithi (seorang ulama terkemuka yang penulis sederet karya tulis, antara lain Al-Mukhtashar Al-Kabîr dan Kitâb Al-Farâ’idh), dan Al-Rabi‘ bin Sulaiman Al-Azdi Al-Jizi (seorang murid Imam Al-Syafi‘i yang terkenal sebagai penyunting Kitâb Al-Umm, bersama Al-Buwaithi). 

Merevisi Pandangan Lamanya

Selepas menetap di Mesir, selain memiliki banyak murid dan melakukan banyak kegiatan ilmiah, ulama terkemuka yang satu ini juga merevisi sebagian pendapat lamanya (qaul qadîm) yang ia ikhtisarkan dan kemukakan ketika ia masih menetap di Irak. Dan, lahirlah pendapat barunya (qaul jadîd) yang berbeda dengan pendapat lamanya. 

Mengapa Imam Al-Syafi‘i mengubah pandangan lamanya tersebut?

Perubahan pandangan tersebut, menurut Salman Al-‘Audah, dalam sebuah karyanya berjudul Ma‘a Al-’A’immah, terjadi karena empat faktor: Pertama, ijtihad. Menurut ia, seorang ulama tetap seorang mujtahid hingga ia berpulang dan ijtihad merupakan ibadah. Dengan kata lain, ijtihad harus tetap dilakukan meski hasilnya dapat berubah. Kedua, selepas bermukim di Mesir, Al-Syafi‘i tetap berhubungan dengan para ulama  Mesir dan menimba ilmu kepada mereka, antara lain dengan Al-Laits bin Sa‘ad. Sehingga, ilmu dan wawasannya kian berkembang. Ketiga, ketika berada di  Negeri Piramid, ia menyaksikan situasi dan kondisi praktis, ilmiah, dan sosial baru yang membuat pemahaman barunya muncul. Keempat, lewat pengalaman dan lingkungan baru, pikirannya kian matang dan luas. Sehingga, lahirlah pandangan dan pendapat barunya yang berbeda dengan pandangan dan pendapatnya ketika ia masih bermukim di Irak.
 
Di sini timbul pertanyaan: mengapa Imam Al-Syafi‘i, dalam kedudukannya sebagai seorang ulama terkemuka pada masanya, tidak pernah menerima tawaran atau menjabat hakim agung seperti halnya Imam Abu Yusuf atau Imam Ahmad bin Hanbal? 

Berkenaan dengan pertanyaan demikian, Mohd Daud Bakar, dalam sebuah tulisannya berjudul “A Note on Muslim Judges and the Professional Certificate” (Al-Qantara, vol. 20, no. 2, 1999), menjawab:

“Selama periode itu, banyak pakar fikih terkemuka tersedia. Tidak hanya di Baghdad. Akan tetapi juga, di provinsi-provinsi lain seperti di Madinah, Mesir, dan wilayah lainnya. Misalnya, jika Al-Laits bin Sa‘ad dan Imam Al-Syafi‘i (meninggal 204 H/820 M) berada di Mesir, Imam Malik bin Anas (meninggal 178 H/795 M) berada di Madinah. 

Cukup mengherankan, para ahli fikih terkemuka tersebut tidak dinominasikan untuk menduduki jabatan hakim di provinsi masing-masing. Namun, ada beberapa pakar  fikih terkemuka yang benar-benar dinominasikan untuk menempati jabatan hakim. Beberapa di antara mereka menolak tawaran itu, meski ada desakan dari khalifah,  seperti halnya dalam kasus Abu Hanifah (meninggal 150 H/767 M). Sedangkan beberapa pakar yang lain menerima penunjukan tersebut, seperti halnya dalam kasus Abu Yusuf, seorang murid paling menonjol Abu Hanifah.

Yang menjadi perhatian kami di sini adalah posisi Imam Al-Syafi‘i di Mesir. Reputasinya sebagai salah satu pakar terkemuka fikih tidak diragukan lagi. Namun, ia tidak pernah dicalonkan untuk menempati jabatan sebagai hakim agung. Sebaliknya, selama ia tinggal di Mesir, Lahfah bin ‘Isalah yang diangkat sebagai hakim agung Mesir (199-204 H/ 815-820 M). Padahal, informasi tentang biografi hakim agung tersebut tidak mengesankan seperti informasi mengenai biografi Al-Syafi‘i. 

Menurut banyak peneliti, di antara alasan-alasan yang menghalangi para calon untuk menerima tawaran itu adalah bahwa memegang jabatan tersebut akan membuat administrasi peradilan akan terlepas dari prinsip-prinsip keagamaan. Ini karena hakim yang ditunjuk khalifah akan bertabrakan dengan otoritas sekuler. Mungkin, karena alasan yang sama inilah Imam Al-Syafi‘i, yang dikenal sebagai tokoh yang tidak tertarik dengan jabatan itu, tidak ditawari jabatan tersebut. Jika tidak demikian, tentu Al-Syafi‘i akan menerima jabatan itu lebih awal. Ini didukung oleh pernyataan Al-Syirazi yang mengemukakan, atas nama seorang gurunya di bidang fikih, Abu Al-Thayyib Al-Thabari, bahwa Abu ‘Ali bin Khairan (meninggal 320 H/932 M) pernah menegur seorang ulama besar Mazhab Syafi‘i, Ibn Suraij, karena menerima jabatan itu, ‘Masalah ini tidak pernah diterima dengan sepenuh hati oleh para sahabat kami. Hal itu hanya lazim di kalangan para pengikut Abu Hanifah.’

Paparan ini, bagaimanapun, tampaknya bertentangan dengan paparan lain bahwa Imam Al-Syafi‘i sendiri telah membujuk Ahmad bin Hanbal supaya menerima jabatan hakim di Yaman pada masa Harun Al-Rasyid. Namun, Ahmad bin Hanbal menolak jabatan itu. Sebaliknya, Ahmad bin Hanbal dengan tegas menekankan bahwa alasan mengapa ia seiring pendapat dengan Al-Syafi‘i adalah untuk memeroleh ilmu pengetahuan dan tidak mencari jabatan. 

Tidak hanya itu. Ahmad bin Hanbal dituturkan juga menyatakan bahwa seandainya Al-Syafi i mengulangi tawaran yang sama untuk kedua kalinya, ia akan meninggalkan lingkaran  pengajaran Al-Syafi‘i dan mencari ulama fikih lain untuk mendalami fikih kepadanya. Karena tidak ada bukti yang dapat diandalkan mengenai alasan Al-Syafi‘i tidak ditunjuk sebagai hakim agung, penulis cenderung memandang kasus ini sebagai kasus luar biasa bagi Al-Syafi‘i: mungkin ia lebih memilih menjadi pakar fikih  hukum daripada menjadi hakim agung.”

Pesan Sebelum Berpulang

Kemudian, selepas menetap di Negeri Piramid selama sekitar enam tahun, akhir  perjalanan hidup Imam Al-Syafi‘i di dunia ini berakhir pada Jumat, 30 Rajab 204 H/20 Januari 820 M di Al-Qarafah Al-Shughra, Fusthath, Mesir di wilayah bagian tenggara Kota Kairo, pada usia sekitar 54 tahun selepas sakit ambeien akibat perjalanan jauh yang kerap ia lakukan.  Ia meninggalkan dua orang putra dan dua putri: Muhammad, Fathimah, Zainab, dan Muhammad.  

Ketika Imam Al-Syafi‘i menjelang berpulang, salah seorang sahabatnya, Abu Ibrahim Isma‘il bin Yahya Al-Muzani bertandang ke tempat tinggal Imam Al-Syafi‘i yang dalam keadaan sakit dan bertanya kepada sahabatnya itu, “Bagaimana keadaan Tuan Guru kini?”
“Saya akan berangkat meninggalkan dunia,” jawab Imam Al-Syafi‘i. “Saya akan berpisah dengan saudara-saudara, bertemu dengan keburukan amal saya, meminum gelas kemarin, dan datang kepada Allah Swt. Saya tidak tahu, apakah ruh saya akan menuju surga, sehingga saya akan merasa nyaman di dalamnya. Atau ruh saya akan menuju neraka, sehingga saya akan mengucapkan duka cita saya kepadanya.

Usai menjawab demikian, Imam Al-Syafi‘i lantas melantunkan sebuah madah:

Kala kesat mewarnai kalbu dan kepicikan menyergap pemikiranku
Keinginan ‘tuk meraih maaf-Mu pun kian menggebu
Duh, betapa besar dosa-dosa telah membelenggu diriku
Kala kubandingkan dengan maaf-Mu, betapa sangat agung maaf-Mu

Memberikan ampunan atas dosa, Engkau senantiasa membuka diri
Itu semua merupakan kemurahan dan karunia-Mu yang tak terkira
Andai bukan karena Engkau, terhadap Iblis orang tekun beribadah pun tak kan kuasa menahan diri
Bukankah Adam, pilihan-Mu, terhadap ajakan Iblis pernah terpedaya.

Berkenaan dengan jasa dan peran Imam Al-Syafi‘i di bidang hukum Islam, Joseph A. Kechichian, dalam sebuah tulisannya berjudul “Unifying force in Islamic Jurisprudence” (Gulf News), mengemukakan:
 
“Al-Syafi‘i mengembangkan ilmu yang memadukan sumber-sumber yang diungkapkan dalam Islam-Alquran dan juga hadis yang dirujukkan kepada Nabi Saw.-dengan alasan manusiawi untuk merancang sistem hukum yang fungsional. Tiga Imam Sunni lainnya berusaha melakukan sistematisasi serupa terhadap syariah, dengan tujuan untuk menyiptakan institusi yang menyatukan umat Islam. 

Sangat menarik untuk dicatat, keempat mazhab fikih Sunni memertahankan tradisi mereka dalam kerangka yang dipancangkan Al-Syafi‘i, dan meski ia memberikan namanya kepada salah satu dari mazhab-mazhab, namun ia tidak meremehkan tiga mazhab lainnya. Kaum Muslim di Indonesia, Malaysia, India, Sri Lanka, Singapura, Maladewa, Filipina, Brunei, Somalia, Djibouti, Ethiopia, Eritrea, Kenya, Tanzania, serta di Mesir, Sudan, Suriah, Palestina, Yordania, Turki (utamanya kaum Tatar dan Kurdi yang melaksanakan shalat sesuai dengan mazhabnya), dan Yaman, semua mengikuti ketentuan yang tertuang dalam fikih mazhabnya, seperti halnya sebagian besar ulama hadis, termasuk Al-Nasa’i, Al-Bukhari, Ibn Khuzaimah, Al-Hakim, Al-Daraquthni, Al-Baihaqi, dan lain-lainnya. Selama berabad-abad, para ulama terkemuka di bidang ilmu kalam, termasuk Abu Al-Hasan Al-Asy‘ari, Al-Junaid, dan Al-Muhasibi, mengikuti Mazhab Syafi‘i, senantiasa berusaha mengabadikan pendekatannya yang cermat.”

Kini, di manakah makam Imam yang memiliki para pengikut yang tersebar, antara lain, di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura, Filipina selatan, Thailand selatan, dan Kamboja), Mesir selatan, Suriah, Kurdistan, Yaman, Bahrain, dan beberapa negara Afrika ini?

Jenazah Imam yang satu ini berada di area pemakaman Al-Qarafa, Distrik Al-Khalifa, Kairo. Berkaitan dengan makam Al-Syafi‘i, Musthafa Abd Rahman, dalam sebuah tulisannya berjudul “Berziarah ke Makam Imam Syafi‘i” (Kompas, Sabtu, 8 Mei 2021), mengemukakan:

“Adalah Shalahuddin Al-Ayyubi yang pertama membangun komplek makam Imam Syafi‘i (1176-1178 M), sebagai bentuk rasa hormat kepada Imam Syafi‘i... Adapun komplek Imam Syafi‘i yang berdiri sekarang dengan kubah kayu yang dilapisi timah dan sangat artistik, dibangun oleh Dinasti Ayyubiyah kelima, Sultan Kamil Muhammad, pada 1211 Masehi. Di atas kubah itu terdapat hiasan perahu kecil. Kubah dengan bahan katu itu merupakan satu-satunya di Mesir. Hiasan perahu kecil di atas kubah itu disebut sebagai simbul keluasan ilmu Imam Syafi‘i. 

Komplek makam Imam Syafi‘i mengalami beberapa kali renovasi dari masa ke masa. Renovasi pertama dilakukan oleh Sultan Al-Nashir Muhammad dari Dinasti Mamluk (1310-1340  M). Sultan Qaitbay juga melakukan renovasi atas komplek makam Imam Syafi‘i pada tahun 1410 M dan Sultan Al-Ghuri pada tahun 1516 M.

Pada era kekuasaan Dinasti Usmaniyah di Mesir, Abdel Rahman Katkhuda membangun masjid di samping komplek makam Imam Syafi‘i. Pada tahun 1772 Masehi dilakukan renovasi lagi oleh Ali Beik Al-Kabir. Renovasi terakhir dilakukan oleh Khedive Tawfik pada tahun  1891 M-1892 M.” 

Lewat perjalanan hidup yang relatif pendek, 54 tahun, Imam Al-Syafi‘i memberikan pelajaran indah kepada kita: tidak mudah patah semangat ketika menimba ilmu, cerdas dan moderat dalam menghadapi setiap persoalan, hidup sederhana meski memiliki kesempatan untuk hidup berkecukupan, dan berakhlak mulia kepada siapa saja.@ru